RADARBANYUWANGI.ID - Paris Saint-Germain (PSG) belum selesai menikmati masa kejayaan. Setelah mengantar klub Prancis itu meraih trofi Liga Champions, Luis Enrique justru memasang target yang jauh lebih tinggi. Pelatih asal Spanyol tersebut bahkan memberikan sinyal kuat bahwa dirinya masih ingin berada di Parc des Princes untuk waktu yang panjang.
Pernyataan itu disampaikan Luis Enrique menjelang duel PSG melawan Aston Villa pada Piala Super Eropa. Laga tersebut menjadi kesempatan bagi PSG untuk kembali menambah koleksi trofi sekaligus membuka lembaran baru setelah musim lalu ditutup dengan pencapaian bersejarah.
Sejak ditunjuk menangani PSG pada 2023, Luis Enrique perlahan mengubah wajah klub ibu kota Prancis tersebut. PSG tidak lagi sekadar mengandalkan nama besar pemain bintang. Di bawah sentuhan pelatih 56 tahun itu, mereka berkembang menjadi tim yang lebih kolektif, agresif, dan memiliki identitas permainan yang jelas.
Puncaknya datang ketika PSG berhasil mengangkat trofi Liga Champions. Gelar tersebut menjadi pembuktian bahwa proyek yang dibangun bersama Luis Enrique akhirnya menemukan bentuk terbaiknya.
Menariknya, setelah pencapaian tersebut, Luis Enrique tidak memilih larut dalam euforia. Ia justru mengambil waktu selama tujuh pekan untuk beristirahat bersama keluarga.
"Saya tidak tinggal di Paris dan pergi selama tujuh pekan bersama keluarga. Itu waktu istirahat yang cukup tidak biasa dalam dunia sepak bola," ujar Luis Enrique dalam wawancara dengan situs resmi UEFA.
Namun, istirahat panjang bukan berarti benar-benar menjauh dari sepak bola. Luis Enrique mengakui bahwa seorang pelatih hampir tidak pernah bisa sepenuhnya terputus dari pekerjaannya.
Menurut dia, musim panas tetap menjadi periode penting untuk mengambil keputusan. Bahkan ketika tidak berada di kantor, pikirannya tetap terhubung dengan klub, pemain, serta persiapan menghadapi musim berikutnya.
Luis Enrique Tak Mau Disebut Jenius
Keberhasilan Luis Enrique membuat banyak pihak mencoba mencari formula di balik kesuksesan PSG. Sebagian bahkan menyebutnya sebagai seorang jenius. Label tersebut justru ditolak sang pelatih.
"Saya bukan seorang jenius dan tidak ingin menjadi seorang jenius. Saya merasa dilahirkan untuk berkompetisi karena di situlah saya merasa paling nyaman," katanya.
Bagi Luis Enrique, kompetisi bukan sekadar pertandingan sepak bola. Naluri untuk menang menjadi bagian dari dirinya, bahkan dalam aktivitas sederhana seperti bermain tenis, padel, hingga permainan papan.
Sikap kompetitif itu pula yang menjadi fondasi pendekatannya kepada pemain. Ia tidak ingin sekadar memerintah karena memiliki status sebagai pelatih.
Luis Enrique lebih memilih meyakinkan pemain dengan menjelaskan permainan secara sederhana. Baginya, pemain harus memahami alasan di balik setiap keputusan taktik, bukan hanya menjalankan instruksi secara mekanis.
Pendekatan tersebut menjadi salah satu perubahan penting di PSG. Klub yang sebelumnya kerap identik dengan kumpulan individu bertalenta kini tampil lebih terorganisasi sebagai sebuah kesatuan.
"Saya terobsesi untuk meningkatkan performa, hubungan dengan pemain, tim, tuntutan yang diberikan kepada saya, serta bagaimana mendapatkan yang terbaik dari mereka. Saya suka meyakinkan mereka, bukan hanya karena saya pelatih dan memberikan perintah," tutur Luis Enrique.
Target Gila PSG: Samai Rekor Real Madrid
Luis Enrique juga menegaskan bahwa sederet gelar yang sudah diraih tidak boleh membuat PSG terlena.
Menurutnya, kemenangan yang sudah terjadi merupakan bagian dari sejarah. Tantangan sebenarnya adalah mempertahankan rasa lapar untuk kembali menjadi juara. Di titik inilah ambisi PSG menjadi semakin besar.
Luis Enrique menyebut klubnya kini menghadapi tantangan yang nyaris belum pernah terjadi dalam sejarah sepak bola Eropa: memenangkan Liga Champions tiga musim secara beruntun.
"Ketika orang mengatakan kepada saya bahwa Anda sudah memenangkan banyak gelar, itu tidak lagi penting. Itu masa lalu. Saya berkonsentrasi untuk menghidupkan kembali keinginan untuk menang," ujarnya.
Pelatih asal Asturias itu sadar target tersebut bukan perkara mudah. Sepanjang sejarah Liga Champions, hanya Real Madrid yang pernah mampu menjadi juara tiga kali berturut-turut.
Kini PSG memiliki kesempatan untuk menyamai pencapaian tersebut.
"Ini tantangan yang unik, hampir belum pernah terjadi dalam sejarah sepak bola Eropa: menyamai Real Madrid dengan memenangkan Liga Champions untuk ketiga kalinya secara beruntun. Wow! Itu belum pernah dilakukan siapa pun selain Real Madrid. Kami bisa menyamai mereka," tegasnya.
Pernyataan tersebut menunjukkan perubahan posisi PSG di peta sepak bola Eropa. Dua tahun lalu, PSG belum dianggap sebagai kandidat utama. Sekarang, status favorit justru melekat kuat kepada mereka.
Namun, Luis Enrique memahami bahwa status tersebut memiliki konsekuensi.
"Jika ingin mempertahankan status itu, kami harus bekerja lebih keras lagi," katanya.
Ingin Bertahan Lama di Paris
Sinyal paling jelas mengenai masa depan Luis Enrique muncul ketika pembicaraan beralih kepada kontraknya di PSG yang masih berlaku hingga 2027.
Alih-alih memberikan jawaban diplomatis, sang pelatih justru mengungkapkan keinginannya untuk bertahan lebih lama.
"Saya berharap bisa berada di sini selama bertahun-tahun lagi," ujarnya.
Luis Enrique mengaku proyek PSG merupakan salah satu pekerjaan yang paling membuatnya bersemangat sepanjang karier sebagai pelatih. Ia juga mengenang awal pertemuannya dengan Luis Campos, penasihat sepak bola PSG.
Menurutnya, hanya dalam waktu sekitar 15 menit, keduanya sudah menemukan kesamaan visi mengenai proyek yang ingin dibangun di Paris.
"Saya tidak akan pernah melupakan hari ketika Luis Campos, penasihat sepak bola saya, datang ke rumah. Kami hanya membutuhkan waktu 15 menit untuk memahami bahwa kami memiliki visi yang sama. Tidak diragukan lagi, ini merupakan proyek yang paling membuat saya bersemangat sebagai pelatih," katanya.
Pernyataan itu sekaligus menjadi kabar yang menenangkan bagi PSG. Klub tidak hanya memiliki pelatih yang sukses, tetapi juga sosok yang masih memiliki ambisi besar untuk melanjutkan proyeknya.
PSG Tak Boleh Terjebak Zona Nyaman
Tantangan PSG sekarang justru lebih berat dibandingkan ketika mereka belum memenangkan Liga Champions. Dulu, mereka mengejar pengakuan. Kini, mereka harus mempertahankannya.
Status juara Eropa membuat setiap lawan datang dengan motivasi ekstra. Setiap kesalahan akan lebih mudah disorot. Setiap penurunan performa akan dibandingkan dengan standar musim sebelumnya. Karena itu, ucapan Luis Enrique soal bekerja lebih keras bukan sekadar retorika.
PSG harus menjaga struktur permainan, kedalaman skuad, sekaligus mempertahankan mentalitas kompetitif yang menjadi ciri mereka sejak musim lalu.
"Saya akan memberikan yang terbaik. Akan sangat sulit untuk terus menang, tetapi kami tidak akan membiarkan apa pun terjadi begitu saja," kata Luis Enrique.
Jika konsistensi tersebut mampu dipertahankan, PSG bukan hanya berpeluang mempertahankan dominasinya di Prancis. Mereka juga memiliki kesempatan menempatkan diri lebih dekat dengan kelompok elite sepanjang masa sepak bola Eropa.
Dan Luis Enrique tampaknya masih ingin menjadi orang yang memimpin perjalanan tersebut. (*)
Editor : Niklaas Andries
Sumber : Radar Banyuwangi