Franco Baresi Berpulang, Milan Berduka

Niklaas Andries • Dipublikasikan Sabtu, 1 Agustus 2026 | 04:51 WIB
LEGENDA: Franco Baresi tutup usia Milan berduka (AC Milan)
LEGENDA: Franco Baresi tutup usia Milan berduka (AC Milan)

RADARBANYUWANGI.ID – Dunia sepak bola berduka. Legenda AC Milan sekaligus salah satu bek terbaik sepanjang sejarah, Franco Baresi, meninggal dunia pada usia 66 tahun.

Kepergiannya bukan hanya meninggalkan luka mendalam bagi keluarga besar Rossoneri, tetapi juga mengakhiri kisah hidup salah satu ikon terbesar sepak bola Italia yang selama dua dekade menjadi simbol kesetiaan, kepemimpinan, dan kehebatan di lapangan hijau.

AC Milan mengonfirmasi kabar duka tersebut melalui pernyataan resmi yang menggambarkan betapa besarnya arti Baresi bagi klub.

"Milan menangisi kepergian Franco Baresi. Keteladanan dan integritasnya akan selamanya tertanam dalam DNA klub, sebagaimana nomor punggung enam miliknya yang telah menjadi simbol abadi," tulis AC Milan.

Kepergian Baresi menandai berakhirnya perjalanan seorang pemain yang tidak sekadar mengukir prestasi, tetapi juga membangun identitas klub yang hingga kini tetap menjadi salah satu raksasa sepak bola Eropa.

Setia Seumur Hidup untuk AC Milan

Di era modern ketika perpindahan pemain menjadi hal lumrah, Franco Baresi menjadi representasi langka dari sosok one-club man. Ia mengabdikan seluruh karier profesionalnya hanya untuk AC Milan sejak menjalani debut pada 1977 hingga gantung sepatu pada 1997.

Selama 20 tahun mengenakan seragam merah-hitam, Baresi tampil dalam 719 pertandingan, mencetak 33 gol, serta dipercaya menjadi kapten tim selama 15 musim. Kontribusinya menghadirkan era keemasan bagi Rossoneri.

Deretan trofi yang dipersembahkannya meliputi:

Enam gelar Serie A.

Tiga Piala Champions/Liga Champions.

Empat Supercoppa Italiana.

Dua Piala Super Eropa.

Dua Piala Interkontinental.

Sebagai bentuk penghormatan tertinggi, AC Milan memensiunkan nomor punggung 6 setelah ia pensiun. Hingga kini tidak ada pemain yang diizinkan mengenakan nomor tersebut. Pada 2020, Milan juga mengangkatnya sebagai Presiden Kehormatan klub.

Pilar Lini Belakang Terbaik Sepanjang Masa

Nama Franco Baresi identik dengan pertahanan kokoh AC Milan era akhir 1980-an hingga pertengahan 1990-an. Bersama Paolo Maldini, Alessandro Costacurta, dan Mauro Tassotti, ia membentuk salah satu lini belakang terbaik yang pernah dimiliki sepak bola Eropa.

Di bawah arahan pelatih Fabio Capello, kuartet tersebut membawa Milan mendominasi Serie A sekaligus menjuarai Liga Champions musim 1993-1994.

Kemampuan membaca permainan, disiplin posisi, kecerdasan taktik, hingga kepemimpinan membuat Baresi dianggap sebagai salah satu bek tengah paling komplet sepanjang sejarah. Tak mengherankan bila namanya hampir selalu masuk daftar bek terbaik dunia sepanjang masa.

Nyaris Meraih Ballon d'Or

Meski berstatus pemain bertahan, kualitas Franco Baresi hampir membawanya meraih penghargaan individu paling prestisius di dunia. Pada Ballon d'Or 1989, ia finis di posisi kedua, hanya kalah dari rekan setimnya, Marco van Basten.

Kala itu, hampir mustahil seorang bek memenangkan penghargaan tersebut. Namun, performa luar biasa Baresi membuat banyak kalangan menilai dirinya layak menjadi pemenang. Warisan kepemimpinannya bahkan dinilai lebih besar daripada sekadar jumlah trofi yang diraih.

Pahlawan Italia yang Tak Pernah Dilupakan

Di level internasional, Franco Baresi membela Timnas Italia sebanyak 81 pertandingan. Ia menjadi bagian skuad yang menjuarai Piala Dunia 1982, meski belum menjadi pemain utama. Puncak kiprahnya terjadi pada Piala Dunia 1994 di Amerika Serikat.

Saat itu Baresi mengalami cedera lutut serius pada awal turnamen dan diperkirakan tidak akan bermain lagi. Namun, hanya dalam waktu singkat ia pulih secara luar biasa dan kembali memimpin Italia pada partai final menghadapi Brasil.

Dalam pertandingan tersebut, Baresi sukses meredam duet maut Romario dan Bebeto sehingga laga berakhir tanpa gol selama 120 menit. Sayangnya, final pertama sepanjang sejarah Piala Dunia yang ditentukan lewat adu penalti berubah menjadi mimpi buruk.

Baresi gagal mengeksekusi penalti pertama Italia sebelum akhirnya Brasil menang 3-2. Meski demikian, publik Italia tidak pernah menyalahkannya.

Keberhasilannya bangkit dari cedera untuk tampil luar biasa di partai final justru dikenang sebagai salah satu kisah heroik terbesar dalam sejarah sepak bola.

Operasi Paru-Paru Sebelum Wafat

Beberapa bulan sebelum meninggal, Franco Baresi sempat menjalani operasi pada Agustus 2025 untuk mengangkat nodul di paru-parunya.

Penampilan publik terakhirnya terjadi saat menghadiri upacara pembukaan Olimpiade Musim Dingin di Stadion San Siro pada Februari lalu. Kepergiannya meninggalkan kesedihan mendalam bagi sepak bola Italia.

Ucapan Duka Mengalir dari Seluruh Dunia

Legenda AC Milan Paolo Maldini mengaku kehilangan sosok yang selama ini menjadi panutan. Ia mengenang Baresi sebagai figur yang mengajarkan arti kepemimpinan, pengorbanan, dan kecintaan terhadap seragam klub.

"Hari ini saya kembali merasakan perasaan ketika Anda tidak bisa bermain bersama kami. Bagaimana kami bisa berjalan tanpa kapten kami?" tulis Maldini.

Mantan kiper Italia Gianluigi Buffon juga mengenang momen debut profesionalnya bersama Parma saat menghadapi Baresi pada usia 17 tahun.

Menurut Buffon, pengalaman menghadapi Baresi membuatnya memahami arti kelas, kepemimpinan, dan rasa hormat dalam sepak bola.

Rival sekota, Inter Milan, turut menyampaikan belasungkawa.

Klub berjuluk Nerazzurri itu menyebut Baresi sebagai salah satu figur yang membentuk sejarah Derby della Madonnina dan selalu menghadirkan persaingan dengan penuh respek.

Pelatih Inter Milan Cristian Chivu menyebut wafatnya Baresi sebagai hari yang menyedihkan bagi seluruh dunia sepak bola.

Ucapan duka juga datang dari Perdana Menteri Italia Giorgia Meloni yang menyebut Baresi bukan hanya juara besar olahraga Italia, tetapi juga teladan dalam loyalitas, integritas, dan dedikasi.

Sementara itu, Presiden Federasi Sepak Bola Italia memuji keputusan Baresi yang tetap setia membela AC Milan sepanjang kariernya, sebuah pilihan yang membuatnya dicintai jutaan pendukung sepak bola Italia.

Simbol Loyalitas yang Sulit Terulang

Franco Baresi bukan hanya legenda AC Milan. Ia adalah simbol era ketika kesetiaan terhadap satu klub memiliki nilai yang jauh melampaui kontrak dan nilai transfer.

Ironisnya, sebelum bergabung dengan Milan, Baresi sempat menjalani seleksi di Inter Milan saat berusia 12 tahun. Ia gagal diterima, sementara sang kakak, Giuseppe Baresi, justru berkembang menjadi legenda Nerazzurri.

Penolakan itu menjadi titik balik yang kemudian melahirkan salah satu kisah paling monumental dalam sejarah AC Milan.

Julukan "Piscinin", yang berarti bocah kecil bertubuh kurus dalam dialek Milan, perlahan berubah menjadi simbol ketangguhan.

Ia berkembang menjadi pemimpin yang mengangkat Rossoneri menuju kejayaan Eropa bersama para legenda seperti Marco van Basten, Ruud Gullit, Frank Rijkaard, dan Paolo Maldini.

Baresi membuktikan bahwa seorang bek mampu menjadi pusat permainan, pemimpin ruang ganti, sekaligus ikon sebuah klub.

Kini sang kapten telah pergi. Namun, bagi AC Milan dan jutaan pencinta sepak bola dunia, warisan Franco Baresi akan tetap hidup sebagai standar emas mengenai arti loyalitas, kepemimpinan, dan dedikasi tanpa batas terhadap lambang di dada. (*)

 

Editor : Niklaas Andries
Sumber : Radar Banyuwangi
sepak bola Italia FRANCO BARESI legenda ac milan ac milan