RADAR BANYUWANGI – Impian untuk meraih masa depan lebih baik berubah menjadi tragedi bagi pesepak bola wanita Maroko, Faten Ben Amar El Azizi. Pemain muda Moghreb Atletic Tanger itu meninggal dunia saat berusaha menyeberang menuju Ceuta, wilayah Spanyol di Afrika Utara. Ironisnya, visa Spanyol miliknya justru disetujui pada hari yang sama ketika nyawanya berakhir di perjalanan.
Kepergian El Azizi menjadi pukulan bagi dunia sepak bola Maroko. Kisahnya kembali membuka sorotan terhadap gelombang migrasi ilegal dari Maroko menuju Spanyol yang meningkat akibat tekanan ekonomi dan harapan mendapatkan kehidupan yang lebih baik.
Dikutip dari Morocco World News, Senin (3/8), El Azizi meninggal ketika mencoba berenang menuju Ceuta melalui jalur laut. Kawasan tersebut menjadi salah satu tujuan warga Maroko yang berupaya memasuki wilayah Spanyol.
Bagi sebagian warga, jalur laut menjadi pilihan terakhir ketika akses menuju kehidupan yang lebih layak terasa semakin sulit. Namun, perjalanan tersebut memiliki risiko besar karena kondisi laut yang tidak selalu bersahabat.
Laporan BBC menyebutkan, sejak Kamis (30/7), ratusan ribu warga Maroko tercatat berupaya menuju Spanyol. Dalam perjalanan tersebut, puluhan orang dilaporkan meninggal dunia akibat tenggelam.
Sementara itu, Al Jazeera mencatat jumlah korban meninggal dalam gelombang perjalanan tersebut mencapai puluhan orang, termasuk mereka yang mencoba menyeberangi laut menuju wilayah Eropa.
Kisah El Azizi menjadi semakin memilukan karena proses legal yang selama ini dinantikan justru datang terlambat. Visa Spanyol yang diajukan pemain berusia 20 tahun tersebut disetujui pada hari yang sama saat dirinya meninggal dunia.
Sang ibu tidak mampu menyembunyikan kesedihan setelah mengetahui putrinya pergi sebelum sempat memulai perjalanan secara legal menuju Spanyol.
Ucapan duka mengalir dari berbagai kalangan, terutama keluarga besar sepak bola Maroko. Presiden Serikat Pesepak Bola Profesional Maroko (UMFP), Mustapha El Hadaoui, menyampaikan belasungkawa kepada keluarga dan klub tempat El Azizi bermain.
"Menyampaikan belasungkawa yang tulus dan mengungkapkan simpati yang mendalam kepada keluarga almarhumah, kerabatnya, rekan setimnya, Moghreb de Tanger, dan seluruh keluarga sepak bola Maroko," tulis El Hadaoui dalam pernyataannya yang dikutip La Gazzetta dello Sport.
El Azizi kemudian dimakamkan di kampung halamannya, Tetouan. Prosesi pemakaman dihadiri banyak warga yang datang memberikan penghormatan terakhir kepada pemain muda yang dikenal sebagai bagian dari keluarga besar sepak bola lokal tersebut.
Tragedi Faten El Azizi menjadi pengingat bahwa di balik angka-angka migrasi, terdapat kisah manusia dengan harapan, perjuangan, dan impian yang terkadang harus dibayar dengan kehilangan nyawa. (*)
Editor : Ali SodiqinSumber : jawapos.com