RADAR BANYUWANGI – Xavi Hernandez resmi kembali ke dunia kepelatihan dengan pekerjaan yang tak main-main. Legenda Barcelona dan timnas Spanyol itu ditunjuk sebagai pelatih kepala baru timnas Belanda, menggantikan Ronald Koeman yang tak melanjutkan kontraknya setelah Oranje tersingkir dari Piala Dunia 2026.
Kontrak Xavi bersama Belanda berlaku hingga Piala Dunia 2030. Penunjukan tersebut diumumkan KNVB pada Rabu (12/8/2026) waktu setempat dan menjadi babak baru dalam karier kepelatihan pria 46 tahun tersebut.
Xavi kembali ke pinggir lapangan setelah sekitar dua tahun meninggalkan Barcelona. Tantangan pertamanya adalah membangun kembali Belanda setelah kegagalan di Piala Dunia 2026.
Oranje tersingkir pada babak 32 besar setelah kalah dari Maroko melalui adu penalti. Sehari setelah kegagalan tersebut, Koeman mengumumkan tidak akan memperpanjang kontraknya bersama KNVB.
Kini, tongkat estafet berada di tangan Xavi.
Xavi Kembali Setelah Dua Tahun Menganggur
Penunjukan sebagai pelatih Belanda sekaligus mengakhiri masa tanpa pekerjaan Xavi sejak berpisah dengan Barcelona pada akhir musim 2023/2024.
Sebelum itu, Xavi menangani Barcelona sejak 2021 hingga 2024. Ia berhasil membawa Blaugrana meraih gelar La Liga 2022/2023 dan Piala Super Spanyol 2023.
Sebelum menangani Barcelona, Xavi lebih dulu membangun reputasi sebagai pelatih di Qatar bersama Al Sadd.
Di sana, mantan gelandang timnas Spanyol tersebut meraih sejumlah trofi domestik sebelum kembali ke klub yang membesarkan namanya.
Kini, untuk pertama kalinya, Xavi akan menangani sebuah tim nasional. Ia juga menjadi pelatih asing pertama Belanda sejak Ernst Happel dari Austria pada 1978.
Ada Ikatan dengan Filosofi Sepak Bola Belanda
Menariknya, pilihan KNVB terhadap Xavi bukan tanpa alasan.
Filosofi sepak bola pria kelahiran Terrassa tersebut memiliki hubungan erat dengan tradisi sepak bola Belanda.
Xavi mengakui pengaruh Johan Cruyff dan Rinus Michels sangat besar terhadap cara pandangnya dalam bermain dan melatih.
Warisan Cruyff bahkan menjadi salah satu fondasi penting dalam perkembangan Xavi ketika berada di akademi Barcelona.
Selain itu, Xavi juga memiliki hubungan langsung dengan sepak bola Belanda melalui Louis van Gaal dan Frank Rijkaard.
Van Gaal merupakan pelatih yang memberinya debut di Barcelona, sedangkan Rijkaard pernah menjadi pelatih Xavi dan membawanya meraih trofi Liga Champions bersama Blaugrana.
Karena itu, Xavi merasa tidak sepenuhnya asing dengan DNA sepak bola Belanda.
“Saya menganggap ini sebagai kehormatan yang luar biasa untuk menjadi pelatih kepala timnas Belanda,” ujar Xavi dalam sesi perkenalannya.
Filosofi Penguasaan Bola Tetap Dibawa
Satu hal yang hampir pasti tidak berubah adalah identitas permainan Xavi.
Mantan gelandang yang dikenal dengan kemampuan mengatur tempo permainan tersebut ingin mempertahankan sepak bola menyerang dan penguasaan bola sebagai fondasi Oranje.
Menurut Xavi, filosofi tersebut memiliki kecocokan dengan karakter sepak bola Belanda yang selama ini dikenal kreatif dan ofensif.
Baginya, kemenangan memang menjadi tujuan utama. Namun, cara mencapainya juga penting.
Xavi ingin Belanda kembali memainkan sepak bola yang tidak hanya efektif, tetapi juga mencerminkan identitas dan karakter tim.
Tugas Pertama Xavi Sudah Menanti
Xavi tidak punya banyak waktu untuk beradaptasi.
Setelah Piala Dunia 2026, Belanda langsung memasuki fase baru dengan target membangun tim untuk siklus berikutnya.
Debut Xavi dijadwalkan menghadapi Jerman dalam UEFA Nations League pada 24 September 2026.
Pertandingan tersebut akan menjadi ujian pertama apakah filosofi Xavi dapat langsung diterapkan pada skuad Oranje.
Tantangannya bukan hanya soal taktik.
Xavi juga harus menjaga keseimbangan antara pemain senior seperti Virgil van Dijk dengan generasi yang lebih muda. Belanda memiliki sejumlah pemain yang masih berada dalam fase perkembangan dan membutuhkan sistem yang jelas.
Di sinilah pengalaman Xavi sebagai pemain dan pelatih akan diuji.
Mengulang Kisah Saat Menggantikan Koeman?
Ada fakta menarik di balik penunjukan Xavi.
Ini bukan kali pertama Xavi menggantikan Ronald Koeman sebagai pelatih.
Pada 2021, Xavi mengambil alih Barcelona setelah Koeman meninggalkan kursi pelatih klub Catalan tersebut.
Kini, lima tahun kemudian, sejarah seolah berulang dalam skala berbeda.
Xavi kembali mengambil pekerjaan yang sebelumnya ditinggalkan Koeman.
Bedanya, kali ini yang dipertaruhkan bukan hanya satu klub, melainkan masa depan timnas Belanda hingga Piala Dunia 2030.
Rekam Jejak Xavi Hernandez
Berikut perjalanan kepelatihan Xavi sebelum menangani Belanda:
-
Al Sadd (2019–2021): meraih sejumlah trofi domestik di Qatar.
-
Barcelona (2021–2024): juara La Liga 2022/2023 dan Piala Super Spanyol 2023.
-
Timnas Belanda (2026–2030): dikontrak hingga Piala Dunia 2030.
Sebagai pemain, Xavi juga memiliki CV luar biasa.
Ia merupakan bagian dari generasi emas Spanyol yang menjuarai Piala Dunia 2010 serta Euro 2008 dan 2012.
Namun, prestasi masa lalu tidak otomatis menjamin kesuksesan di kursi pelatih.
Belanda kini membutuhkan lebih dari sekadar nama besar.
Mampukah Xavi Menghidupkan Lagi Oranje?
Ekspektasi publik Belanda akan tinggi.
Kegagalan di Piala Dunia 2026 membuat Xavi langsung menghadapi tuntutan untuk membangun kembali kepercayaan terhadap Oranje.
Namun, di sisi lain, penunjukannya menawarkan sesuatu yang menarik: pelatih asal Spanyol dengan filosofi yang justru sangat dekat dengan akar sepak bola Belanda.
Xavi memiliki pengalaman sebagai pemain elite, pernah belajar dari pelatih-pelatih Belanda, memahami filosofi Cruyff, dan sudah merasakan tekanan menangani Barcelona.
Kini semua pengalaman tersebut harus diterjemahkan ke level tim nasional.
Jika berhasil, Xavi berpeluang membawa Belanda memasuki era baru dengan permainan atraktif sekaligus kompetitif.
Perjalanan menuju Piala Dunia 2030 pun resmi dimulai. (*)
Editor : Ali Sodiqin