RADARBANYUWANGI.ID – Anfield akan menjadi tempat pulangnya seorang mantan pemain. Bukan sebagai tuan rumah, melainkan sebagai lawan.
Andrew Robertson kembali ke stadion yang selama sembilan tahun menjadi rumahnya. Kali ini bek kiri tersebut datang dengan seragam Tottenham Hotspur untuk menghadapi Liverpool pada putaran ketiga EFL Cup, Selasa.
Pertandingan ini seharusnya menjadi panggung besar bagi dua klub yang sama-sama sedang mencari jawaban. Liverpool baru saja ditahan Fulham tanpa gol di Premier League. Tottenham mengalami nasib serupa ketika bermain imbang 0-0 melawan Everton. Bedanya, tekanan yang mengelilingi kedua tim terasa tidak sama.
Liverpool masih menjaga start tanpa kekalahan. Namun, enam poin dari empat pertandingan liga membuat posisi mereka belum mencerminkan ambisi sebagai kandidat juara. Sementara Tottenham justru berada dalam situasi jauh lebih genting.
Spurs baru mengoleksi dua poin dari empat pertandingan. Mereka bahkan belum mencetak satu gol pun di Premier League musim ini. Itulah yang membuat pertandingan di Anfield menjadi lebih dari sekadar pertandingan piala.
Liverpool Butuh Respons, Bukan Sekadar Rotasi
Andoni Iraola kemungkinan besar melakukan perubahan besar dalam susunan pemain. Jadwal padat mulai menunjukkan dampaknya.
Liverpool terlihat kehabisan tenaga ketika menghadapi Fulham. Intensitas permainan yang dituntut Iraola tidak mudah dipertahankan ketika tim harus bermain tiga kali dalam sepekan. Masalahnya bukan hanya fisik.
Lini tengah Liverpool juga belum memberikan rasa aman. Florian Wirtz, Dominik Szoboszlai, dan Ryan Gravenberch kembali gagal memberikan pengaruh yang diharapkan. Kekhawatiran terbesar berada pada fungsi penghubung permainan.
Liverpool membutuhkan pemain yang mampu menerima bola dari lini belakang, membawa permainan melewati tekanan pertama lawan, sekaligus menjadi jangkar ketika kehilangan bola.
Jika fungsi tersebut tidak berjalan, Liverpool bisa terlihat dominan dalam penguasaan bola tetapi kehilangan ketajaman ketika memasuki sepertiga akhir lapangan. Padahal, Anfield musim ini belum sepenuhnya menjadi benteng.
Liverpool baru sekali menang dalam tiga pertandingan kandang musim ini. Kemenangan itu memang istimewa, 2-1 atas Atletico Madrid di Liga Champions pada 9 September, tetapi mereka hanya mencetak empat gol dan kebobolan tiga kali dalam tiga laga kandang. Karena itu, EFL Cup menjadi kesempatan untuk menguji kedalaman skuad.
Liverpool memang mempunyai target lebih besar di Premier League dan Liga Champions. Namun, reputasi mereka di kompetisi ini membuat EFL Cup sulit diperlakukan sebagai pertandingan sambil lalu. Mereka memburu gelar ke-11.
Tottenham: Masalahnya Sudah di Depan Gawang
Tottenham datang dengan persoalan yang lebih sederhana sekaligus lebih serius: mereka tidak mencetak gol.
Empat pertandingan Premier League, dua kali kalah dan dua kali imbang. Tidak ada satu pun gol. Dua poin. Posisi ke-17. Itu merupakan start terburuk Tottenham dalam sejarah Premier League dari sisi jumlah gol yang dicetak pada awal musim.
Situasinya menjadi lebih mengkhawatirkan karena Roberto De Zerbi disebut mempunyai pengaruh besar dalam aktivitas transfer musim panas. Tottenham bahkan menghabiskan hampir £350 juta dalam satu jendela transfer.
Dengan investasi sebesar itu, posisi ke-17 tentu bukan sesuatu yang mudah diterima. Mateus Fernandes dan Sandro Tonali berpotensi mendapat kesempatan sejak awal. De Zerbi juga mungkin menurunkan komposisi yang lebih kuat dibanding laga piala pada umumnya.
Sebab, pertandingan ini datang ketika tekanan kepada sang pelatih sedang meningkat. Robertson Jadi Cerita Lain Ada satu cerita yang membuat pertandingan ini lebih emosional, Robertson.
Bek asal Skotlandia itu menghabiskan sembilan tahun di Liverpool, dari 2017 hingga 2026. Ia meninggalkan Anfield dengan status bebas transfer. Kini ia kembali. Tidak sulit membayangkan sambutan yang akan diterimanya.
Robertson mengenal stadion, ruang ganti, atmosfer, dan karakter pertandingan Liverpool. Pengetahuan itu bisa menjadi keuntungan kecil bagi Tottenham. Namun, ia juga menghadapi tantangan besar.
Jika Liverpool mampu membuat sisi kanan mereka aktif melalui Jeremie Frimpong, Robertson harus bekerja keras menjaga area yang dahulu menjadi wilayahnya sendiri. Pedro Porro masih diragukan setelah mengalami masalah otot. Karena itu, Archie Gray kemungkinan kembali mengisi posisi bek kanan.
Lima Duel Taktik yang Bisa Menentukan Pertandingan
1. Trey Nyoni vs lini tengah Tottenham
Nyoni kemungkinan mendapatkan kesempatan dari awal. Tantangannya bukan sekadar menguasai bola, melainkan menjaga sirkulasi Liverpool tetap hidup.
Jika Tottenham menekan tinggi, Nyoni harus mampu menemukan ruang di belakang gelandang pertama Spurs.
2. Frimpong vs Robertson
Ini duel yang menarik secara cerita maupun taktik. Frimpong memiliki karakter menyerang yang agresif. Robertson lebih berpengalaman dalam membaca situasi bertahan. Liverpool bisa menjadikan sisi kanan sebagai jalur utama untuk memaksa Robertson terus mundur.
3. Wirtz dan Koumas mencari ruang antarlini
Liverpool membutuhkan pemain yang mampu bermain di antara lini tengah dan pertahanan Tottenham.
Jika Koumas digunakan sebagai nomor 10, ia bisa menjadi pemain yang bergerak di ruang tersebut. Masalahnya, ruang itu hanya akan terbuka jika Liverpool mampu menarik dua gelandang Spurs keluar dari posisinya.
4. Solanke melawan pertahanan Liverpool
Tottenham membutuhkan titik akhir serangan. Solanke akan menjadi salah satu pemain terpenting untuk memecahkan kebuntuan.
Namun, jika suplai bola terputus, striker tersebut akan kembali terisolasi. Itulah masalah yang sudah terlihat di empat laga liga Tottenham.
5. Tonali menghadapi Mac Allister
Pertarungan di tengah lapangan bisa menentukan siapa yang mengendalikan tempo. Tonali dapat memberi energi dan progresi kepada Spurs. Mac Allister mempunyai kemampuan mengatur ritme dan mengalirkan bola ke area yang lebih berbahaya. Jika Liverpool menang dalam duel ini, tekanan kepada pertahanan Tottenham akan datang berkali-kali.
Perkiraan Susunan Pemain
Liverpool: Mamardashvili; Frimpong, Araujo, Endo, Tsimikas; Mac Allister, Nyoni; Ngumoha, Koumas, Munoz; Gakpo.
Tottenham Hotspur: Kinsky; Gray, Van Hecke, Senesi, Robertson; Fernandes, Tonali; Kudus, Gallagher, Savio; Solanke.
Rekor Pertemuan Masih Memihak Liverpool
Tottenham hanya menang dua kali dalam 20 pertemuan terakhir melawan Liverpool. Sebaliknya, The Reds memenangkan 14 pertandingan.
Memang ada kemenangan Spurs 2-1 pada 2023. Namun, pertandingan itu selalu dibayangi kontroversi setelah Liverpool bermain dengan sembilan pemain dan gol mereka dianulir karena offside meski teknologi VAR digunakan.
Tottenham juga pernah mengalahkan Liverpool di EFL Cup pada Januari 2025. Tetapi kemenangan tersebut akhirnya tidak cukup untuk menghentikan Liverpool melaju dari semifinal.
Catatan tersebut memberikan gambaran lain: Tottenham tahu cara menyulitkan Liverpool, tetapi konsistensi menjadi masalah.
Prediksi: Liverpool 3-1 Tottenham Hotspur.
Liverpool memang belum tampil meyakinkan secara konsisten. Namun, EFL Cup datang pada saat yang tepat.
Rotasi akan dilakukan, tetapi kedalaman skuad Liverpool masih memberi mereka keuntungan. Tottenham memang bisa memainkan pemain-pemain penting karena membutuhkan hasil, tetapi tekanan justru dapat menjadi beban tambahan.
Ada satu perbedaan besar di antara kedua tim. Liverpool sedang mencari kembali ketajaman. Tottenham sedang mencari gol pertama. Dan ketika dua kebutuhan itu bertemu di Anfield, Liverpool lebih mungkin menemukan jawabannya lebih dahulu. (*)
Editor : Niklaas Andries
Sumber : Radar Banyuwangi