RADARBANYUWANGI.ID – Lazio dan AC Milan sama-sama datang dengan modal positif saat bertemu di Stadio Olimpico, Sabtu. Lazio berambisi mempertahankan rekor sempurna di Serie A, sementara Milan berusaha menjaga catatan belum terkalahkan di bawah pelatih baru Ruben Amorim.
Lazio menjadi tim dengan start paling meyakinkan. Dari tiga pertandingan, Biancocelesti mengoleksi sembilan poin atau selalu menang. Sebaliknya, Milan mengantongi tujuh poin setelah meraih dua kemenangan dan satu hasil imbang. Pertemuan ini pun menjadi ujian menarik bagi kedua pelatih. Lazio kini ditangani Gennaro Gattuso, sedangkan Milan memasuki era baru bersama Amorim setelah pergantian di kursi pelatih.
Lazio dalam kepercayaan diri tinggi
Lazio menunjukkan karakter kuat saat menghadapi Udinese pada pertandingan terakhir. Sempat tertinggal, mereka bangkit dan mengakhiri laga dengan kemenangan 2-1.
Davide Frattesi kembali menjadi salah satu pemain penting. Gelandang tersebut mencetak gol dalam tiga pertandingan beruntun, sebelum Albert Gudmundsson memastikan kemenangan melalui sundulan pada menit ke-88.
Hasil tersebut membuat Lazio memenangi tiga laga pertama Serie A untuk kali ketiga sepanjang sejarah klub. Mereka terakhir kali melakukan start serupa pada 2012. Menariknya, Lazio sempat mendapat tekanan besar setelah tersingkir dari Coppa Italia secara mengejutkan ketika kalah dari Mantova. Namun, respons mereka di Serie A justru sangat positif.
Bagi Gattuso, duel melawan Milan juga memiliki nuansa personal. Mantan gelandang tim nasional Italia itu pernah menjadi pemain sekaligus pelatih Milan. Ia mencatat 335 penampilan di liga dan 62 kali berada di pinggir lapangan sebagai pelatih.
Kini, loyalitasnya harus sepenuhnya diberikan kepada Lazio. Secara statistik pertemuan, Lazio juga memiliki alasan untuk percaya diri. Mereka memenangi tiga dari empat pertemuan terakhir melawan Milan di semua kompetisi.
Bahkan, Milan dua kali kalah di Olimpico musim lalu dengan skor identik 0-1. Satu kekalahan terjadi di Serie A dan lainnya di ajang piala. Namun, Milan yang datang kali ini bukan tim yang sama.
Milan mulai menemukan identitas
Pergantian pelatih membuat Milan memasuki fase baru. Amorim mengambil alih setelah era Max Allegri berakhir, dan sejauh ini hasil awalnya cukup menjanjikan. Rossoneri membuka musim dengan kemenangan atas Torino dan Venezia. Mereka kemudian hampir mempertahankan tiga kemenangan beruntun ketika menghadapi Juventus.
Milan sempat unggul melalui Alphadjo Cisse. Namun, Juventus mampu menyamakan kedudukan lewat sundulan Federico Gatti pada penghujung pertandingan. Hasil 1-1 tersebut memang menghentikan laju kemenangan Milan, tetapi sekaligus memperpanjang catatan tidak terkalahkan mereka.
Ada satu persoalan besar yang membayangi musim Milan. Mereka tidak tampil di Liga Champions setelah musim sebelumnya berakhir mengecewakan. Sebagai gantinya, Rossoneri akan memulai kiprah di Liga Europa pekan depan dengan pertandingan menarik melawan Benfica. Sebelum memikirkan Eropa, Milan harus lebih dahulu melewati ujian berat di Roma.
Adu strategi Gattuso dan Amorim
Duel Lazio kontra Milan berpotensi menjadi pertarungan antara dua pendekatan berbeda. Gattuso dikenal dengan karakter permainan yang menuntut intensitas dan agresivitas. Sementara itu, Amorim membawa pendekatan taktik yang lebih fleksibel, termasuk penggunaan tiga bek dan rotasi pemain depan.
Lazio memiliki momentum lebih baik karena menyapu bersih tiga pertandingan awal. Akan tetapi, Milan memiliki keuntungan berupa konsistensi karena belum menelan kekalahan. Persoalannya, kedua tim juga masih mencari bentuk terbaik.
Lazio memang selalu menang, tetapi dua dari tiga kemenangan mereka hanya berjarak satu gol. Artinya, pertahanan dan kemampuan mengontrol pertandingan pada fase akhir akan kembali menjadi faktor penting.
Milan pun menunjukkan persoalan serupa. Mereka mampu mencetak gol dan mengamankan hasil, tetapi pertandingan melawan Juventus memperlihatkan bahwa keunggulan belum selalu dapat dipertahankan hingga peluit akhir. Karena itu, laga di Olimpico berpotensi berlangsung ketat sejak awal.
Kabar tim Lazio
Lazio masih menunggu kondisi Andrea Pinamonti. Penyerang tersebut baru menjalani start pertamanya saat menghadapi Udinese, tetapi harus meninggalkan lapangan karena mengalami cedera pergelangan kaki.
Jika Pinamonti tidak dapat tampil, Gudmundsson menjadi salah satu opsi untuk mengisi lini depan. Tijjani Noslin juga dapat dipertimbangkan sebagai alternatif.
Di lini belakang, Lazio masih kehilangan Patric dan Adam Marusic. Sementara itu, Nicolo Rovella serta Danilo Cataldi menjadi dua pemain tengah yang juga berada dalam daftar absen. Fisayo Dele-Bashiru masih diragukan tampil. Di sisi positif, pilihan Gattuso di sektor pertahanan bertambah setelah Lazio mendapatkan Diogo Leite dengan status bebas transfer.
Kabar tim AC Milan
Milan diperkirakan hanya kehilangan Mattia Gabbia. Mario Gila, mantan pemain Lazio, masih mengalami masalah lutut yang terus mengganggu. Namun, ia diperkirakan tetap tampil meski harus menahan rasa sakit.
Jika Gila dinyatakan siap, Amorim kemungkinan mempertahankan formasi tiga bek yang sama. Rotasi justru berpeluang terjadi di lini depan.
Omari Hutchinson, rekrutan baru Milan, berharap mendapatkan kesempatan debut. Namun, persaingan untuk mendampingi Goncalo Ramos cukup ketat.
Cisse menjadi kandidat kuat setelah mencetak gol dalam pertandingan tandang melawan Torino dan Juventus. Alexis Saelemaekers, Ruben Loftus-Cheek, serta Christian Pulisic juga memiliki peluang masuk starting XI.
Perkiraan susunan pemain
Lazio: Mandas; Mussolini, Doekhi, Provstgaard, Tavares; Frattesi, Belahyane, Taylor; Cancellieri, Gudmundsson, Zaccagni.
AC Milan: Maignan; Gila, De Winter, Pavlovic; Chukwueze, Modric, Musah, Bartesaghi; Rabiot, Cisse; Ramos.
Prediksi skor: Lazio 1-1 AC Milan.
Lazio memang memiliki momentum lebih kuat. Tiga kemenangan beruntun memberikan kepercayaan diri sekaligus memperlihatkan bahwa Gattuso mulai menemukan formula yang sesuai dengan skuadnya.
Namun, Milan belum terkalahkan dan memiliki kualitas individu yang dapat mengubah pertandingan dalam sekejap. Pertandingan kemungkinan tidak menghasilkan banyak gol. Lazio punya keuntungan bermain di kandang, tetapi Milan memiliki struktur permainan yang cukup untuk meredam tekanan tuan rumah.
Hasil imbang menjadi skenario yang cukup masuk akal. Bagi Lazio, satu poin memang menghentikan rekor sempurna, tetapi tetap menjaga mereka dalam persaingan papan atas. Sementara bagi Milan, hasil tersebut akan menjadi tambahan penting dalam proses membangun kembali tim di bawah Amorim. (*)
Editor : Niklaas Andries
Sumber : Radar Banyuwangi