RADARBANYUWANGI.ID - Bursa transfer musim panas kembali menghadirkan saga menarik. Kali ini, sorotan mengarah kepada Cody Gakpo, penyerang serbabisa Liverpool yang masuk daftar incaran serius Tottenham Hotspur.
Manajer baru Spurs, Roberto De Zerbi, tengah membangun ulang fondasi skuadnya. Setelah melakukan sejumlah perubahan pada komposisi tim, pelatih asal Italia itu kini mengincar pemain yang dinilai mampu menghadirkan fleksibilitas taktik sekaligus meningkatkan produktivitas lini depan. Namun, ambisi Tottenham tidak akan mudah diwujudkan.
Liverpool sama sekali tidak berada dalam posisi ideal untuk melepas salah satu penyerang paling berpengalaman yang mereka miliki. Apalagi, The Reds baru kehilangan Mohamed Salah, sementara Hugo Ekitike masih menjalani proses pemulihan cedera tendon Achilles.
Situasi tersebut membuat Liverpool harus berpikir dua kali sebelum melepas Gakpo, meskipun mereka juga sedang berusaha mendatangkan winger Paris Saint-Germain, Bradley Barcola.
Bukan Sekadar Winger Kiri, Gakpo Adalah Penyerang Modern yang Disukai Roberto De Zerbi
Sekilas, Gakpo dikenal sebagai pemain sayap kiri. Namun jika melihat lebih dalam, profil pemain tim nasional Belanda tersebut jauh lebih kompleks dibanding label yang selama ini melekat padanya.
Sejak bergabung dari PSV Eindhoven pada Januari 2023, Gakpo telah dimainkan dalam berbagai peran, mulai dari winger kiri, penyerang tengah, false nine, dan second striker. Kemampuan berpindah posisi itulah yang membuat De Zerbi sangat tertarik.
Dalam filosofi permainan sang pelatih, penyerang utama bukan sekadar menunggu bola di kotak penalti. Ia dituntut turun ke area tengah, menghubungkan permainan, menarik bek lawan keluar dari posisinya, lalu membuka ruang bagi pemain sayap untuk menyerang. Karakter tersebut sangat identik dengan gaya bermain Gakpo.
Ia memiliki kontrol bola yang baik, kecerdasan membaca ruang, serta kualitas teknik untuk menjadi penghubung antarlini. Selain itu, Tottenham juga akan memperoleh keuntungan besar karena Gakpo mampu mengisi beberapa posisi sekaligus.
Dominic Solanke maupun Mathys Tel sama-sama beroperasi sebagai penyerang tengah. Namun, keduanya belum menawarkan fleksibilitas setinggi Gakpo yang bisa bergantian bermain di sektor sayap maupun tengah tanpa menurunkan kualitas permainan.
Statistik Membuktikan Performa Gakpo Jauh Lebih Baik daripada Anggapan Publik
Musim Premier League 2025-2026 memang menjadi salah satu musim yang memicu perdebatan di kalangan pendukung Liverpool. Gakpo hanya mencetak tujuh gol liga, jumlah terendahnya sejak berseragam Liverpool.
Namun jika hanya melihat jumlah gol, penilaian tersebut justru menjadi kurang adil. Data statistik lanjutan memperlihatkan bahwa Gakpo masih termasuk salah satu winger paling berbahaya di Eropa.
Beberapa catatan pentingnya meliputi:
Rata-rata 2,2 sentuhan di kotak penalti lawan setiap 90 menit, masuk delapan besar di lima liga top Eropa.
Masuk 10 besar winger dengan jumlah tembakan terbanyak dari permainan terbuka.
Masuk 10 besar pencipta peluang dari sektor sayap.
Bahkan dalam perbandingan terhadap winger lain di lima liga terbaik Eropa, Gakpo mencatat:
Persentil ke-98 dalam frekuensi tembakan.
Persentil ke-96 untuk keterlibatan di area menyerang.
Persentil ke-91 dalam ancaman di kotak penalti.
Artinya, hanya sedikit pemain sayap di Eropa yang mampu secara konsisten menempatkan diri pada posisi berbahaya seperti yang dilakukan Gakpo.
Sering Offside, tetapi Justru Menunjukkan Mentalitas Penyerang
Salah satu statistik yang cukup menarik adalah jumlah offside. Musim lalu, Gakpo tercatat 30 kali terjebak offside, terbanyak di Premier League. Sekilas angka itu tampak negatif.
Namun dari sisi analisis taktik, statistik tersebut justru menunjukkan bahwa ia terus melakukan pergerakan di belakang garis pertahanan lawan. Alih-alih hanya menunggu bola datang ke kaki, Gakpo aktif mencari ruang kosong untuk menerima umpan terobosan dan menciptakan peluang emas.
Inilah karakter penyerang modern yang sangat dihargai dalam sistem permainan De Zerbi. Ketika berada dalam performa terbaiknya, Gakpo piawai melakukan:
sprint menuju tiang jauh,
membaca waktu masuk ke kotak penalti,
bergerak dari sisi kiri menuju area sentral untuk menyelesaikan peluang.
Bukti paling nyata terlihat pada musim 2024-2025 ketika Liverpool meraih gelar juara. Saat itu Gakpo menyumbang 18 gol di semua kompetisi.
Angkanya Mengungguli Seluruh Penyerang Tottenham
Ketertarikan Tottenham semakin masuk akal ketika statistik Gakpo dibandingkan dengan para penyerang Spurs musim lalu. Dibandingkan Richarlison, Solanke, Mathys Tel hingga Randal Kolo Muani, Gakpo unggul dalam hampir seluruh indikator menyerang. Beberapa di antaranya:
Expected Goals (xG): 8,59
Total tembakan: 87
Assist: 5
Big chances created: 10
Richarlison memang mencetak gol liga lebih banyak. Namun ia melepaskan 26 tembakan lebih sedikit dibanding Gakpo serta hanya menciptakan separuh peluang besar. Dominic Solanke yang sempat dibekap cedera bahkan hanya menghasilkan:
20 tembakan
satu peluang besar yang berhasil diciptakan
Mathys Tel maupun Kolo Muani juga tidak mampu menyamai kontribusi statistik pemain asal Belanda tersebut.
Aktif Menyerang Sekaligus Rajin Bertahan
Keunggulan Gakpo tidak berhenti pada aspek menyerang. Ia juga memberikan kontribusi besar ketika tim kehilangan bola. Musim lalu ia membukukan:
87 kali merebut penguasaan bola
45 recovery di area tengah
13 intersep
Semua angka tersebut lebih tinggi dibanding Richarlison, Solanke maupun Mathys Tel.
Dalam aspek menggiring bola, Tel memang sedikit unggul dengan 39 dribel sukses. Namun tingkat keberhasilan dribel Gakpo justru lebih tinggi, mencapai 45,95 persen. Profil statistiknya juga menunjukkan kualitas komplet:
Persentil ke-78 dalam permainan kombinasi.
Persentil ke-75 untuk progresi umpan.
Persentil ke-67 dalam kreativitas menyerang.
Dengan tinggi badan mencapai 193 sentimeter, Gakpo juga menjadi ancaman serius dalam duel udara. Ia berada pada persentil ke-96 untuk intensitas duel udara di antara winger lima liga top Eropa.
Artinya, De Zerbi akan memiliki variasi serangan tambahan melalui umpan silang, bola diagonal maupun distribusi langsung ketika lawan menutup jalur build-up Tottenham.
Liverpool Punya Banyak Alasan Menolak Tawaran Tottenham
Semua kelebihan tersebut menjadi alasan utama Liverpool belum berniat menjual Gakpo. Jika melepasnya pada musim panas ini, Liverpool akan kehilangan dua penyerang senior sekaligus setelah kepergian Mohamed Salah.
Padahal Hugo Ekitike masih menjalani pemulihan cedera, sedangkan pemain muda seperti Victor Munoz dan Rio Ngumoha belum memiliki pengalaman yang cukup untuk memikul beban besar di lini depan. Liverpool juga mengetahui bahwa Gakpo merupakan pemain yang konsisten.
Sejak tiba di Anfield pada Januari 2023, ia selalu memberikan kontribusi stabil di Premier League dengan koleksi gol 7 gol, 8 gol, 10 gol, dan 7 gol.
Sejak November 2024, hanya Mohamed Salah yang mampu mencetak gol Premier League lebih banyak dibanding koleksi 17 gol Gakpo untuk Liverpool.
Dalam periode yang sama, hanya Salah dan Dominik Szoboszlai yang mencatat jumlah assist lebih tinggi.
Statistik tersebut memperlihatkan bahwa performa Gakpo tetap terjaga meski bermain di bawah beberapa pelatih berbeda dan berganti-ganti posisi.
Transfer yang Masuk Akal untuk Tottenham, tetapi Sulit Direalisasikan
Dari sudut pandang Tottenham, Gakpo adalah paket komplet. Ia mampu bermain di seluruh lini depan, produktif menciptakan peluang, aktif membantu pertahanan, kuat dalam duel udara, dan memiliki kecerdasan taktik yang sangat sesuai dengan filosofi Roberto De Zerbi.
Meski hanya mencetak tujuh gol liga musim lalu, data statistik menunjukkan penurunan itu lebih dipengaruhi performa kolektif Liverpool dibanding kualitas individu sang pemain.
Masalah terbesar justru berada di pihak Liverpool. Dengan kedalaman skuad yang belum sepenuhnya aman setelah kehilangan Salah dan masih menunggu pulihnya Ekitike, melepas Gakpo akan menjadi perjudian besar.
Karena itu, Tottenham mungkin memiliki alasan kuat untuk mengejar sang penyerang Belanda. Namun, meyakinkan Liverpool agar bersedia melepas salah satu aset paling berpengalaman di lini depan diprediksi menjadi tantangan yang jauh lebih sulit dibanding sekadar mencapai kesepakatan nilai transfer. (*)
Editor : Niklaas Andries
Sumber : Radar Banyuwangi