RADARBANYUWANGI.ID – Manchester United tidak sekadar memburu kemenangan saat menghadapi Sabah pada lanjutan Liga Champions, Kamis. Pertandingan tersebut menjadi momen bersejarah karena Setan Merah akan mencatatkan rekor baru sebagai klub Inggris dengan jumlah penampilan terbanyak di kompetisi antarklub Eropa.
Laga melawan klub Azerbaijan, Sabah, akan menjadi pertandingan ke-300 Manchester United di Piala Eropa/Liga Champions. Torehan itu membuat United menjadi klub Inggris pertama yang menembus angka tersebut.
Catatan tersebut mempertegas posisi Manchester United sebagai salah satu klub Inggris dengan sejarah terpanjang di pentas Eropa. Namun, rekor prestisius itu datang ketika performa mereka justru masih jauh dari kata meyakinkan.
Manchester United Mulai Perjalanan Liga Champions
Pertandingan kontra Sabah juga menandai penampilan ke-26 Manchester United di fase utama Liga Champions. Jumlah tersebut menjadi yang terbanyak di antara klub-klub Inggris.
Akan tetapi, United harus memperbaiki catatan buruknya di fase grup atau liga. Dalam tujuh pertandingan terakhir pada fase tersebut, mereka hanya meraih satu kemenangan. Empat laga lainnya berakhir dengan kekalahan.
Situasi itu membuat pertandingan melawan Sabah memiliki arti lebih besar daripada sekadar pembuka perjalanan Eropa. United membutuhkan awal positif untuk membangun kembali kepercayaan diri setelah start yang kurang meyakinkan di kompetisi domestik.
Meski demikian, ada satu modal yang cukup menjanjikan. Manchester United berhasil memenangi enam pertandingan kandang Eropa terakhir dan mencetak 20 gol dalam rangkaian tersebut. Artinya, Old Trafford masih menjadi salah satu senjata utama United ketika tampil di pentas internasional.
Sejarah Panjang Manchester United di Eropa
Manchester United terakhir kali tampil di kompetisi Eropa pada musim 2024-2025. Perjalanan mereka berakhir pahit setelah kalah 0-1 dari Tottenham Hotspur di final Liga Europa. Jauh sebelum itu, Setan Merah telah tiga kali menjadi juara Piala Eropa/Liga Champions.
Trofi pertama diraih pada 1968. United kemudian kembali menjadi kampiun pada 1999 sebelum mengangkat trofi untuk kali ketiga pada 2008.
Namun, kejayaan tersebut kini terasa semakin jauh. Terakhir kali United berhasil mencapai fase gugur Liga Champions adalah pada musim 2021-2022. Langkah mereka kemudian dihentikan Atletico Madrid pada babak 16 besar. Musim ini, tantangan United juga tidak ringan.
Dalam fase liga, mereka dijadwalkan menghadapi sejumlah lawan tangguh, termasuk Atletico Madrid, Como, AS Roma, Sporting CP, RB Leipzig, Bayern Munich, dan Villarreal. Karena itu, kehilangan poin melawan Sabah bisa menjadi awal yang berbahaya bagi ambisi United untuk lolos ke fase gugur.
Michael Carrick Dituntut Segera Bangkit
Pertandingan melawan Sabah juga menjadi ujian penting bagi Michael Carrick. Pelatih Manchester United tersebut berada dalam tekanan setelah timnya mengawali musim 2026-2027 dengan hasil yang belum sesuai harapan.
United baru mengumpulkan empat poin dari tiga pertandingan Premier League. Mereka meraih hasil tersebut saat menghadapi Hull City, Ipswich Town, dan Everton.
Hasil terakhir bahkan meninggalkan kekecewaan besar. United sempat berada di jalur kemenangan sebelum Everton mencetak gol pada menit-menit akhir untuk memaksakan skor 2-2. Situasi tersebut membuat kemenangan atas Sabah menjadi kebutuhan, bukan sekadar target.
Secara psikologis, United membutuhkan pertandingan yang bisa mengembalikan rasa percaya diri. Sementara secara kompetitif, mereka tidak boleh menganggap remeh laga pembuka ketika tujuh lawan lain menunggu dalam fase liga.
Jika gagal menang, tekanan terhadap Carrick berpotensi meningkat. Sebaliknya, kemenangan meyakinkan dapat menjadi titik balik setelah awal musim yang tersendat.
Rekor ke-300 memang layak dirayakan. Namun, bagi Manchester United, sejarah hanya akan menjadi catatan jika tidak diikuti performa yang mampu membawa mereka kembali bersaing di level tertinggi Eropa.
Kamis nanti, Sabah menjadi lawan yang harus ditaklukkan sekaligus kesempatan bagi United untuk membuktikan bahwa mereka belum kehilangan tempat di antara elite sepak bola Eropa. (*)
Editor : Niklaas Andries
Sumber : Radar Banyuwangi