Rodri Pilih Barcelona, Bukan Real Madrid: Transfer Hijack yang Bikin Los Blancos Terpukul

Niklaas Andries • Dipublikasikan Sabtu, 8 Agustus 2026 | 06:48 WIB
PINDAH: Rodri dikabarkan lebih tertarik pindah ke Barcelona ketimbang Real Madrid (Manchester City)
PINDAH: Rodri dikabarkan lebih tertarik pindah ke Barcelona ketimbang Real Madrid (Manchester City)

RADARBANYUWANGI.ID - Real Madrid tampaknya harus menelan pil pahit dalam perburuan salah satu gelandang terbaik dunia. Rodri, maestro lini tengah Manchester City sekaligus pemenang Ballon d'Or 2024, disebut telah memilih Barcelona sebagai destinasi berikutnya.

Keputusan itu menjadi pukulan telak bagi Madrid. Sebab, Los Blancos sebelumnya diyakini berada di posisi terdepan untuk membawa gelandang Timnas Spanyol tersebut pulang ke ibu kota Spanyol. Namun, situasi berubah drastis dalam dua pekan terakhir.

Barcelona bergerak cepat ketika Madrid justru masih berkutat dalam negosiasi. Blaugrana kini berada di posisi terdepan untuk mendapatkan Rodri, meski tawaran awal mereka kepada Manchester City dikabarkan telah ditolak.

Jika transfer tersebut benar-benar terwujud, Rodri berpotensi meninggalkan Etihad Stadium dengan harga relatif murah. Kontraknya bersama Manchester City memasuki 12 bulan terakhir.

Nilai sekitar £60 juta atau sekitar USD 81 juta disebut menjadi angka yang mungkin diterima City untuk melepas pemain berusia 30 tahun tersebut. Bagi Barcelona, kesempatan seperti ini terlalu besar untuk dilewatkan.

Madrid Semula Punya Keunggulan

Real Madrid memiliki alasan kuat untuk percaya diri. Minat Los Blancos terhadap Rodri sebenarnya bukan cerita baru. Ketertarikan itu kembali menguat setelah sang gelandang tampil luar biasa bersama Spanyol di Piala Dunia 2026.

Rodri bahkan dinobatkan sebagai pemain terbaik turnamen dan membawa reputasinya semakin tinggi.

Madrid melihatnya sebagai sosok ideal untuk memperkuat fondasi lini tengah. Kemampuan membaca permainan, menjaga keseimbangan tim, serta mengontrol tempo membuat Rodri dipandang sebagai peningkatan signifikan dibandingkan opsi yang tersedia saat ini.

Aurelien Tchouameni dan Eduardo Camavinga memiliki kualitas masing-masing. Namun, Rodri menawarkan sesuatu yang berbeda: pengalaman, ketenangan, serta kemampuan mengendalikan pertandingan dari area terdalam lapangan.

Karena itu, Madrid sempat diyakini hanya tinggal menunggu waktu untuk menyelesaikan kesepakatan. Ternyata tidak.

Barcelona Datang di Saat yang Tepat

Barcelona membaca situasi dengan lebih cepat. Cedera serius Frenkie de Jong setelah Piala Dunia menjadi salah satu faktor yang membuat Blaugrana semakin agresif. De Jong mengalami cedera ligamen kolateral medial dan diperkirakan menepi sekitar empat bulan.

Operasi pun masih menjadi kemungkinan. Kehadiran Rodri kemudian terlihat seperti kepingan yang hilang.

Gelandang asal Spanyol itu sangat cocok dengan filosofi permainan Barcelona yang mengandalkan penguasaan bola. Di bawah Hansi Flick, karakter Rodri sebagai pemain yang mampu mengatur ritme dari posisi gelandang bertahan membuatnya memiliki profil yang sangat relevan.

Lebih menarik lagi, Rodri tidak perlu beradaptasi terlalu jauh dengan lingkungan sepak bola Spanyol. Sejumlah rekannya di tim nasional juga berada di Barcelona. Dari sisi teknis, filosofi, hingga hubungan personal, Camp Nou menawarkan paket yang sulit ditolak.

Rodri bahkan disebut lebih memilih Barcelona dibandingkan Madrid. Agen Rodri, Pablo Barquero, mengonfirmasi arah keputusan tersebut kepada radio Spanyol Cadena SER.

"Rodri memberi tahu Madrid bahwa keputusannya adalah bergabung dengan Barca," ujar Barquero.

Kalimat tersebut sekaligus menjadi tanda bahwa Madrid telah kehilangan keunggulan yang sebelumnya mereka miliki.

Saga Transfer yang Dipenuhi Versi Berbeda

Drama perebutan Rodri tidak berhenti pada keputusan sang pemain. Media Spanyol menghadirkan sejumlah versi berbeda mengenai mengapa negosiasi Madrid gagal.

Salah satu laporan menyebut Madrid sebenarnya sempat mencapai kesepakatan dengan City, tetapi kemudian mencoba menurunkan nilai transfer pada tahap akhir. Negosiasi pun tersendat.

Versi lain menyebut Rodri mulai kehilangan kesabaran karena Madrid terlalu lama mengambil keputusan. Ada pula laporan yang menyatakan Madrid hanya bersedia mengeluarkan sekitar £34 juta atau USD 46 juta.

Tidak berhenti di sana, muncul pula spekulasi bahwa Rodri sejak awal menggunakan ketertarikan Madrid untuk memancing Barcelona memberikan tawaran.

Kebenaran dari berbagai versi tersebut masih sulit dipastikan. Yang jelas, hasil akhirnya sama: Madrid kehilangan kesempatan mendapatkan pemain yang sebelumnya mereka incar.

Rodri Bisa Mengubah Peta Persaingan La Liga

Dampak transfer ini berpotensi jauh lebih besar daripada sekadar kehilangan satu pemain. Jika Rodri benar-benar berlabuh di Barcelona, persaingan La Liga musim depan bisa berubah.

Bayangkan lini tengah Barcelona yang memiliki Pedri, Frenkie de Jong, Gavi, dan Rodri. Dengan Rodri berdiri sebagai fondasi, Barcelona mendapatkan pemain yang mampu memutus serangan lawan sekaligus menjadi titik awal pembangunan serangan.

Inilah yang membuat transfer tersebut berbahaya bagi Madrid. Rodri bukan sekadar gelandang bertahan. Ia merupakan pengatur permainan dari kedalaman.

Di Manchester City, perannya sangat penting dalam menjaga struktur permainan. Ketika berada dalam kondisi terbaik, Rodri mampu membuat tim mendominasi pertandingan tanpa harus selalu mengandalkan permainan vertikal.

Pengalaman bersama Pep Guardiola membentuknya menjadi gelandang dengan kecerdasan taktik luar biasa. Barcelona kini berpotensi mendapatkan pemain dengan karakter yang sangat dekat dengan legenda mereka, Sergio Busquets.

Madrid Kehilangan Lebih dari Sekadar Pemain

Bagi Real Madrid, kegagalan ini juga memiliki dimensi psikologis. Los Blancos selama bertahun-tahun dikenal sebagai salah satu klub paling efektif dalam memenangkan persaingan transfer pemain elite. Mereka terbiasa mendapatkan target utama meski harus bersaing dengan klub-klub besar lainnya. Kali ini situasinya berbeda.

Madrid bukan hanya gagal mendapatkan Rodri. Mereka berpotensi melihat pemain tersebut memperkuat rival terbesar mereka.

Lebih menyakitkan lagi, Barcelona bisa mendapatkannya dengan harga yang relatif murah karena kontrak Rodri di Manchester City memasuki tahun terakhir.

Kegagalan tersebut juga terasa semakin pahit setelah Madrid kehilangan momentum dalam persaingan domestik melawan Barcelona. Rodri sendiri sebelumnya tidak pernah menutup pintu untuk kembali ke Madrid.

"Saya ingin kembali ke Spanyol, tentu saja," kata Rodri ketika ditanya mengenai kemungkinan bermain lagi di La Liga.

Ketika ditanya mengenai Real Madrid secara spesifik, dia bahkan mengakui sulit menolak salah satu klub terbesar dunia. Namun, kesempatan itu kini justru berada di tangan Barcelona.

Barcelona Mendapat Senjata Baru, Madrid Harus Berbenah Jika transfer ini terealisasi, Barcelona mendapatkan lebih dari seorang gelandang.

Mereka mendapatkan pemain yang mampu menjadi penghubung antara pertahanan dan lini serang, menjaga keseimbangan tim, sekaligus mengontrol tempo pertandingan. Bagi Madrid, situasinya jauh lebih rumit.

Kehilangan Rodri berarti mereka harus mencari alternatif lain untuk memperkuat lini tengah. Masalahnya, pemain dengan karakteristik dan pengalaman seperti Rodri tidak mudah ditemukan di pasar transfer. Di sinilah kegagalan Madrid bisa memiliki konsekuensi panjang.

Barcelona berpotensi mendapatkan salah satu gelandang terbaik dunia pada fase karier ketika pengalaman dan kematangan taktiknya sedang berada di titik tinggi. Sementara itu, Madrid harus menyaksikan sang pemain memperkuat musuh bebuyutannya.

Ironisnya, peluang untuk menghindari skenario tersebut sebenarnya pernah berada di tangan Los Blancos. Kini, Barcelona berada di pole position.

Dan jika Rodri benar-benar mengenakan seragam Blaugrana, kegagalan Madrid dalam transfer ini bisa dikenang sebagai salah satu pembajakan transfer paling menyakitkan dalam persaingan El Clasico. (*)

 

Editor : Niklaas Andries
Sumber : Radar Banyuwangi
transfer rordri barcelona real madrid Rodri manchester city