RADARBANYUWANGI.ID - Jadon Sancho pernah diproyeksikan sebagai salah satu talenta terbesar Inggris. Kini, pemain dengan 23 caps bersama Timnas Inggris itu justru berada di persimpangan paling sulit dalam kariernya.
Setelah menjalani periode pinjaman yang mengecewakan bersama Aston Villa, Sancho memasuki bursa pemain bebas. Manchester United memilih tidak memperpanjang kontraknya setelah serangkaian masa peminjaman yang tidak kunjung mengembalikan sang winger ke level terbaiknya.
Ironisnya, perjalanan karier Sancho pernah dimulai dengan begitu menjanjikan. Pada Oktober 2018, ketika untuk kali pertama memanggil Sancho ke Timnas Inggris, Gareth Southgate menggambarkan sang pemain sebagai sosok yang berani mengambil risiko.
Sancho memang sudah menunjukkan keberanian tersebut sejak usia 17 tahun. Ia meninggalkan akademi Manchester City dan memilih Borussia Dortmund pada 2017.
Keputusan itu sempat dianggap sebagai perjudian besar. Namun, Sancho justru menjawabnya dengan performa luar biasa. Di Dortmund, ia berkembang menjadi pemain sayap yang eksplosif, kreatif, dan berani menghadapi pemain bertahan lawan.
Dalam 137 penampilan bersama klub Jerman tersebut, Sancho mencatatkan total 114 kontribusi gol berupa gol dan assist. Bundesliga dan Liga Champions menjadi panggung yang membuat namanya semakin berkibar.
Rio Ferdinand bahkan pernah dibuat terpukau ketika melihat aksi Sancho menghadapi Tottenham Hotspur pada fase 16 besar Liga Champions 2019.
Saat itu, Sancho baru berusia 18 tahun. Namun, keberaniannya menghadapi pemain-pemain berpengalaman membuat Ferdinand yakin bahwa Inggris telah menemukan calon bintang besar. Prediksi tersebut memang tidak sepenuhnya menjadi kenyataan.
Sancho tetap menjadi bagian dari Timnas Inggris, tetapi kepindahannya ke Manchester United pada 2021 dengan nilai transfer £73 juta atau sekitar USD 98 juta justru menjadi awal dari periode paling rumit dalam kariernya.
Dua Musim di Manchester United yang Tidak Sesuai Ekspektasi
Manchester United merekrut Sancho dengan harapan besar. Old Trafford seharusnya menjadi panggung untuk membuktikan bahwa dirinya memang layak disebut sebagai salah satu pemain muda terbaik Eropa. Namun, sejak awal, situasinya tidak sepenuhnya ideal.
Ole Gunnar Solskjaer lebih banyak menempatkan Sancho di sisi kanan. Padahal, posisi yang paling nyaman dan efektif bagi sang pemain adalah sektor kiri. Kehadiran Marcus Rashford di posisi tersebut membuat ruang bagi Sancho semakin terbatas.
Masalah adaptasi juga diperburuk infeksi telinga yang membuatnya sempat menjalani perawatan di rumah sakit. Integrasinya ke tim pun berjalan lebih lambat.
Manchester United sendiri ketika itu sedang mengalami persoalan konsistensi. Pergantian Solskjaer dengan Ralf Rangnick pada pertengahan musim semakin menyulitkan Sancho menemukan ritme permainan. Musim berikutnya sempat memberikan harapan.
Di bawah Erik ten Hag, Sancho mencetak gol penting ketika Manchester United menghadapi Liverpool dan Leicester City. Ia kembali ditempatkan di sisi kiri dan terlihat lebih dekat dengan versi terbaiknya saat bermain untuk Dortmund. Namun, momentum tersebut tidak bertahan lama.
Memasuki Oktober, kebugaran dan kepercayaan dirinya menurun. Posisi di tim utama hilang dan Sancho akhirnya tidak masuk skuad Inggris untuk Piala Dunia 2022. Ten Hag kemudian memberinya program latihan individual selama sekitar tiga bulan dengan alasan persoalan fisik dan mental.
Sancho memang kembali dan ikut membantu Manchester United memenangkan Piala Liga Inggris serta finis di posisi ketiga Premier League. Namun, kontribusinya masih jauh dari ekspektasi: tujuh gol dan tiga assist sepanjang musim.
Perselisihan dengan Ten Hag Mengubah Segalanya
Titik balik terbesar terjadi pada awal musim 2023-2024. Sancho tampil sebagai pemain pengganti dalam tiga laga pertama Premier League. Penampilan terakhirnya terjadi ketika Manchester United bangkit mengalahkan Nottingham Forest 3-2 di Old Trafford.
Setelah itu, namanya menghilang dari skuad. Ten Hag tidak memasukkan Sancho ketika Manchester United menghadapi Arsenal dan mengkritik performanya dalam latihan.
Sancho kemudian merespons melalui media sosial. Ia merasa dijadikan kambing hitam. Perselisihan tersebut berkembang menjadi konflik terbuka antara pemain dan pelatih. Sancho menolak meminta maaf dan akhirnya tersingkir dari skuad utama.
Selama beberapa bulan, ia berlatih secara terpisah atau bersama pemain akademi. Hubungan antara Sancho dan Manchester United praktis berada di titik nadir. Secara karier, keputusan untuk berkonfrontasi dengan Ten Hag menjadi salah satu momen yang paling merugikan Sancho.
Bukan semata-mata karena konflik dengan pelatih, melainkan karena Sancho kehilangan kesempatan untuk membangun kembali posisinya di tim saat masa depan Ten Hag sendiri mulai tidak pasti.
Pada Januari, Sancho akhirnya kembali ke Dortmund dengan status pinjaman. Anehnya, ia kembali menemukan sentuhan terbaiknya di lingkungan yang sudah dikenalnya. Dortmund bahkan melaju hingga final Liga Champions.
Namun, keberhasilan tersebut sekaligus mempertegas satu persoalan: Sancho terlihat jauh lebih nyaman ketika tekanan tidak sebesar yang ia rasakan di Manchester United.
Chelsea dan Aston Villa Tak Mampu Menghidupkan Kembali Kariernya
Setelah kembali dari Dortmund, Sancho sempat memperbaiki hubungan dengan Ten Hag. Ia bahkan tampil beberapa menit dalam Community Shield menghadapi mantan klubnya, Manchester City.
Namun, kesempatan itu tidak berlanjut. Sancho kemudian dipinjamkan ke Chelsea dengan klausul kewajiban membeli senilai £25 juta. Di London, masalah lama kembali muncul. Sancho memang tampil dalam 42 pertandingan, tetapi hanya separuhnya sebagai starter. Ia juga hanya empat kali bermain penuh selama 90 menit.
Ada beberapa momen penting, termasuk gol melawan Tottenham dan gol dalam kemenangan Chelsea atas Real Betis di final Conference League. Namun, secara keseluruhan, performanya belum cukup meyakinkan Chelsea untuk mempertahankan dirinya secara permanen.
Chelsea akhirnya memilih membayar penalti sekitar £5 juta untuk membatalkan transfer permanen tersebut. Manchester United pun tidak lagi membuka pintu untuk Sancho.
Di bawah Ruben Amorim, sang winger kembali masuk kelompok pemain yang tidak masuk rencana utama tim. Aston Villa kemudian datang dengan skema peminjaman pada September.
Harapan sempat muncul karena Marcus Rashford sebelumnya mampu memberikan dampak positif dalam situasi serupa. Namun, Sancho tidak mampu mengikuti jejak rekannya tersebut. Unai Emery lebih sering memanfaatkannya sebagai pemain pengganti pada fase akhir pertandingan.
Ironisnya, Sancho kembali tampil di final kompetisi Eropa. Ia masuk pada menit ke-81 ketika Aston Villa mengalahkan Freiburg 3-0 di final Liga Europa. Itu menjadi final Eropa ketiga yang diikuti Sancho dalam tiga musim masa peminjaman.
Statistik tersebut terdengar mengesankan. Tetapi jika dilihat lebih dalam, justru ada paradoks di sana: Sancho berada di klub-klub yang mencapai panggung besar, tetapi perannya semakin mengecil.
Ia bukan lagi pemain yang menentukan pertandingan. Ia lebih sering menjadi pemain yang menunggu kesempatan dari bangku cadangan.
Masalah Sancho Bukan Lagi Sekadar Taktik
Inilah bagian paling penting dari kisah Sancho. Masalahnya tidak lagi bisa dijelaskan hanya dengan posisi bermain, pergantian pelatih, atau ketidakcocokan sistem. Ketika bermain di Dortmund, Sancho memiliki kebebasan.
Ia berani membawa bola, menantang bek lawan, melakukan kombinasi cepat dan mengambil risiko di sepertiga akhir lapangan. Namun, ketika tekanan meningkat di Manchester United, keberanian tersebut perlahan menghilang.
Michael Carrick pernah menggambarkan kualitas alami Sancho sebagai pemain yang memiliki kemampuan membawa bola, kreativitas, koneksi permainan, serta kontrol bola yang sangat baik. Tetapi kualitas tersebut harus diikuti kemampuan untuk menghadapi tekanan dan mempertahankan level permainan ketika berada di lingkungan dengan tuntutan tinggi.
Dan di situlah persoalan terbesar Sancho. Ia seperti kehilangan keberanian yang dahulu membuatnya berbeda.
Sancho tidak lagi terlalu sering berlari langsung menghadapi bek lawan. Ia lebih berhati-hati dalam mengambil keputusan. Risiko yang dahulu menjadi kekuatannya berubah menjadi sesuatu yang justru jarang ia ambil. Dalam sepak bola elite, perubahan kecil semacam itu bisa sangat menentukan.
Pemain sayap hidup dari keberanian. Satu sprint, satu dribel, satu keputusan untuk masuk ke kotak penalti dapat mengubah pertandingan. Ketika rasa percaya diri hilang, senjata utama seorang winger juga ikut tumpul.
Masa Depan Sancho Kini Tidak Lagi Pasti
Dengan Manchester United memilih tidak melanjutkan kontraknya, Sancho memasuki fase baru sebagai pemain bebas. Sejumlah klub Eropa dan Timur Tengah disebut menunjukkan ketertarikan. Namun, persoalannya bukan sekadar apakah Sancho mendapatkan klub baru.
Pertanyaan yang jauh lebih besar adalah klub seperti apa yang masih bersedia mempertaruhkan proyek mereka kepadanya? Dortmund menjadi salah satu kemungkinan paling menarik. Klub Jerman itu disebut masih membuka pintu, meski terdapat keraguan mengenai kondisi fisik dan kemampuannya untuk kembali tampil di level tertinggi.
Menariknya, penampilan terbaik Sancho dalam beberapa tahun terakhir justru terjadi ketika membela Dortmund. Ia pernah tampil luar biasa ketika menghadapi Paris Saint-Germain dalam semifinal Liga Champions 2024.
Namun, performa tersebut kini lebih terasa seperti kilasan masa lalu daripada gambaran kemampuan Sancho saat ini. Jika klub-klub elite Eropa enggan mengambil risiko, Sancho mungkin harus menurunkan standar.
Liga Arab Saudi atau Qatar dapat menjadi pilihan realistis jika prioritasnya adalah mendapatkan kontrak besar sekaligus lingkungan dengan tekanan yang berbeda.
Bahkan kemunculan Sancho dalam sesi latihan bersama Flixton, klub yang berkompetisi di kasta kesepuluh sepak bola Inggris, sempat memunculkan spekulasi bahwa dirinya sedang menjalani trial.
Flixton kemudian menjelaskan bahwa Sancho hanya menggunakan fasilitas mereka untuk latihan pribadi. Situasinya memang belum sampai separah itu.
Tetapi fakta bahwa seorang pemain yang beberapa tahun lalu dihargai £73 juta kini harus menghadapi pertanyaan besar mengenai klub mana yang bersedia memberinya kesempatan menunjukkan betapa drastis perubahan kariernya. Usia 26 Tahun, Sancho Masih Punya Waktu untuk Bangkit
Kritik terhadap Sancho semakin keras.
Mantan striker Aston Villa, Gabby Agbonlahor, bahkan menilai performanya selama di Villa sangat mengecewakan. Ia mempertanyakan kecepatan, kemampuan melewati lawan, hingga produk akhir permainan Sancho. Agbonlahor juga mengkhawatirkan kemungkinan karier Sancho meredup jauh lebih cepat daripada yang diperkirakan.
Namun, menyimpulkan bahwa karier Sancho sudah selesai pada usia 26 tahun juga terlalu dini. Sepak bola memiliki banyak contoh pemain yang sempat kehilangan arah sebelum menemukan kembali performa terbaiknya.
Sancho masih memiliki modal yang tidak dimiliki banyak pemain: pengalaman di Bundesliga, Premier League, Liga Champions, tim nasional, serta sejumlah final kompetisi Eropa. Masalahnya sekarang bukan apakah ia memiliki bakat. Bakat itu sudah terbukti.
Yang harus ditemukan kembali adalah kepercayaan diri, konsistensi, kebugaran, dan terutama rasa lapar untuk membuktikan diri. Sancho pernah menjadi pemain yang membuat bek-bek senior Premier League ketakutan ketika usianya baru 18 tahun.
Kini, pada usia 26 tahun, tantangannya jauh lebih berat. Ia tidak lagi harus membuktikan bahwa dirinya berbakat. Ia harus membuktikan bahwa dirinya masih mampu menjadi pemain yang menentukan.
Karier Sancho kini berada di titik persimpangan.
Satu jalan bisa membawanya menjadi contoh lain tentang talenta besar yang gagal memenuhi potensinya.
Jalan lainnya masih terbuka: kembali menemukan keberanian yang dahulu membawanya dari akademi Manchester City menuju Dortmund, lalu menjadikannya salah satu pemain muda paling ditakuti di Eropa.
Sancho tinggal memilih bagaimana ia ingin dikenang. Sebagai pemain muda berbakat yang mencapai puncak terlalu cepat, atau sebagai petarung yang mampu belajar dari kesalahan dan kembali membungkam para pengkritiknya.
Untuk saat ini, tanda-tandanya memang lebih condong ke pilihan pertama. Namun, sepak bola belum menutup pintu bagi cerita kedua. (*)
Editor : Niklaas Andries
Sumber : Radar Banyuwangi