RADARBANYUWANGI.ID – Como sedang berada di titik yang menyenangkan. Tim yang belum lama lalu masih berkutat di kasta keempat sepak bola Italia itu kini bukan hanya bermain di Serie A, tetapi juga baru saja membuat kejutan di panggung Liga Champions.
Kemenangan telak 4-1 atas RB Leipzig menjadi bukti bahwa perjalanan Como bersama Cesc Fabregas bukan sekadar cerita tentang klub promosi yang ingin bertahan di level tertinggi. Kini ujian berikutnya datang dari kompetisi domestik.
Como akan menjamu Parma di Stadion Sinigaglia, Senin malam. Di atas kertas, tuan rumah lebih diunggulkan. Bukan hanya karena sedang percaya diri, tetapi juga karena grafik performanya jauh lebih meyakinkan dibandingkan Parma.
Como belum terkalahkan dalam sembilan pertandingan sejak akhir musim lalu. Tiga laga Serie A musim ini menghasilkan satu hasil imbang dan dua kemenangan, termasuk kemenangan impresif 2-1 atas Napoli serta pesta 4-1 di markas Genoa. Yang menarik, kemenangan atas Leipzig juga menghasilkan skor identik 4-1. Artinya, lini serang Como sedang menemukan ritmenya.
Como tidak sekadar mengandalkan nama besar
Fabregas perlahan membangun identitas yang cukup jelas. Como ingin menguasai permainan, mengontrol bola, lalu menyerang dengan banyak pemain ketika ruang mulai terbuka. Melawan Leipzig, pendekatan tersebut bekerja sangat baik.
Como tidak bermain seperti tim yang baru mencicipi Liga Champions. Mereka berani mengambil inisiatif sejak awal, menekan ketika kehilangan bola, dan memanfaatkan kualitas pemain kreatif di belakang penyerang.
Nico Paz menjadi salah satu pemain yang memberikan dimensi berbeda. Martin Baturina juga mampu menghubungkan lini tengah dengan lini depan, sementara Assane Diao sedang berada dalam periode produktif setelah mencetak tiga gol dalam dua penampilan terakhirnya. Di depan, persaingan juga semakin menarik.
Moise Kean yang baru datang akan bersaing dengan Tasos Douvikas, pencetak gol terbanyak Como musim lalu. Fabregas kini mempunyai persoalan yang sebenarnya menyenangkan bagi seorang pelatih: terlalu banyak pilihan pemain ofensif berkualitas.
Namun, ada satu persoalan yang harus diantisipasi. Jadwal padat.
Setelah tampil di Liga Champions, Como harus segera kembali memikirkan Serie A. Dua pertandingan domestik menanti sebelum jeda internasional. Rotasi menjadi penting agar intensitas permainan tidak turun. Parma masih mencari identitas di depan gawang Situasi Parma berbeda.
Mereka baru mengumpulkan satu poin dari tiga pertandingan Serie A. Bahkan, Parma belum mencetak gol dalam dua pertandingan pertama sebelum Simone Lontani mengakhiri paceklik tersebut ketika bermain imbang 1-1 melawan Monza. Masalah Parma bukan hanya hasil.
Produksi serangan mereka juga masih minim. Setelah kehilangan Mateo Pellegrino pada musim panas, Parma terlihat kesulitan menemukan sumber gol baru. Hingga awal musim ini, mereka baru mencatat delapan tembakan tepat sasaran.
Angka tersebut menjadi alarm tersendiri ketika mereka harus bertandang ke markas Como. Terlebih lagi, Parma datang dengan catatan tandang yang buruk. Mereka kalah dalam tiga pertandingan tandang terakhir tanpa mampu mencetak satu gol pun. Salah satu kekalahan tersebut bahkan terjadi ketika menghadapi Como.
Duel taktik: penguasaan bola Como vs serangan balik Parma
Pertandingan ini kemungkinan besar akan ditentukan oleh satu pertanyaan sederhana: mampukah Parma bertahan cukup lama untuk menunggu kesalahan Como?
Como diperkirakan akan menjadi tim yang lebih dominan dalam penguasaan bola. Dengan Paz, Baturina, Diao, dan pemain-pemain kreatif lainnya, mereka mempunyai cukup banyak cara untuk membongkar blok pertahanan Parma. Parma justru kemungkinan memilih pendekatan lebih konservatif.
Carlos Cuesta bisa meminta timnya menjaga jarak antarlini tetap rapat dan menutup ruang di area tengah. Tujuannya jelas: jangan memberikan kesempatan kepada Paz untuk menerima bola dengan bebas di antara lini tengah dan pertahanan. Jika itu gagal, Como memiliki opsi lain.
Mereka dapat memperlebar permainan melalui sayap, menarik bek Parma keluar dari posisinya, kemudian memasukkan bola ke area penalti. Di sinilah peran Diao dan Baturina menjadi penting.
Sementara itu, senjata utama Parma kemungkinan berasal dari transisi. Ketika Como terlalu banyak mengirim pemain ke depan, ruang di belakang lini pertahanan bisa menjadi sasaran. Simone Lontani dapat menjadi pemain yang diharapkan memanfaatkan situasi tersebut.
Namun, problem Parma adalah konsistensi dalam menciptakan peluang. Bertahan terlalu dalam juga berisiko membuat mereka terus ditekan. Sebaliknya, bermain terlalu terbuka justru bisa menjadi undangan bagi lini serang Como. Dengan kata lain, Parma harus menemukan keseimbangan yang sulit.
Rekor pertemuan menguntungkan Como
Secara historis, Sinigaglia juga bukan tempat yang ramah bagi Parma. Setelah kemenangan 1-0 pada Mei lalu, Parma belum pernah menang dalam tujuh kunjungan terakhir ke markas Como di berbagai kompetisi Serie B dan Serie A.
Catatan tersebut memang bukan jaminan kemenangan. Namun, ketika digabungkan dengan kondisi kedua tim saat ini, keunggulan psikologis jelas berada di pihak tuan rumah. Como datang setelah menang besar di Eropa. Parma datang dengan satu poin dari tiga pertandingan. Kontrasnya cukup terang.
Berita tim Como vs Parma
Fabregas diperkirakan melakukan rotasi setelah Como tampil di Liga Champions. Jayden Addai menjadi satu-satunya pemain yang masih absen karena cedera jangka panjang.
Moise Kean berpeluang mendapatkan kesempatan tampil sejak awal. Ia akan bersaing dengan Douvikas untuk posisi penyerang tengah. Nico Paz, Baturina, dan Diao juga menjadi opsi penting di lini depan. Khusus Diao, performanya sedang sangat menarik perhatian setelah mencetak tiga gol dalam dua pertandingan terakhir.
Di kubu Parma, Hans Nicolussi Caviglia masih menepi karena cedera pangkal paha. Adrian Bernabe dan Ousmane Diallo juga diragukan tampil. Sascha Britschgi sempat ditarik keluar ketika melawan Monza karena mengalami benturan, tetapi diperkirakan masih dapat bermain.
Perkiraan susunan pemain Como: Butez; Smolcic, Chalobah, Ramon, Kaiki; Perrone, Da Cunha; Diao, Paz, Baturina; Kean.
Perkiraan susunan pemain Parma: Corvi; Delprato, Carlos, Troilo; Britschgi, Keita, Ordonez, Fabbian, Valeri; Lontani, Toure.
Prediksi akhirnya: Como 2-0 Parma.
Como memang harus berhati-hati dengan efek kelelahan setelah pertandingan Liga Champions. Tetapi kedalaman skuad memberikan Fabregas banyak solusi.
Ia tidak harus mempertahankan sebelas pemain yang sama selama 90 menit. Pemain segar dapat dimasukkan ketika intensitas pertandingan mulai turun. Situasi tersebut menjadi keuntungan besar.
Parma, sebaliknya, masih harus membuktikan bahwa mereka mampu menciptakan peluang secara konsisten. Jika terlalu lama bertahan, tekanan Como berpotensi semakin besar.
Como diperkirakan mengontrol pertandingan melalui penguasaan bola dan sirkulasi cepat di lini tengah. Parma bisa saja membuat laga sulit pada babak pertama, tetapi kualitas serta kedalaman skuad tuan rumah berpeluang menjadi pembeda setelah pertandingan berjalan lebih jauh. (*)
Editor : Niklaas Andries
Sumber : Radar Banyuwangi