Inter Milan vs Udinese: Rekor San Siro dan Lautaro Jadi Senjata Utama

Niklaas Andries • Dipublikasikan Minggu, 13 September 2026 | 13:43 WIB
LUKA EROPA: Inter Milan akan menjamu Udinese di ajang Serie A (Inter)
LUKA EROPA: Inter Milan akan menjamu Udinese di ajang Serie A (Inter)

RADARBANYUWANGI.ID – Kekalahan di Santiago Bernabeu seharusnya tidak menjadi luka yang terlalu lama bagi Inter Milan. Senin nanti, San Siro menunggu jawaban. Udinese datang sebagai lawan yang secara kualitas berada di bawah Real Madrid, tetapi justru pertandingan seperti inilah yang kerap menguji mental sebuah tim setelah mengalami kekalahan besar.

Inter Milan akan menjamu Udinese pada lanjutan Serie A dengan satu misi sederhana: kembali menang dan menjaga start sempurna di kompetisi domestik. Kekalahan 1-2 dari Real Madrid di Liga Champions memang menghentikan rentetan kemenangan Nerazzurri, tetapi tiga pertandingan Serie A sebelumnya memberikan alasan kuat bagi Cristian Chivu untuk tetap percaya diri.

Inter menyapu bersih tiga laga liga. Mereka mengalahkan Monza 4-1, Cagliari 1-0, kemudian menundukkan Napoli 3-2 dalam pertandingan yang penuh drama.

Total, delapan gol dicetak dan hanya tiga kali kebobolan. Angka itu menjelaskan satu hal: Inter masih sangat produktif. Namun, pertandingan melawan Real Madrid juga membuka persoalan yang tidak boleh diabaikan Chivu.

Di Bernabeu, dua kesalahan defensif membuat Inter tertinggal. Carlos Augusto memang memperkecil ketertinggalan pada fase akhir pertandingan, tetapi Nerazzurri tidak mampu menghindari kekalahan.

Kini persoalannya bukan bagaimana mengalahkan Udinese dengan skor besar. Persoalannya adalah bagaimana Inter mengembalikan konsentrasi dan intensitas setelah menghadapi pertandingan berlevel tinggi. San Siro Masih Menjadi Senjata Inter

Inter memiliki modal kuat ketika bermain di kandang.

Sepanjang tahun kalender ini, mereka rata-rata mencetak 2,8 gol per pertandingan Serie A di San Siro. Rekor pertemuan juga berpihak kepada tuan rumah. Dalam 23 duel liga terakhir melawan Udinese, Inter memenangi 18 di antaranya.

Tetapi ada satu catatan yang membuat pertandingan ini tidak boleh dianggap sebagai formalitas. Udinese pernah mencuri kemenangan di Milan musim lalu.

Kemenangan tersebut sekaligus mengakhiri tujuh kekalahan tandang beruntun Udinese ketika menghadapi Inter. Artinya, tim asuhan Kosta Runjaic sudah memiliki pengalaman bagaimana membuat San Siro tidak nyaman bagi tuan rumah.

Dan Udinese datang dengan reputasi sebagai tim yang cukup merepotkan ketika bermain di luar kandang. Dalam enam pertandingan tandang terakhir sejak akhir musim lalu, mereka memenangkan empat pertandingan. Salah satunya terjadi pada awal musim ini.

Lautaro Martinez Kembali Menjadi Kunci

Jika Inter membutuhkan satu pemain untuk memecahkan kebuntuan, nama Lautaro Martinez sulit diabaikan.

Kapten Inter tersebut menjadi penyelamat ketika menghadapi Napoli. Inter sempat tertinggal dua gol sebelum Lautaro mencetak dua gol yang mengubah jalannya pertandingan. Gol kedua bahkan lahir pada masa tambahan waktu.

Peran Lautaro bukan sekadar sebagai pencetak gol. Ia menjadi titik akhir sekaligus pemicu tekanan dari lini depan. Ketika Inter mampu mempertahankan penguasaan bola di area pertahanan lawan, pergerakan Lautaro dapat membuka ruang bagi penyerang maupun gelandang yang datang dari lini kedua.

Lautaro juga memiliki catatan bagus melawan Udinese. Ia sudah mencetak tujuh gol di Serie A ketika menghadapi klub asal Friuli tersebut.

Dengan karakter Udinese yang kemungkinan lebih banyak bertahan dan mengandalkan transisi, kemampuan Lautaro mencari ruang di antara bek tengah dan gelandang bertahan akan menjadi salah satu duel penting.

Udinese Tidak Datang untuk Bertahan Total

Udinese memang baru saja kehilangan momentum setelah kalah 1-2 dari Lazio. Padahal sebelumnya mereka belum terkalahkan di Serie A. Mereka menahan Como 1-1, kemudian mengalahkan Monza 3-2. Di Coppa Italia, Udinese juga berhasil melangkah ke babak 16 besar.

Saat melawan Lazio, Jesper Karlstrom sempat membawa Udinese unggul. Namun, dua gol yang bersarang pada 15 menit terakhir membuat kemenangan yang sudah di depan mata berubah menjadi kekalahan. Masalah tersebut menjadi peringatan bagi Runjaic.

Udinese tidak cukup hanya bertahan selama 60 atau 70 menit. Melawan Inter, konsentrasi selama 90 menit menjadi syarat mutlak. Apalagi Inter memiliki kemampuan meningkatkan tekanan pada babak kedua.

Jika Udinese terlalu dalam bertahan, Inter bisa mengurung mereka melalui kombinasi sayap, umpan pendek di tengah, dan pergerakan Lautaro. Sebaliknya, ruang di belakang wing-back Inter dapat menjadi target Udinese ketika melakukan serangan balik.

Duel Taktik: Lebar Lapangan Bisa Menentukan

Secara taktik, pertandingan ini berpotensi memperlihatkan pertarungan menarik antara struktur tiga bek Inter dan pendekatan Udinese.

Inter diperkirakan kembali mengandalkan formasi tiga bek dengan wing-back yang memberikan lebar serangan. Federico Dimarco diproyeksikan kembali setelah absen di Madrid karena cedera ringan. Kembalinya Dimarco penting.

Ia bukan sekadar pemain yang berdiri di sisi lapangan. Umpan silang, kombinasi dengan gelandang, serta kemampuannya masuk ke area sepertiga akhir membuat Inter memiliki variasi serangan tambahan. Di sisi lain, Udinese dapat mencoba menutup jalur umpan ke Lautaro dengan mempersempit ruang di tengah.

Karena itu, Inter perlu memindahkan bola dengan cepat dari satu sisi ke sisi lain. Jika sirkulasi terlalu lambat, Udinese akan punya waktu membentuk blok pertahanan. Di sinilah Curtis Jones bisa menjadi faktor menarik.

Gelandang Inggris itu mendapat kesempatan sebagai starter ketika melawan Real Madrid setelah tampil mengesankan saat menghadapi Napoli. Kemampuannya membawa bola dan bermain di ruang sempit dapat membantu Inter membongkar pertahanan yang rapat. Namun, Chivu juga harus menjaga keseimbangan.

Terlalu banyak pemain maju secara bersamaan akan membuka ruang transisi bagi Udinese. Keinan Davis bisa menjadi ancaman jika mendapatkan bola dalam situasi serangan balik.

Davis Bisa Menjadi Ancaman Balik

Davis berperan langsung dalam gol Udinese ketika menghadapi Lazio. Ia memberikan assist untuk gol Karlstrom dan tetap menjadi pilihan utama di lini depan meski sempat ditarik keluar sebagai langkah pencegahan.

Pada pertemuan musim lalu di Milan, Davis juga mencetak satu gol dan membuat satu assist. Itu berarti Inter tidak boleh hanya fokus kepada Karlstrom atau pemain kreatif di belakang striker.

Jika Inter kehilangan bola ketika kedua wing-back berada terlalu tinggi, Davis bisa menjadi pemain yang menerima bola pertama dalam transisi. Dari sana, Udinese dapat menyerang ruang yang ditinggalkan Inter. Namun, persoalan Udinese cukup serius.

Runjaic kehilangan Jakub Piotrowski dan Oumar Solet karena cedera saat menghadapi Lazio. Sebelumnya, Nicolo Zaniolo, Matteo Palma, Juan Arizala, dan Alessandro Zanoli juga masih berada dalam daftar pemain yang absen. Kedalaman skuad akhirnya menjadi salah satu pembeda.

Prediksi skor: Inter Milan 2-0 Udinese.

Inter punya alasan lebih besar untuk menang. Kualitas skuad, produktivitas di San Siro, rekor pertemuan, serta kebutuhan untuk segera merespons kekalahan dari Real Madrid membuat Nerazzurri kemungkinan tampil agresif sejak awal.

Namun, Inter tidak boleh mengulangi kesalahan di Bernabeu. Udinese mempunyai kemampuan melakukan serangan balik dan sudah membuktikan musim lalu bahwa mereka mampu menang di San Siro.

Jika Inter mampu mencetak gol lebih dahulu, pertandingan kemungkinan akan bergerak ke arah yang diinginkan tuan rumah. Sebaliknya, semakin lama skor bertahan 0-0, semakin besar peluang Udinese membangun kepercayaan diri.

Inter diperkirakan kembali menang di Serie A. Bukan sekadar untuk mempertahankan rekor sempurna, tetapi juga untuk menunjukkan bahwa kekalahan dari Real Madrid hanyalah gangguan kecil dalam perjalanan panjang mempertahankan Scudetto.

Perkiraan Susunan Pemain

Inter Milan: J. Martinez; Akanji, Stones, Bastoni; Diouf, Zielinski, Calhanoglu, Jones, Dimarco; L. Martinez, Esposito.

Udinese: Okoye; Abankwah, Kabasele, Ebosse; Vojvoda, Karlstrom, Miller, Kamara; Ekkelenkamp, Gomez; Davis. (*)

 

Editor : Niklaas Andries
Sumber : Radar Banyuwangi
Inter Milan vs Udinese serie a inter milan udinese lautaro martinez