RADARBANYUWANGI.ID – Liga Europa menghadirkan pertemuan menarik ketika Omonia menjamu Celta Vigo pada Rabu. Dua klub ini datang dengan cerita yang berbeda, tetapi memiliki satu masalah yang sama: produktivitas di depan gawang belum meyakinkan.
Omonia harus melewati jalan panjang sebelum sampai ke fase liga. Setelah gagal melanjutkan kiprah di kualifikasi Liga Champions, klub Siprus itu bangkit di jalur Liga Europa.
Celta Vigo justru datang dengan status tim yang sudah lebih berpengalaman di kompetisi Eropa. Namun, modal itu belum cukup untuk membuat mereka percaya diri. Tim asal Galicia tersebut belum sekalipun menang dalam lima pertandingan pertama La Liga musim ini. Di atas kertas, Celta memang lebih diunggulkan. Tetapi sepak bola tidak selalu tunduk kepada hitungan di atas kertas.
Omonia dan keuntungan bermain di kandang Omonia memulai perjalanan Eropa musim ini dari kualifikasi Liga Champions setelah menjadi juara Divisi Utama Siprus musim lalu.
Langkah mereka terhenti pada putaran kedua. Kairat Almaty menyingkirkan Omonia melalui adu penalti. Kegagalan itu tidak membuat pasukan Henning Berg kehilangan arah. Mereka kemudian melewati dua babak kualifikasi Liga Europa.
Omonia menyingkirkan Lincoln Red Imps dengan agregat 2-1, sebelum mengalahkan klub Belgia Sint-Truiden 4-2 secara agregat. Hasil tersebut memastikan Omonia kembali tampil di fase utama Liga Europa untuk pertama kalinya sejak musim 2022-2023.
Ada satu angka yang menarik.
Omonia memenangi seluruh tiga pertandingan Eropa yang mereka mainkan di kandang musim ini. Itulah senjata utama mereka ketika Celta datang ke Siprus.
Namun, performa domestik Omonia sedang tidak stabil. Dalam empat pertandingan kompetitif terakhir, mereka hanya meraih satu kemenangan, ditambah dua hasil imbang dan satu kekalahan. Lebih mengkhawatirkan lagi, Omonia gagal mencetak gol dalam tiga pertandingan di periode tersebut.
Tetapi ada sisi lain yang tidak boleh diabaikan: mereka juga hanya kebobolan satu gol dalam empat laga itu. Artinya, masalah Omonia bukan semata-mata pertahanan. Persoalannya lebih sederhana sekaligus lebih sulit, bagaimana mengubah organisasi permainan yang rapat menjadi gol?
Celta Vigo membawa masalah yang berbeda
Celta kembali ke Liga Europa setelah mengakhiri La Liga 2025-2026 di posisi keenam.Musim lalu mereka mampu melangkah hingga perempat final sebelum dihentikan Freiburg, yang kemudian menjadi runner-up. Target musim ini tentu lebih tinggi. Namun, awal perjalanan Celta justru seperti mobil yang mesinnya hidup tetapi belum bergerak cepat.
Lima pertandingan pertama La Liga belum menghasilkan kemenangan. Setelah hanya mendapatkan satu poin dari tiga pertandingan awal, Celta kemudian tiga kali berturut-turut bermain imbang. Terakhir, mereka ditahan Malaga 1-1 di kandang sendiri.
Ferran Jutgla sempat membawa Celta unggul pada babak pertama. Tetapi gol Adrian Nino pada menit ke-83 menggagalkan kemenangan yang sudah berada di depan mata. Celta kini berada di posisi ke-15.
Ada pola yang cukup jelas dari enam pertandingan liga mereka. Celta belum pernah mencetak lebih dari satu gol dalam satu pertandingan. Itulah titik yang harus diperhatikan Omonia.
Sebaliknya, Celta juga memiliki alasan untuk optimistis. Omonia belum pernah menang dalam empat pertemuan sebelumnya melawan klub Spanyol di Liga Europa. Namun, statistik itu adalah cerita masa lalu. Pertandingan kali ini dimainkan dengan kondisi yang berbeda.
Aspas absen, Celta kehilangan otak permainan
Celta mendapat pukulan penting sebelum pertandingan. Legenda klub, Iago Aspas, dipastikan tidak ikut terbang ke Siprus setelah mengalami cedera paha ketika menghadapi Malaga. Absennya Aspas bukan sekadar kehilangan seorang penyerang. Ia adalah pemain yang selama bertahun-tahun menjadi salah satu pusat kreativitas Celta.
Selain Aspas, kondisi Andres Antonon, Aleix Febas, Jones El-Abdellaoui, dan Borja Iglesias juga masih diragukan. Pelatih Claudio Giraldez kemungkinan melakukan rotasi. Carl Starfelt, Javi Galan, dan Williot Swedberg berpeluang masuk starting XI.
Omonia juga memiliki masalah cedera. Fotis Kitsos dan Carel Eiting masih menjalani pemulihan cedera lutut. Luuk Brouwers berpeluang mendapatkan kesempatan menjadi starter setelah tampil sebagai pemain pengganti pada babak kedua akhir pekan lalu.
Di lini depan, Lois Diony menjadi ancaman utama. Striker tersebut sudah mencetak empat gol selama kualifikasi Liga Europa. Jika Celta lengah, Diony bisa menjadi pemain yang menentukan pertandingan.
Lima duel taktik yang bisa menentukan pertandingan
1. Lois Diony vs lini belakang Celta
Diony adalah sumber gol utama Omonia di Eropa. Celta harus mencegah striker tersebut menerima bola dengan ruang yang cukup di sekitar kotak penalti.
Jika bek Celta terlalu maju, Diony dapat menyerang ruang di belakang garis pertahanan.
2. Sayap Omonia vs wing-back Celta
Celta berpotensi menggunakan struktur tiga bek dengan wing-back yang agresif. Ini memberi mereka keunggulan jumlah pemain ketika membangun serangan.
Tetapi konsekuensinya jelas: ruang di belakang wing-back bisa terbuka. Omonia perlu menyerang ruang tersebut dengan cepat, terutama ketika Celta kehilangan bola.
3. Moriba dan Roman vs lini tengah Omonia
Celta membutuhkan kendali di tengah. Moriba dan Roman dapat menjadi penghubung antara pertahanan dan lini depan.
Jika Omonia berhasil memutus jalur umpan pertama Celta, tim Spanyol itu akan dipaksa bermain lebih banyak melalui bola panjang.
4. Jutgla tanpa Aspas
Ini mungkin duel taktik paling penting bagi Celta. Jutgla sedang membawa kepercayaan diri setelah mencetak gol melawan Malaga. Tetapi tanpa Aspas, beban kreativitas Celta akan semakin berat. Omonia kemungkinan lebih berani menutup ruang di antara lini tengah dan pertahanan.
5. Bola mati Omonia
Ketika pertandingan berjalan ketat dan peluang terbuka sedikit, sepak pojok serta tendangan bebas bisa menjadi pembeda.
Omonia memiliki pengalaman dari babak kualifikasi. Dengan dukungan publik sendiri, mereka kemungkinan tidak akan terburu-buru memainkan sepak bola terbuka.
Prediksi skor: Omonia 1-1 Celta Vigo.
Pertandingan ini berpotensi berjalan lebih ketat daripada yang terlihat di atas kertas. Celta memiliki kualitas dan pengalaman Eropa yang lebih baik. Tetapi performa mereka di awal musim belum menunjukkan konsistensi.
Omonia memiliki keuntungan lain: kandang. Mereka memenangkan tiga pertandingan Eropa di kandang musim ini dan memiliki pertahanan yang cukup solid. Persoalannya adalah produktivitas.
Karena itu, pertandingan kemungkinan ditentukan oleh siapa yang lebih dulu memecahkan kebuntuan.
Celta membutuhkan kemenangan untuk mengangkat kepercayaan diri. Omonia membutuhkan poin untuk membuktikan bahwa keberhasilan melewati dua babak kualifikasi bukan kebetulan.
Celta kemungkinan mampu mencetak gol, tetapi sulit berharap mereka tiba-tiba berubah menjadi tim yang produktif setelah dalam enam pertandingan La Liga belum pernah mencetak lebih dari satu gol.
Satu poin mungkin bukan hasil ideal bagi Celta. Tetapi di Siprus, dalam kondisi tanpa Aspas dan dengan performa yang belum stabil, hasil imbang bisa menjadi pijakan pertama untuk bangkit. (*)
Editor : Niklaas Andries
Sumber : Radar Banyuwangi