Torino vs Roma: Giallorossi Incar Puncak, Toro Diuji Lini Depan Mematikan

Niklaas Andries • Dipublikasikan Minggu, 13 September 2026 | 14:45 WIB
TREN POSITIF: AS Roma akan melawat ke markas Torino di ajang Serie A (AS Roma)
TREN POSITIF: AS Roma akan melawat ke markas Torino di ajang Serie A (AS Roma)

RADARBANYUWANGI.ID - Roma datang ke Turin dengan satu modal yang sulit diabaikan: kepercayaan diri. Tiga kemenangan dari tiga pertandingan Serie A membuat Giallorossi untuk sementara berada di puncak klasemen. Kini, setelah bermain imbang di Liga Champions, Roma harus segera kembali menyalakan mesin di kompetisi domestik.

Lawannya adalah Torino. Tim tuan rumah baru saja mendapatkan suntikan moral setelah bangkit mengalahkan Fiorentina 2-1. Namun, ada satu masalah besar yang belum selesai: pertahanan Torino masih terlalu mudah ditembus.

Pertandingan Torino versus Roma pada Senin malam menjadi ujian menarik bagi kedua tim dengan kondisi psikologis yang berbeda. Roma sedang mengejar konsistensi. Torino sedang berusaha menemukan identitas baru bersama pelatih Ignazio Abate.

Roma dan target mempertahankan puncak klasemen

Tujuh tahun bukan waktu sebentar bagi Roma untuk menunggu kembali ke panggung Liga Champions.

Kesempatan itu akhirnya datang. Namun, pertandingan pertama mereka di fase liga musim ini tidak berakhir sempurna. Bertandang ke Istanbul menghadapi Fenerbahce, Roma sempat unggul melalui Bryan Cristante sebelum tuan rumah menyamakan kedudukan setelah turun minum. Skor 1-1 bertahan sampai akhir.

Mile Svilar menjadi salah satu alasan Roma mampu membawa pulang satu poin. Kiper tersebut beberapa kali melakukan penyelamatan penting, sementara Fenerbahce juga sempat membentur tiang pada fase akhir pertandingan. Hasil itu memang menghentikan laju sempurna Roma di awal musim. Tetapi secara keseluruhan, performa Giallorossi masih sangat meyakinkan.

Sebelumnya, Roma mencetak 10 gol dalam tiga pertandingan Serie A dan menyapu semuanya dengan kemenangan. Mereka juga mengawali pekan dengan posisi teratas setelah mengalahkan Atalanta 2-1 melalui comeback dramatis.

Yang menarik bukan sekadar jumlah kemenangan. Roma menunjukkan volume serangan yang sangat tinggi. Mereka sudah melepaskan 71 tembakan, sedangkan lawan-lawan mereka hanya menghasilkan 22 tembakan.

Angka itu memperlihatkan satu hal: Roma bukan hanya menang, tetapi juga lebih sering memaksa pertandingan dimainkan di wilayah lawan. Donyell Malen menjadi simbol produktivitas tersebut. Penyerang asal Belanda itu sudah mencetak lima gol di Serie A musim ini.

Jika tren tersebut berlanjut, pembicaraan mengenai peluang Roma bersaing memperebutkan Scudetto bukan lagi sekadar bumbu awal musim. Terlebih lagi, Roma membawa catatan delapan kemenangan beruntun di Serie A jika dihitung sejak akhir musim lalu. Itu merupakan rentetan kemenangan terbaik keempat sepanjang sejarah klub.

Torino baru bangkit, tetapi pertahanannya masih rapuh

Torino punya cerita berbeda. Kemenangan 2-1 atas Fiorentina pekan lalu memang terasa penting. Rolando Mandragora membuka jalan kebangkitan lewat gol indah, sebelum Che Adams memastikan kemenangan pada penghujung pertandingan. Bagi Abate, hasil tersebut menjadi kemenangan liga pertamanya bersama Torino.

Sebelumnya, Torino kalah dari AC Milan dan Sassuolo, kemudian tersingkir secara mengecewakan dari Coppa Italia setelah dikalahkan Monza.

Karena itu, kemenangan di kandang Fiorentina bisa menjadi titik balik. Tetapi pertandingan melawan Roma akan memberikan ukuran yang jauh lebih berat.

Ada alasan kuat untuk khawatir. Torino selalu kebobolan dalam delapan pertandingan terakhirnya di Serie A. Melawan Roma, masalah itu bisa menjadi semakin mahal.

Sebab, Roma memiliki banyak pemain yang mampu menciptakan peluang. Mereka tidak bergantung pada satu sumber serangan. Ketika satu sisi ditutup, pemain dari lini kedua atau sisi berlawanan dapat muncul. Inilah yang harus diantisipasi Abate.

Duel taktik: Torino harus mematikan sumber kreativitas Roma

Secara permainan, Torino kemungkinan akan lebih berhati-hati. Formasi tiga bek yang dipadukan dengan lima pemain di lini tengah dapat digunakan untuk mempersempit ruang permainan Roma. Rolando Mandragora akan menjadi salah satu pemain penting dalam menjaga keseimbangan sekaligus mengalirkan bola ke depan.

Di sektor serangan, Che Adams dan Giovanni Simeone menjadi pilihan utama Abate. Masalahnya, dua penyerang tersebut berpotensi lebih sering bekerja tanpa bola apabila Torino terlalu dalam bertahan.

Roma justru memiliki situasi sebaliknya.

Gasperini terbiasa membangun tim dengan intensitas tinggi. Struktur tiga bek memungkinkan pemain sayap bergerak agresif sekaligus memberikan jumlah pemain yang cukup ketika menyerang.

Bryan Cristante dapat menjadi penghubung dari lini tengah, sementara pemain seperti Matias Soulé memiliki kemampuan membuka pertahanan lewat situasi satu lawan satu. Malen tentu menjadi ancaman terbesar.

Namun, terlalu fokus kepada Malen juga berbahaya. Roma memiliki cukup banyak pemain yang dapat mengambil keuntungan ketika perhatian pertahanan tertuju kepada striker tersebut.

Karena itu, Torino tidak cukup hanya menjaga penyerang Roma. Mereka harus memutus jalur umpan menuju para pencipta peluang. Jika gagal melakukan itu, pertahanan Torino berpotensi kembali menghadapi malam yang panjang

Roma juga menghadapi persoalan kebugaran

Jadwal padat membuat Gasperini harus berhitung. Manu Koné menjadi perhatian setelah ditarik keluar lebih awal pada babak kedua ketika menghadapi Fenerbahce. Kondisinya membuat peluang tampil di Turin masih diragukan.

Lorenzo Pellegrini sudah kembali mengikuti latihan penuh. Namun, Gasperini masih mempunyai alternatif seperti Nicolo Pisilli atau Marten de Roon. Rotasi juga mungkin dilakukan.

Paulo Dybala berpotensi mendapat waktu istirahat untuk menjaga kebugarannya. Pemain asal Argentina itu sudah memberikan empat assist dalam tiga penampilan Serie A. Santiago Castro bisa menjadi opsi menggantikan Malen jika sang pencetak gol utama diistirahatkan.

Tetapi ada alasan mengapa Malen sangat sulit disingkirkan dari susunan pemain. Ia mencetak gol ketika menjalani debut Serie A melawan Torino pada Januari lalu. Musim ini, produktivitasnya bahkan meningkat dengan lima gol tambahan.

Di kubu Torino, Cesare Casadei masih mengalami masalah otot. Saul Coco juga diragukan setelah mengalami persoalan ringan pada lutut dan harus meninggalkan pertandingan melawan Fiorentina sebelum turun minum.

Perkiraan susunan pemain

Torino: Perri; Comuzzo, Ismajli, Comert; Belghali, Fitz-Jim, Mandragora, Cacciamani; Vlasic; Adams, Simeone.

Roma: Svilar; Mancini, Ndicka, Ghilardi; Molina, Cristante, Pisilli, Wesley; Soulé, Mora; Malen.

Rekor pertemuan berpihak kepada Roma

Secara historis, Torino juga tidak memiliki catatan bagus ketika berhadapan dengan Roma.

Dalam 19 pertemuan terakhir di Serie A, Roma memenangi 14 pertandingan. Bahkan, dalam sembilan lawatan terakhir Roma ke Stadio Olimpico Grande Torino, Giallorossi mampu mencatat enam clean sheet.

Data tersebut tentu tidak menjamin hasil pertandingan. Namun, jika digabungkan dengan kondisi kedua tim saat ini, arah pertandingannya cukup jelas. Torino sedang membangun kembali pertahanan. Roma justru datang dengan lini serang yang sedang panas.

Prediksi skor: Torino 1-2 Roma.

Torino memang memiliki alasan untuk percaya diri setelah mengalahkan Fiorentina. Namun, kemenangan itu belum menghapus masalah utama mereka. Delapan pertandingan Serie A berturut-turut tanpa clean sheet adalah alarm yang terlalu keras untuk diabaikan.

Roma datang dengan delapan kemenangan liga beruntun, produktivitas tinggi, dan banyak pemain kreatif. Mereka juga memiliki pengalaman menghadapi tekanan setelah menjalani pertandingan Liga Champions di tengah pekan. Kelelahan bisa menjadi faktor. Tetapi secara kualitas dan momentum, Roma masih berada satu tingkat di atas Torino.

Roma diperkirakan tetap mampu mempertahankan laju positif sekaligus menjaga persaingan di papan atas Serie A. Torino mungkin memberikan perlawanan, tetapi lini pertahanan yang kembali kebobolan bisa menjadi pembeda. (*)

 

Editor : Niklaas Andries
Sumber : Radar Banyuwangi
Torino vs Roma prediksi Torino Roma as roma Donyell Malen serie a