Como Melaju ke Liga Champions, Fabregas Balik Sindiran soal Uang Djarum

Ali Sodiqin • Dipublikasikan Selasa, 11 Agustus 2026 | 18:01 WIB
Cesc Fabregas (Foto: AFP/GLYN KIRK)
Cesc Fabregas (Foto: AFP/GLYN KIRK)

RADAR BANYUWANGI – Uang besar pemilik asal Indonesia kerap disebut sebagai bahan bakar utama kebangkitan Como. Namun, Cesc Fabregas punya jawaban telak. Pelatih asal Spanyol itu menegaskan, lonjakan prestasi klub dari tepian Danau Como tersebut tidak bisa semata-mata diukur dari besarnya belanja pemain.

Fabregas membawa Como melewati perjalanan luar biasa dalam tiga tahun. Dari klub Serie B, Como kini mampu menembus panggung Liga Champions. Pencapaian itu membuat tudingan bahwa kesuksesan klub hanya ditopang kekuatan finansial pemilik, Djarum Group melalui SENT Entertainment, semakin kerap muncul.

Fabregas tidak menampik Como memang mengeluarkan uang untuk memperkuat skuad. Namun, menurut dia, persoalan sebenarnya bukan berapa besar dana yang tersedia, melainkan bagaimana sebuah klub mengelola sumber daya yang dimiliki.

"Benar bahwa Como mengeluarkan uang, tetapi pertumbuhan klub ini berjalan dengan kecepatan yang terus terang belum pernah terjadi sebelumnya," ujar Fabregas kepada La Gazzetta dello Sport.

Pernyataan tersebut sekaligus menjadi pembelaan Fabregas terhadap proyek yang dibangun Como. Ia menilai keberhasilan tidak bisa dilepaskan dari cara klub memilih pemain, mengembangkan talenta, serta memaksimalkan kemampuan setiap individu.

Fabregas Bandingkan Como dengan PSG dan Arsenal

Untuk memperkuat argumennya, Fabregas membawa dua nama besar sepak bola Eropa: Paris Saint-Germain dan Arsenal.

Menurut mantan pemain Barcelona, Chelsea, dan Timnas Spanyol tersebut, besarnya anggaran tidak otomatis membuat sebuah klub langsung meraih trofi atau mencapai target besar.

"Paris Saint-Germain menghabiskan ratusan juta dan menunggu 15 tahun sebelum memenangi Liga Champions, sementara Arsenal harus menunggu tujuh tahun untuk juara Premier League," katanya.

Fabregas kemudian menegaskan prinsip yang menjadi pegangan dalam membangun Como.

"Saya tidak melihat berapa uang yang dibelanjakan, melainkan bagaimana mengeluarkan yang terbaik dari skuad dan tiap individu," tegasnya.

Yang menarik, Fabregas juga mengungkap bahwa beban gaji Como justru bukan yang terbesar di Serie A.

"Adil juga untuk mengatakan bahwa tagihan gaji kami tidak besar. Ada delapan atau sembilan tim di liga ini dengan pengeluaran gaji lebih tinggi daripada kami," ungkapnya.

Dengan kata lain, Como tidak sekadar mengandalkan kekuatan finansial. Efisiensi perekrutan, pengembangan pemain, serta strategi di lapangan menjadi bagian penting dari proyek klub tersebut.

Milik Djarum, Como Jadi Sorotan Publik Indonesia

Como berada di bawah kepemilikan Djarum Group melalui perusahaan investasi SENT Entertainment yang berbasis di London. Keterlibatan investor asal Indonesia membuat perjalanan klub tersebut mendapat perhatian khusus dari publik Tanah Air.

Namun, Fabregas ingin capaian Como dinilai lebih luas daripada sekadar besarnya modal pemilik.

Dalam waktu relatif singkat, klub mampu membangun fondasi untuk bersaing di level tertinggi sepak bola Italia. Keberhasilan tersebut sekaligus mengangkat nama Fabregas sebagai salah satu pelatih muda yang paling diperhitungkan di Serie A.

Efeknya, sejumlah klub besar Italia dikabarkan tertarik memakai jasanya.

Inter Milan, AC Milan, Napoli, hingga AS Roma disebut sempat melakukan pendekatan dalam 12 bulan terakhir. Akan tetapi, Fabregas memilih tetap berada di Como.

"Ketika saya membuat keputusan, saya tidak mengubahnya, jadi saya memang tidak mungkin meninggalkan Como," ujarnya.

Fabregas mengaku tetap mendengarkan klub-klub yang datang sebagai bentuk penghormatan. Namun, komunikasi tersebut bukan berarti dirinya membuka peluang meninggalkan Como.

"Saya sangat jelas kepada Presiden saya. Saya mendengarkan pihak lain sebagai bentuk penghormatan, karena itu juga memberi saya kesempatan menjelaskan alasan saya," lanjutnya.

Nico Paz Jadi Bukti Kejelian Como

Salah satu proyek yang mencerminkan strategi Como adalah Nico Paz. Klub tersebut berhasil menebus sisa 50 persen kepemilikan pemain muda Argentina itu dari Real Madrid, meski raksasa Spanyol tersebut masih memegang klausul buyback.

Paz kini menjadi salah satu aset paling menarik di skuad Como.

Pemain berusia 21 tahun itu bahkan kerap dibandingkan dengan legenda AC Milan, Kaka. Fabregas mengakui ada sejumlah kemiripan, meski karakter keduanya berbeda.

"Kaka sedikit lebih eksplosif. Dia punya dorongan ke depan yang, seperti Andres Iniesta, tidak bisa dihentikan. Begitu dia mulai berlari, kau tidak bisa mengejarnya kembali," kata Fabregas.

Sementara Paz, menurut dia, lebih mengandalkan kekuatan fisik dan kecerdasan posisi.

"Nico sedikit lebih fisik, lebih posisional, lebih statis, tetapi dia tahu cara menggunakan tubuhnya dengan cara berbeda dari yang lain."

Fabregas bahkan melihat Paz memiliki modal lengkap untuk berkembang menjadi pemain elite.

"Nico Paz punya segalanya, fisik dan kualitas. Nico punya keberanian, visi, dan ambisi yang luar biasa. Dia berusia 21 tahun, tetapi rasanya seperti sudah bermain selama satu dekade," tuturnya.

Bagi Fabregas, mengembangkan pemain muda bukan sekadar meningkatkan kemampuan teknis. Mentalitas dan ambisi juga harus terus ditempa.

"Seperti semua pemain muda, kau perlu terus mendorongnya, membantu mengembangkan pribadinya sekaligus pemainnya. Begitulah cara menciptakan pemain yang bisa masuk ke Juventus, Inter, atau Real Madrid," tegasnya.

Mourinho dan Conte Jadi Referensi Fabregas

Kesuksesan Fabregas sebagai pelatih juga tidak terlepas dari pengalaman panjangnya bersama sejumlah manajer elite.

Dua sosok yang paling membekas dalam perjalanan kepelatihannya adalah Jose Mourinho dan Antonio Conte. Keduanya pernah menangani Fabregas ketika masih menjadi pemain.

"Mourinho bermain dengan pikiran saya. Dia akan melakukan sesuatu kepada saya sambil tahu betul hal itu tidak akan berhasil pada pemain lain. Dia sangat cerdas," kenang Fabregas.

Sementara Conte, menurut Fabregas, merupakan sosok yang sangat kuat dalam membangun disiplin dan standar tim.

"Conte juga pelatih yang tidak membiarkan siapa pun menganggap sesuatu sudah pasti. Setiap pemain diperlakukan dengan cara yang sama. Dia punya visi yang kuat," ujarnya.

Warisan dari para pelatih besar itu kini menjadi bagian dari identitas Fabregas saat membangun Como.

Ia tidak sekadar mengejar kemenangan, tetapi berusaha menciptakan sistem yang mampu membuat setiap pemain berkembang. Filosofi itulah yang kini diuji di panggung yang jauh lebih besar setelah Como memastikan langkah menuju Liga Champions.

Bagi Fabregas, perjalanan Como menjadi bukti bahwa uang memang penting dalam sepak bola modern. Namun, modal finansial tanpa strategi, pengembangan pemain, dan kemampuan memaksimalkan skuad tidak otomatis melahirkan prestasi.

Dan di situlah Fabregas ingin membuktikan bahwa kisah Como bukan sekadar cerita tentang uang pemilik Indonesia, melainkan tentang bagaimana sebuah klub mengubah investasi menjadi proyek sepak bola yang kompetitif. (*)

Editor : Ali Sodiqin
Sumber : Radar Jember
cesc fabregas Djarum Group como Nico Paz liga champions