RADARBANYUWANGI.ID - Undian putaran kedua EFL Cup 2026-2027 belum menghasilkan jadwal ideal. Imbasnya kondisi itu memunculkan persoalan jadwal yang cukup rumit.
Chelsea dan Fulham menjadi dua klub Premier League yang paling berpotensi terdampak, sementara sejumlah tim League One juga terancam harus mengubah agenda pertandingan dalam waktu singkat.
Masalahnya bermula dari jadwal Premier League yang diumumkan pada Juni lalu. Laga Fulham versus Chelsea dipilih untuk dimainkan pada Senin, 24 Agustus. Keputusan tersebut sejak awal dinilai janggal karena kedua klub tidak tampil di kompetisi Eropa musim ini.
Konsekuensinya jelas. Chelsea dan Fulham diproyeksikan baru memainkan pertandingan putaran kedua EFL Cup pada Kamis, 27 Agustus. Demi memberi ruang, pertandingan pekan kedua Premier League kedua klub pun digeser ke Minggu.
Namun, situasi menjadi jauh lebih pelik setelah hasil undian putaran kedua EFL Cup mempertemukan Chelsea dengan Luton Town dan Fulham dengan AFC Wimbledon.
Chelsea akan menjamu Luton di Stamford Bridge, sedangkan Fulham menerima kedatangan AFC Wimbledon di Craven Cottage. Dua stadion tersebut hanya berjarak sekitar dua mil. Di sinilah persoalan keamanan dan kepolisian ikut masuk ke dalam hitungan.
Chelsea dan Fulham Terjepit Jadwal
Kedekatan Stamford Bridge dengan Craven Cottage membuat kepolisian biasanya tidak mengizinkan Chelsea dan Fulham menggelar pertandingan kandang pada hari yang sama, terlebih dengan waktu sepak mula yang berdekatan.
Jika aturan tersebut tetap diterapkan, salah satu pertandingan EFL Cup Chelsea atau Fulham berpotensi tidak dapat dimainkan pada Kamis.
Alternatif lainnya juga tidak sederhana. Luton Town dijadwalkan menghadapi Wigan Athletic pada Sabtu, sedangkan AFC Wimbledon dijadwalkan bertandang ke Mansfield Town pada hari yang sama. Artinya, sedikit saja jadwal digeser, efek dominonya langsung menyebar ke empat klub.
Dalam skenario terburuk, dua dari Chelsea, Fulham, Luton, dan AFC Wimbledon bisa hanya memiliki waktu istirahat sekitar 48 jam di antara dua pertandingan.
Bagi klub Premier League yang memiliki kedalaman skuad lebih baik, kondisi tersebut tentu masih mungkin diatasi. Namun, persoalannya berbeda bagi klub dari kasta yang lebih rendah. Pergeseran jadwal berarti perubahan perjalanan, persiapan pemain, logistik, hingga koordinasi dengan suporter.
League One Ikut Kena Dampaknya
Persoalan belum berhenti di sana. EFL juga harus memikirkan rangkaian pertandingan League One yang sudah dijadwalkan pada 1 September.
Secara logika, pertandingan AFC Wimbledon di markas Burton Albion dan laga kandang Luton melawan Stockport County dapat digeser 24 jam menjadi 2 September. Tetapi keputusan tersebut tetap berpotensi menimbulkan persoalan baru.
Klub dan suporter harus menyesuaikan kembali agenda perjalanan. Belum lagi jika aturan kepolisian mengenai pertandingan kandang Chelsea dan Fulham pada hari yang sama tetap diberlakukan.
Dengan kata lain, satu keputusan jadwal Premier League berpotensi menciptakan efek domino hingga ke League One.
Solusi EFL Tidak Mudah
Jika Chelsea dan Fulham memang tidak diizinkan bermain pada Kamis, 27 Agustus, salah satu opsi yang mungkin dipertimbangkan EFL adalah menggeser pertandingan berikutnya Luton dan AFC Wimbledon selama 24 jam. Namun, kalender akhir pekan tersebut juga menyimpan jebakan lain.
Minggu itu merupakan hari libur nasional. Suporter Luton yang hendak bepergian menggunakan transportasi umum menuju Mansfield bisa terdampak. Hal serupa berlaku bagi pendukung Wigan Athletic yang harus melakukan perjalanan panjang menuju markas AFC Wimbledon.
Situasi semakin rumit karena Chelsea dijadwalkan menghadapi Brighton & Hove Albion pada Minggu dan pertandingan tersebut sudah dipilih untuk siaran langsung televisi.
Memindahkannya ke Senin bukan solusi ideal karena Aston Villa versus Arsenal sudah dijadwalkan pada hari tersebut.
Fulham juga menghadapi persoalan tersendiri. Mereka harus melakukan perjalanan jauh ke Sunderland untuk pertandingan pada Minggu. Jika laga tersebut tetap berlangsung sesuai jadwal, Fulham kemungkinan perlu berangkat ke timur laut Inggris sejak Sabtu.
Masalah yang Sebenarnya Bisa Dicegah Persoalan ini menunjukkan betapa tipisnya ruang fleksibilitas dalam kalender sepak bola Inggris.
Ketika jadwal pertandingan televisi ditentukan terlalu jauh sebelumnya tanpa memperhitungkan hasil undian kompetisi piala, potensi benturan menjadi sulit dihindari.
Chelsea dan Fulham sebenarnya berada dalam situasi yang tidak sepenuhnya mereka kendalikan. Penentuan pertandingan Premier League pada Senin membuat ruang untuk EFL Cup menjadi sempit. Setelah hasil undian keluar, efek berantainya baru terlihat.
Padahal, ada opsi yang relatif sederhana.
Pertandingan Fulham versus Chelsea bisa saja digelar pada Minggu, 23 Agustus, dengan sepak mula pukul 14.00 waktu setempat. Format seperti itu pernah digunakan pada laga Minggu Paskah pada April 2025.
Dengan pilihan tersebut, Chelsea dan Fulham memiliki ruang yang lebih masuk akal untuk memainkan pertandingan EFL Cup tanpa harus menyeret klub lain ke dalam persoalan penjadwalan.
Kini EFL berada dalam posisi sulit. Apa pun keputusan yang diambil, hampir pasti ada klub atau kelompok suporter yang merasa dirugikan.
Persoalannya bukan lagi sekadar menentukan kapan Chelsea atau Fulham bermain. Satu pertandingan yang bergeser bisa memaksa sejumlah klub lain mengubah perjalanan, waktu istirahat, hingga agenda kompetisi mereka. (*)
Editor : Niklaas Andries
Sumber : Radar Banyuwangi