RADARBANYUWANGI.ID - Inter Milan memulai misi mempertahankan gelar Serie A dengan ujian yang di atas kertas berada dalam jangkauan mereka. Monza datang ke San Siro pada Sabtu malam dengan status tim promosi, sementara tuan rumah memasuki musim baru dengan modal juara dan ambisi kembali mendominasi Italia.
Perbedaan target kedua tim membuat laga ini terasa seperti pertarungan antara dua kutub. Inter membidik Scudetto, sedangkan Monza harus lebih realistis: bertahan di kasta tertinggi setelah sukses kembali ke Serie A hanya setahun setelah terdegradasi.
Inter Datang dengan Modal Meyakinkan
Musim lalu menjadi periode yang sangat istimewa bagi Inter. Selain merebut Scudetto untuk kali ke-21, Nerazzurri juga mengangkat trofi Coppa Italia. Itu menjadi kali pertama sejak treble bersejarah 2010 mereka mampu mengawinkan dua trofi domestik.
Dominasi Inter di Serie A bahkan berlangsung cukup meyakinkan. Mereka mengakhiri musim dengan keunggulan 11 poin atas Napoli yang berstatus juara bertahan. Lazio kemudian mereka taklukkan di final Coppa Italia.
Cristian Chivu, yang menjalani musim perdana luar biasa sebagai pelatih, kini menghadapi tantangan berbeda. Mempertahankan gelar selalu lebih sulit daripada merebutnya. Inter juga dituntut meningkatkan performa di kompetisi Eropa agar musim mereka tidak hanya gemilang di level domestik.
Tanda-tanda positif sudah terlihat selama pramusim. Inter mengawali persiapan dengan kemenangan telak 16-0 atas SV Aasen di pemusatan latihan. Mereka kemudian menundukkan Karlsruher 2-1 dan mengalahkan Manchester City melalui adu penalti.
Dalam rangkaian laga di Australia, Inter bermain imbang 1-1 melawan AC Milan sebelum mengalahkan Juventus 2-1. Mereka juga menang atas Real Betis setelah John Stones mencetak gol penentu.
Catatan tersebut membuat Inter datang ke laga pembuka dengan kepercayaan diri tinggi. Faktor San Siro semakin memperkuat posisi mereka. Musim lalu, Inter memenangi 14 dari 19 pertandingan kandang di Serie A.
Monza Kembali ke Serie A, tetapi Langsung Diuji Berat
Bagi Monza, kembali ke Serie A merupakan pencapaian penting. Mereka tidak membutuhkan waktu lama untuk bangkit setelah terdegradasi.
Dengan salah satu skuad terbaik di Serie B, Monza finis di posisi ketiga dan kemudian memastikan promosi melalui playoff. Mereka bermain imbang 2-2 secara agregat melawan Catanzaro pada final playoff, tetapi posisi liga yang lebih baik membuat Monza berhak mengambil satu tiket terakhir ke Serie A setelah Venezia dan Frosinone.
Namun, keberhasilan itu juga diikuti pergantian pelatih. Paolo Bianco meninggalkan kursi kepelatihan untuk mengambil pekerjaan di Pisa. Mantan pelatih AS Roma, Ivan Juric, kemudian dipercaya menangani Monza.
Pramusim memberikan alasan untuk optimistis. Monza memenangkan sebagian besar pertandingan persiapan, termasuk saat menghadapi klub Turki Galatasaray. Mereka kemudian menutup persiapan dengan kemenangan 3-0 atas Avellino di Coppa Italia.
Masalahnya, laga pertama Serie A justru membawa mereka ke markas sang juara bertahan.
Secara historis, Monza memang pernah mengejutkan Inter. Dari enam pertemuan Serie A sebelumnya di San Siro, mereka hanya sekali menang. Kemenangan tersebut bahkan terjadi secara mengejutkan dengan skor 1-0 pada April 2023.
Namun, mengulang kejutan tersebut membutuhkan lebih dari sekadar keberanian. Monza harus mampu meredam lini tengah Inter sekaligus membatasi ruang gerak Lautaro Martinez.
Lautaro Martinez Jadi Ancaman Utama
Inter tidak banyak mengubah struktur kekuatannya di lini depan. Lautaro Martinez masih menjadi tumpuan sekaligus kapten.
Penyerang Argentina itu merupakan pencetak gol terbanyak Inter di Serie A musim lalu dengan 17 gol. Rekornya melawan Monza juga cukup mengkhawatirkan bagi tim tamu. Lautaro telah mencetak lima gol dalam enam penampilan Serie A menghadapi Monza.
Di sisi lain, Inter melakukan penyegaran di beberapa sektor. Ivan Provedel datang dari Lazio setelah Yann Sommer dilepas. Ia akan bersaing dengan Josep Martinez untuk posisi penjaga gawang.
Denzel Dumfries yang menuju Real Madrid juga meninggalkan lubang di sisi kanan. Andy Diouf, yang sebelumnya bermain sebagai gelandang, menjadi salah satu kandidat pengisi posisi tersebut. Performanya selama pramusim membuat peluangnya menjadi starter cukup besar, mengungguli Djed Spence.
Inter juga masih harus bermain tanpa Henrikh Mkhitaryan yang terkena skorsing. Monza memiliki masalah sendiri. Kapten Matteo Pessina harus absen setelah mengalami cedera lutut serius. Ebenezer Akinsanmiro diperkirakan mendapat kesempatan untuk mengisi kekosongan tersebut.
Di lini depan, Monza memiliki Patrick Cutrone. Mantan penyerang AC Milan itu terlibat dalam sembilan gol Monza di Serie B musim lalu dan kembali menunjukkan pengaruhnya ketika memberikan dua assist dalam kemenangan atas Avellino.
Gustavo Varela juga berpeluang tampil sejak awal setelah mencetak dua gol di Coppa Italia. Namun, Monza kehilangan Dany Mota dan Demba Thiam akibat skorsing.
Perkiraan Susunan Pemain
Inter Milan (3-5-2): J. Martinez; Akanji, Stones, Bastoni; Diouf, Barella, Calhanoglu, Zielinski, Dimarco; Esposito, Lautaro Martinez.
Monza (3-4-2-1): Pizzignacco; Kouadio, Delli Carri, Carboni; Birindelli, Akinsanmiro, Colombo, Mangas; Colpani, Cutrone; Varela.
Prediksi skor: Inter Milan 3-0 Monza
Inter memiliki hampir semua modal untuk membuka musim dengan kemenangan. Selain kualitas individu yang lebih merata, mereka juga memiliki kedalaman skuad dan pengalaman menghadapi tekanan perebutan gelar.
Monza memang datang dengan energi tim promosi dan pelatih baru, tetapi laga tandang ke San Siro merupakan ujian ekstrem untuk mengukur kesiapan mereka kembali bersaing di level tertinggi.
Inter diperkirakan akan menguasai bola sejak awal, memaksa Monza bertahan dalam blok rendah, lalu memanfaatkan pergerakan Lautaro dan dukungan dari lini kedua. Jika gol pembuka datang lebih cepat, pertandingan berpotensi berubah menjadi satu arah.
Bagi Inter, tiga poin bukan sekadar kemenangan pembuka. Ini adalah langkah pertama dalam perjalanan panjang mempertahankan Scudetto. Bagi Monza, laga tersebut menjadi pengingat bahwa kembali ke Serie A adalah satu perkara, sedangkan bertahan di dalamnya merupakan tantangan yang sama sekali berbeda. (*)
Editor : Niklaas Andries
Sumber : Radar Banyuwangi