RADARBANYUWANGI.ID – Benfica membawa modal kepercayaan diri tinggi saat menjamu Hearts pada leg pertama babak ketiga kualifikasi Liga Europa 2026-2027 di Stadion Da Luz, Lisbon. Duel ini menjadi pertarungan penting karena pemenangnya akan semakin dekat mengamankan tiket menuju fase liga kompetisi kasta kedua antarklub Eropa tersebut.
Di atas kertas, wakil Portugal jauh lebih diunggulkan. Selain tampil dominan pada babak sebelumnya, Benfica juga menghadapi lawan yang tengah mengalami masa transisi dan belum menemukan performa terbaik di bawah pelatih anyar.
Benfica Bangkit Setelah Sempat Tersandung
Musim lalu Benfica memang gagal merebut kembali gelar Liga Portugal. Mereka mengakhiri kompetisi dengan catatan luar biasa, yakni tidak terkalahkan dalam 34 pertandingan berkat torehan 23 kemenangan dan 11 hasil imbang.
Namun konsistensi itu belum cukup menghentikan dominasi Porto yang finis delapan poin di depan Benfica. Memasuki musim baru, perubahan terjadi di kursi pelatih. Marco Silva kembali ke Portugal setelah bertahun-tahun menangani sejumlah klub Liga Inggris. Meski demikian, debutnya tidak berjalan mulus.
Benfica sempat dikejutkan kekalahan 1-2 saat bertandang ke markas St Gallen pada leg pertama babak kedua kualifikasi Liga Europa. Hasil tersebut sekaligus mengakhiri rekor 11 pertandingan tanpa kekalahan yang sebelumnya hanya mampu diputus Real Madrid di Liga Champions.
Respons Benfica langsung luar biasa.
Pada leg kedua di Lisbon, mereka menghancurkan wakil Swiss tersebut dengan skor telak 5-0. Penyerang asal Yunani, Vangelis Pavlidis, menjadi bintang lapangan setelah mencetak empat gol hanya dalam waktu 77 menit.
Bek anyar Clement Lenglet turut menyumbang satu gol pada laga debut kandangnya sehingga Benfica melenggang dengan agregat meyakinkan 6-2. Kemenangan besar itu menjadi sinyal bahwa Benfica mulai menemukan ritme permainan bersama Marco Silva.
Hearts Masih Terpuruk Setelah Musim yang Menyakitkan
Sebaliknya, Hearts datang ke Portugal dengan kondisi mental yang jauh dari ideal. Klub asal Edinburgh tersebut masih dibayangi kegagalan menyakitkan pada penghujung musim Liga Utama Skotlandia 2025-2026.
Mereka kehilangan peluang menjadi juara setelah kalah 1-3 pada laga penentuan, sehingga gelar akhirnya direbut rival mereka dengan selisih poin yang sangat tipis. Kesempatan mencatat sejarah sebagai klub pertama di luar dominasi Celtic dan Rangers sejak 1985 pun sirna.
Situasi semakin sulit ketika Hearts kehilangan sejumlah sosok penting.
Pelatih Derek McInnes hengkang, disusul kapten Lawrence Shankland dan gelandang andalan Cammy Devlin. Ketiga kepergian tersebut memaksa manajemen melakukan pembangunan ulang skuad secara besar-besaran.
Sebagai pengganti, Hearts menunjuk pelatih asal Belgia, Wouter Vrancken. Sayangnya, awal kepemimpinannya jauh dari harapan.
Hearts langsung tersingkir dari kualifikasi Liga Champions setelah dibantai Sturm Graz dengan agregat 0-6. Mereka kalah 0-4 di Austria sebelum kembali tumbang 0-2 di kandang sendiri. Kekalahan itu mengakhiri petualangan Hearts di kompetisi elite Eropa hanya dalam dua pertandingan.
Nasib buruk berlanjut saat kompetisi domestik dimulai. Hearts yang sempat unggul atas Aberdeen justru kebobolan pada menit ke-95 dan kalah 1-2.
Artinya, Vrancken masih belum mampu mempersembahkan kemenangan dalam tiga pertandingan pertamanya. Tekanan terhadap sang pelatih kini semakin besar menjelang lawatan sulit ke markas Benfica.
Pavlidis Jadi Ancaman Utama Benfica
Kepercayaan diri Benfica meningkat berkat ketajaman Pavlidis. Striker internasional Yunani itu tampil luar biasa dengan empat gol pada laga terakhir dan hampir pasti kembali dipercaya menjadi ujung tombak.
Sementara itu, Jhon Duran diperkirakan masih harus menunggu kesempatan tampil sebagai starter. Marco Silva juga kemungkinan mempertahankan komposisi pemain yang sukses menghancurkan St Gallen.
Georgiy Sudakov dan Jakub Kaminski diprediksi kembali mengisi lini serang bersama Pavlidis. Di kubu Hearts, beberapa pemain masih harus menepi akibat cedera.
Christian Borchgrevink, Stephen Kingsley, Craig Halkett, dan Ageu dipastikan belum dapat dimainkan.
Meski Stuart Findlay menerima kartu merah di kompetisi domestik, hukuman tersebut hanya berlaku di Liga Skotlandia sehingga bek tersebut tetap tersedia menghadapi Benfica.
Harapan Hearts bertumpu pada Claudio Braga yang menjadi salah satu pemain paling konsisten musim lalu dan diharapkan mampu memberikan kejutan di Lisbon.
Perkiraan Susunan Pemain
Benfica (4-2-3-1): Trubin; Bah, Antonio Silva, Clement Lenglet, Dahl; Barreiro, Barrenechea; Silva, Georgiy Sudakov, Jakub Kaminski; Vangelis Pavlidis.
Hearts (4-4-2): Reus; Altena, McEntee, Stuart Findlay, Milne; Kerjota, Mendy, Spittal, Miller; Claudio Braga, Ba-Sy.
Rekor Performa
Benfica (Liga Europa): Menang-Kalah
Hearts (Liga Champions): Kalah-Kalah
Hearts (Semua Kompetisi): Kalah-Kalah-Kalah
Prediksi Skor: Benfica 3-0 Hearts
Secara kualitas skuad, pengalaman Eropa, hingga performa terkini, Benfica memiliki keunggulan yang sangat mencolok dibanding Hearts.
Kemenangan telak atas St Gallen menunjukkan lini depan Benfica mulai tajam, sementara organisasi permainan Marco Silva juga semakin berkembang.
Di sisi lain, Hearts masih mencari identitas permainan baru setelah kehilangan sejumlah pemain kunci. Belum adanya kemenangan di era Wouter Vrancken menjadi indikasi bahwa proses adaptasi masih berlangsung.
Jika mampu mempertahankan intensitas sejak menit awal, Benfica diperkirakan akan menguasai jalannya pertandingan dan membawa modal besar menuju leg kedua di Edinburgh.
Benfica diprediksi tampil dominan di hadapan pendukung sendiri. Ketajaman Vangelis Pavlidis diperkirakan kembali menjadi pembeda, sementara Hearts diprediksi kesulitan mengimbangi tempo permainan wakil Portugal yang sedang berada dalam tren positif. Kemenangan dengan selisih tiga gol menjadi hasil yang paling realistis bagi tuan rumah. (*)
Editor : Niklaas Andries
Sumber : Radar Banyuwangi