Chelsea Samai Rekor 24 Tahun Premier League, Gol Cepat Romeo Lavia Bikin Brighton Terkejut

Niklaas Andries • Dipublikasikan Senin, 31 Agustus 2026 | 00:07 WIB
REKOR: Chelsea berhasil menang tipis atas Brighton (Chelsea)
REKOR: Chelsea berhasil menang tipis atas Brighton (Chelsea)

RADARBANYUWANGI.ID – Chelsea kembali menunjukkan tanda-tanda sebagai tim yang patut diperhitungkan di Premier League 2026–2027. Bukan hanya karena hasil pertandingan, tetapi juga karena sebuah catatan historis yang sudah bertahan selama 24 tahun.

Gol cepat Romeo Lavia ketika Chelsea menghadapi Brighton & Hove Albion di Stamford Bridge membuat The Blues menyamai rekor Premier League milik Bolton Wanderers yang tercipta pada musim 2002–2003.

Lavia mencetak gol sebelum pertandingan memasuki menit keempat. Momen tersebut berawal dari situasi sepak pojok yang gagal diantisipasi dengan baik oleh Brighton.

Kiper Bart Verbruggen dan Mats Wieffer tidak mampu menyelesaikan situasi tersebut secara sempurna. Lavia yang berada di posisi tepat langsung memanfaatkan bola liar dengan sontekan ke sudut bawah gawang.

Gol itu menjadi jauh lebih istimewa karena Chelsea sebelumnya juga mencetak gol dalam empat menit pertama pada pertandingan pembuka musim.

Saat menang 3-2 atas Fulham pada pekan pertama, Joao Pedro bahkan hanya membutuhkan 31 detik untuk mencatatkan namanya di papan skor. Itu menjadi gol tercepat dalam pertandingan pekan pertama Premier League.

Dengan gol Lavia, Chelsea menjadi tim kedua dalam sejarah kompetisi yang mampu mencetak gol dalam empat menit pertama pada dua pertandingan pembuka musim secara beruntun. Bolton adalah tim pertama yang melakukannya. Rekor tersebut tercipta pada musim 2002–2003.

Ketika itu, Michael Ricketts mencetak gol pada menit keempat saat Bolton menghadapi Fulham pada laga pembuka musim. Seminggu berselang, Youri Djorkaeff bahkan mencetak gol pada menit kedua ketika Bolton melawan Charlton Athletic.

Menariknya, dua gol cepat Bolton tersebut tidak berujung kemenangan. Bolton kalah 2-1 dari Fulham dan kemudian kembali takluk dengan skor yang sama dari Charlton. Chelsea berharap kisah mereka berakhir berbeda.

Bukan Sekadar Gol Cepat

Gol Lavia menjadi pemantik pesta gol Chelsea di babak pertama. Setelah unggul cepat, pasukan Xabi Alonso terus menekan dan berhasil memperlebar keunggulan menjadi 3-0 melalui Pedro Neto dan Joao Pedro. Namun, Brighton tidak menyerah begitu saja.

Tiga menit setelah gol Joao Pedro, Malick Yalcouye memperkecil ketertinggalan lewat sebuah tendangan voli indah. Bola sempat membentur bagian dalam tiang sebelum akhirnya bersarang di gawang Chelsea.

Respons cepat Brighton menunjukkan satu hal penting: keunggulan besar pada awal pertandingan belum tentu menjamin kendali penuh.

Bagi Alonso, situasi tersebut justru menjadi ujian menarik. Chelsea memang terlihat semakin berbahaya dalam menyerang, tetapi kemampuan menjaga struktur setelah unggul akan menjadi pembeda jika mereka benar-benar ingin bersaing di papan atas.

Chelsea Mulai Serius Bicara Gelar?

Chelsea memasuki musim baru dengan misi berbeda setelah musim sebelumnya diwarnai pergantian figur di kursi kepelatihan, mulai dari Enzo Maresca, Liam Rosenior hingga Calum McFarlane. Kini, Alonso ditugasi menghadirkan stabilitas.

Salah satu keuntungan terbesar Chelsea adalah absennya mereka dari kompetisi Eropa musim ini. Situasi tersebut membuat The Blues memiliki kalender pertandingan yang lebih longgar dibandingkan sejumlah rival utama seperti Arsenal, Liverpool, Manchester City, dan Manchester United.

Secara teori, kondisi itu dapat menjadi keuntungan besar dalam perburuan gelar. Chelsea bisa mengalokasikan lebih banyak energi untuk Premier League, terutama ketika memasuki periode padat pada musim dingin dan fase akhir kompetisi.

Di lini depan, kombinasi Joao Pedro, Cole Palmer, dan Morgan Rogers juga mulai memperlihatkan potensi yang menjanjikan.

Ketiganya memberikan variasi berbeda. Palmer memiliki kreativitas dan kemampuan membuka ruang, Joao Pedro menawarkan pergerakan serta penyelesaian akhir, sedangkan Rogers dapat memberikan tenaga sekaligus progresi bola.

Jika koneksi ketiganya terus berkembang, Chelsea memiliki modal ofensif yang cukup untuk menghadapi pertahanan terbaik di liga.

Martinez Bisa Jadi Potongan Puzzle Terakhir

Chelsea juga memperkuat posisi penjaga gawang dengan mendatangkan Emiliano Martinez. Kehadiran kiper asal Argentina itu langsung terasa. Martinez dipercaya menjadi starter saat menghadapi Brighton, sementara Robert Sanchez bahkan tidak masuk skuad pertandingan.

Enzo Fernandez juga absen dari daftar pemain pada laga tersebut. Alonso kemudian memberikan penjelasan mengenai keputusan itu sebelum pertandingan dimulai. Dari sudut pandang persaingan gelar, kedatangan Martinez bisa menjadi lebih penting daripada sekadar transfer biasa.

Chelsea sebelumnya memiliki persoalan di bawah mistar yang cukup mencolok. Jika Martinez mampu memberikan konsistensi, pengalaman, dan ketenangan yang dibutuhkan, lini belakang The Blues berpotensi mendapatkan fondasi yang lebih kuat. Namun, jalan menuju gelar masih panjang.

Awal musim yang agresif, tanpa beban kompetisi Eropa, ditambah kombinasi pemain muda dan berpengalaman memang membuat Chelsea terlihat menjanjikan. Akan tetapi, konsistensi selama 38 pertandingan tetap menjadi ukuran sebenarnya.

Rekor 24 tahun boleh saja disamai. Tetapi bagi Chelsea, catatan yang jauh lebih berharga adalah apakah mereka mampu mengakhiri musim dengan trofi Premier League. (*)

 

Editor : Niklaas Andries
Sumber : Radar Banyuwangi
Romeo Lavia brighton premier league chelsea xabi alonso