Utang Barcelona Membengkak Rp53 Triliun, Camp Nou Jadi Beban Besar

Niklaas Andries • Dipublikasikan Rabu, 23 September 2026 | 13:40 WIB
BEBAN NAIK: Utang Barcelona membengkak (Barcelona)
BEBAN NAIK: Utang Barcelona membengkak (Barcelona)

RADARBANYUWANGI.ID - Di lapangan, FC Barcelona sedang menikmati awal musim yang nyaris sempurna. Namun di balik senyum para pemain dan pendukungnya, ada persoalan yang belum juga selesai: keuangan.

Utang Barcelona kini berpotensi menembus 2,6 miliar euro atau sekitar Rp53 triliun. Angka itu kembali membesar setelah para anggota klub menyetujui paket pembiayaan baru senilai 510 juta euro atau sekitar Rp10,4 triliun untuk penyelesaian proyek Espai Barça dan kebutuhan operasional klub.

Dengan demikian, kisah Barcelona kini seperti memiliki dua papan skor. Papan pertama menunjukkan hasil yang menggembirakan. Papan kedua menunjukkan angka utang yang terus bergerak naik.

Di atas rumput, Barcelona memulai musim dengan tujuh kemenangan beruntun di Liga Spanyol. Tim asuhan Hansi Flick juga membuka kiprah di Liga Champions dengan kemenangan telak 5-1 atas Feyenoord. Tetapi di ruang rapat, pekerjaan rumahnya jauh lebih berat.

Rp10,4 Triliun Dana Baru untuk Barcelona Majelis anggota Barcelona pada September 2026 menyetujui tambahan pembiayaan sebesar 510 juta euro.

Dari jumlah tersebut, 300 juta euro atau sekitar Rp6,12 triliun dialokasikan untuk menyelesaikan pekerjaan Spotify Camp Nou. Sementara 210 juta euro atau sekitar Rp4,28 triliun digunakan untuk kebutuhan likuiditas dan dampak finansial akibat keterlambatan proyek. Persetujuan itu bukan sekadar tambahan dana untuk membangun stadion.

Ia juga menjadi tanda bahwa proyek Espai Barça membutuhkan biaya jauh lebih besar dibanding rencana awal. Total anggaran proyek kini mencapai sekitar 1,8 miliar euro atau Rp36,7 triliun. Nilai tersebut kira-kira tiga kali lipat dari angka yang disetujui pada 2014. Ada cerita panjang di balik angka itu.

Pekerjaan renovasi Camp Nou dimulai pada Mei 2023. Barcelona kemudian harus memainkan pertandingan kandang di Estadi Olímpic Lluís Companys, Montjuïc. Perpindahan stadion itu bukan tanpa biaya.

Menurut Barcelona, selama dua musim bermain di Montjuïc, klub mengeluarkan hampir 17 juta euro atau Rp347 miliar untuk biaya operasional dan sekitar 24 juta euro atau Rp490 miliar untuk investasi terkait periode tersebut.

Masalah berikutnya adalah waktu. Pemasukan besar yang diharapkan dari Camp Nou belum bisa dinikmati secara penuh karena stadion belum beroperasi dengan kapasitas maksimal.

Utang Barcelona Bisa Mencapai Rp54,7 Triliun

Perhitungan The Athletic yang dikutip sejumlah media Spanyol menyebut total kewajiban pembiayaan Barcelona dapat mencapai sekitar 2,68 miliar euro, atau sekitar Rp54,7 triliun, bergantung pada struktur dan waktu jatuh tempo pembayarannya.

Sekitar 1,8 miliar euro atau Rp36,7 triliun berkaitan dengan pembangunan stadion. Sisanya terkait kebutuhan finansial klub. Di sinilah persoalannya menjadi lebih rumit.

Pembiayaan stadion memiliki logika yang relatif jelas. Barcelona berharap Camp Nou yang selesai direnovasi akan menghasilkan pendapatan besar dan kemudian membantu membayar utang tersebut.

Namun, dana 210 juta euro yang diperoleh melalui penerbitan Media Notes digunakan untuk menopang kebutuhan kas. Pembiayaan itu dijamin oleh pendapatan audiovisual Barcelona pada masa mendatang. Artinya, sebagian pemasukan masa depan sudah memiliki tujuan sebelum uang tersebut benar-benar masuk ke rekening klub.

Barcelona juga tidak mendapatkan uang itu secara cuma-cuma. Pada musim 2025-2026, klub membayar sekitar 91 juta euro atau Rp1,86 triliun untuk bunga. Salah satu penerbitan baru senilai 105 juta euro memiliki bunga tetap 5,14 persen.

Camp Nou Harus Menjadi Mesin Uang

Di balik semua angka tersebut terdapat satu taruhan besar, Camp Nou. Barcelona ingin stadion baru itu bukan hanya menjadi tempat pertandingan, tetapi juga mesin pendapatan klub.

Proyeksi Barcelona menyebut pendapatan klub dapat meningkat menjadi lebih dari 1,45 miliar euro atau sekitar Rp29,6 triliun pada musim 2030-2031. EBITDA diproyeksikan menembus 370 juta euro atau Rp7,55 triliun, dibandingkan proyeksi 184 juta euro atau sekitar Rp3,75 triliun pada 2025-2026. Targetnya jelas.

Camp Nou harus menghasilkan uang yang cukup besar untuk membantu Barcelona keluar dari tekanan finansial. Namun, jalan menuju titik itu belum selesai.

Barcelona dijadwalkan kembali ke Montjuïc pada musim 2027-2028 untuk pekerjaan pemasangan atap stadion. Setelah itu, kapasitas Camp Nou akan terus dinaikkan secara bertahap hingga mencapai 105.000 penonton. Dengan kata lain, klub masih harus melewati fase pengeluaran sebelum menikmati fase pemasukan secara penuh.

Masalah Barcelona Bukan Hanya Utang

Ada persoalan lain yang ikut membayangi. Barcelona menutup musim 2025-2026 dengan ekuitas negatif sekitar 168 juta euro atau Rp3,43 triliun. Angka tersebut memburuk dibandingkan 153 juta euro pada periode sebelumnya.

Klub juga telah melepas sebagian pendapatan televisinya untuk memperoleh ruang finansial. Sebanyak 25 persen pendapatan hak siar LaLiga telah dijual kepada Sixth Street.

Situasi tersebut menunjukkan bagaimana Barcelona selama beberapa tahun terakhir menggunakan berbagai instrumen finansial untuk mendapatkan ruang gerak. Tetapi ada sisi lain yang perlu dicatat.

Barcelona tetap memiliki aset dan kekuatan komersial yang sangat besar. Klub menyebut nilai mereknya tinggi, sementara Morningstar DBRS mempertahankan peringkat kredit Barcelona pada level BBB pada Juli 2026 dan memperkirakan profil keuangan klub dapat membaik seiring beroperasinya penuh Camp Nou.

Jadi, persoalannya bukan semata-mata apakah Barcelona mempunyai aset. Persoalannya adalah bagaimana aset dan pendapatan masa depan itu mampu mengimbangi beban pembiayaan yang sudah berjalan. Camp Nou Menjadi Kunci Masa Depan Barça

Inilah paradoks Barcelona.

Tim sepak bolanya sedang memberikan alasan kepada pendukung untuk tersenyum. Hansi Flick membawa Barcelona melaju dengan cepat pada awal musim. Namun, di balik layar, klub masih menjalankan proyek finansial terbesar dalam sejarahnya. Camp Nou menjadi pusat dari semuanya.

Jika stadion selesai dan mampu menghasilkan pendapatan sesuai proyeksi, Barcelona memiliki sumber pemasukan baru yang jauh lebih besar. Barcelona sendiri memperkirakan kapasitas pendapatan stadion akan meningkat seiring bertambahnya kapasitas penonton dan operasional komersial. Tetapi sebelum sampai ke sana, klub harus terlebih dahulu membayar harga pembangunan stadion tersebut.

Maka, cerita Barcelona musim ini bukan hanya tentang tujuh kemenangan di Liga Spanyol atau kemenangan 5-1 di Liga Champions.

Ada angka lain yang jauh lebih panjang. Rp53 triliun lebih. Itulah perkiraan beban utang yang kini mengikuti langkah Barcelona menuju Camp Nou baru. Di lapangan, Barça sedang berlari. Di ruang keuangan, klub masih harus mengejar ketertinggalan. (*)

 

Editor : Niklaas Andries
Sumber : Radar Banyuwangi
utang Barcelona Espai Barça keuangan Barcelona barcelona camp nou