Italia vs Belgia: Era Baru Mancini dan Van Bommel Dibuka di UEFA Nations League 2026

Niklaas Andries • Dipublikasikan Jumat, 25 September 2026 | 15:45 WIB
ERA BARU: Mancini akan pimpin Italia hadapi Belgia di laga awal UEFA Nations League (FIGC)
ERA BARU: Mancini akan pimpin Italia hadapi Belgia di laga awal UEFA Nations League (FIGC)

RADARBANYUWANGI.ID – Italia dan Belgia sama-sama memasuki babak baru setelah pergantian pelatih. Kedua raksasa Eropa itu akan membuka perjalanan di UEFA Nations League 2026-2027 dengan duel Liga A Grup 1 di Stadio Olimpico, Jumat malam waktu setempat.

Pertandingan ini menjadi ujian pertama bagi Roberto Mancini setelah kembali menangani Italia. Di kubu Belgia, Mark van Bommel juga akan menjalani debut kompetitifnya bersama generasi baru Red Devils.

Kedua tim tergabung di grup yang cukup berat bersama Prancis dan Turki. Artinya, hasil laga pembuka di Roma bisa menjadi modal penting sebelum mereka menjalani tiga pertandingan lainnya dalam kurun sekitar dua pekan.

Mancini Kembali, Italia Memulai Proses Regenerasi

Italia datang ke pertandingan ini dengan pekerjaan rumah besar. Kegagalan lolos ke Piala Dunia untuk kali ketiga secara beruntun membuat Gli Azzurri harus kembali membangun fondasi tim nasional.

Italia sebelumnya gagal menjadi juara grup kualifikasi setelah kalah bersaing dengan Norwegia. Mereka kemudian melewati semifinal playoff melawan Irlandia Utara, tetapi langkah menuju Piala Dunia kembali terhenti setelah kalah dramatis dalam adu penalti dari Bosnia-Herzegovina. Kegagalan tersebut membuat Gennaro Gattuso kehilangan pekerjaannya.

Setelah sempat ditangani pelatih tim muda Silvio Baldini, federasi akhirnya memilih Mancini sebagai sosok yang dipercaya memimpin proses pembangunan kembali tim. Mancini bukan nama asing bagi Italia. Ia pernah membawa Gli Azzurri menjuarai Euro 2020 sebelum meninggalkan tim nasional dan melanjutkan karier di Arab Saudi.

Kini, tiga tahun setelah kepergiannya, Mancini kembali dengan target jangka panjang menuju Piala Eropa berikutnya. Ia pun mulai membuka pintu bagi pemain-pemain baru. Dari 34 pemain yang dipanggil, terdapat sejumlah wajah yang belum banyak memiliki pengalaman di level internasional.

Sebelumnya, Baldini juga sempat memberi kesempatan kepada pemain muda dalam dua laga persahabatan pascamusim. Italia menang 1-0 atas Luksemburg dan Yunani. Namun, menghadapi Belgia tentu merupakan ujian dengan tingkat kesulitan berbeda.

Belgia Juga Memulai Era Van Bommel

Situasi serupa terjadi di kubu Belgia. Rudi Garcia harus meninggalkan kursi pelatih meski sebelumnya berhasil membawa Belgia mencapai perempat final Piala Dunia. Langkah mereka terhenti setelah kalah tipis dari Spanyol yang kemudian keluar sebagai juara.

Federasi Belgia lalu menunjuk Mark van Bommel sebagai pengganti. Mantan pelatih PSV Eindhoven, Wolfsburg, dan Antwerp tersebut langsung menghadapi jadwal yang berat. Setelah bertandang ke Roma, Belgia harus menghadapi Prancis dua kali dan menjamu Turki.

Van Bommel tetap memiliki sejumlah pemain senior sebagai fondasi. Kevin De Bruyne dan Romelu Lukaku masih menjadi bagian penting skuad. Di saat bersamaan, regenerasi mulai berjalan. Belgia juga membawa sejumlah pemain muda yang berpotensi menjadi bagian penting masa depan tim.

Menariknya, rekor Belgia menjelang kekalahan dari Spanyol cukup impresif. Mereka sempat melewati 18 pertandingan tanpa kekalahan. Namun, menghadapi Italia selalu menjadi tantangan tersendiri. Gli Azzurri memenangi empat dari lima pertemuan terakhir kedua tim.

Dalam sejarah Nations League, Belgia juga belum memiliki catatan panjang di fase akhir. Mereka baru sekali mencapai putaran final, yakni pada 2021 ketika finis di posisi keempat. Italia sendiri pernah mencapai semifinal pada 2023 dan perempat final pada 2025.

Duel Roma Bisa Berjalan Hati-Hati

Secara performa terkini, Italia mencatat enam pertandingan terakhir dengan empat kemenangan dan dua kekalahan.

Belgia sedikit lebih stabil dalam periode yang sama dengan tiga kemenangan, dua hasil imbang, dan satu kekalahan. Namun, perubahan pelatih membuat statistik tersebut tidak serta-merta menjadi gambaran kondisi terbaru kedua tim.

Mancini harus memperkenalkan pendekatan baru kepada skuad yang juga mengalami regenerasi. Van Bommel menghadapi persoalan serupa. Karena itu, laga di Olimpico berpotensi berlangsung dengan tempo yang tidak langsung tinggi. Kedua tim mungkin membutuhkan waktu untuk menemukan struktur permainan yang diinginkan pelatih baru.

Italia Kehilangan Bastoni hingga Locatelli

Italia dipastikan tidak turun dengan kekuatan penuh. Alessandro Bastoni harus absen karena skorsing. Sementara Federico Dimarco, Bryan Cristante, dan kapten Juventus Manuel Locatelli menepi akibat cedera.

Mancini juga tidak memanggil Mateo Retegui. Persaingan di lini depan pun terbuka antara Moise Kean, Gianluca Scamacca, serta dua bersaudara Sebastiano dan Pio Esposito.

Pio Esposito menjadi salah satu kandidat menarik untuk tampil sejak menit pertama. Sejak melakukan debut pada kualifikasi Piala Dunia 2026, penyerang tersebut telah mencetak lima gol dalam sembilan penampilan internasional.

Performanya bersama Inter Milan juga menjadi modal tambahan. Di lini lain, Mancini membawa beberapa nama baru. Alessandro Romano memilih membela Italia setelah sebelumnya mendapat kesempatan untuk memperkuat Swiss. Michael Kayode juga menjadi salah satu pemain yang menarik perhatian setelah tampil konsisten bersama Brentford.

Ada pula Mohamed Ali Zoma yang sebelumnya bermain di 2. Bundesliga bersama Nurnberg. Gianluigi Donnarumma tetap menjadi penjaga gawang sekaligus kapten. Pada usia 27 tahun, kiper tersebut sudah mengoleksi 83 caps bersama Italia.

Belgia Kehilangan Beberapa Pemain Berpengalaman

Belgia juga memiliki sejumlah persoalan di skuad. Axel Witsel telah pensiun dari sepak bola internasional. Kiper Mats Selz juga tidak lagi memperkuat tim nasional.

Thibaut Courtois memilih mengambil jeda dari timnas setelah periode panjang yang terganggu masalah cedera. Kondisi tersebut membuka persaingan di bawah mistar antara Senne Lammens, Mike Penders, Maarten Vandevoordt, dan Jari De Busser.

Andre Onana juga tidak tersedia karena cedera jangka panjang yang dialaminya di Piala Dunia. Leandro Trossard turut absen, sedangkan Jeremy Doku belum masuk skuad setelah baru kembali bermain pekan lalu.

Sebaliknya, Van Bommel memiliki sejumlah pemain muda yang bisa menjadi kejutan. Mika Godts, winger Paris Saint-Germain yang menjadi pencetak gol terbanyak kedua Eredivisie musim lalu, termasuk salah satu nama yang patut diperhatikan.

Romeo Lavia juga berpeluang tampil di lini tengah. Malick Fofana dan Matias Fernandez-Pardo, yang baru merasakan atmosfer Premier League, bisa mendapat kesempatan. Youri Tielemans dipercaya mengenakan ban kapten.

Perkiraan Susunan Pemain

Italia (4-3-3): Donnarumma; Kayode, Mancini, Scalvini, Calafiori; Barella, Tonali, Frattesi; Inacio, P. Esposito, Raspadori.

Belgia: Lammens; Castagne, De Winter, Theate, De Cuyper; Tielemans, Lavia; Lukebakio, De Bruyne, Godts; Lukaku.

Prediksi skor: Italia 1-1 Belgia.

Pertandingan di Roma berpotensi menjadi duel yang berjalan hati-hati. Kedua pelatih sama-sama membutuhkan waktu untuk menerapkan gagasan mereka. Italia memiliki keuntungan bermain di kandang, tetapi Belgia membawa kombinasi pemain senior dan talenta muda yang cukup menjanjikan.

Dengan kondisi tersebut, pertandingan diperkirakan berlangsung ketat dan minim ruang. Hasil imbang akan membuat kedua tim mengawali perjalanan Nations League dengan satu poin, sebelum menghadapi rangkaian pertandingan berat melawan Prancis dan Turki. (*)

 

Editor : Niklaas Andries
Sumber : Radar Banyuwangi
roberto mancini Nations League 2026-2027 Italia vs Belgia Mark van Bommel Prediksi Italia vs Belgia