RADARBANYUWANGI.ID - Benfica menghadapi laga hidup-mati ketika menjamu St Gallen pada leg kedua babak kualifikasi kedua Liga Europa di Estadio da Luz, Jumat (1/8) dini hari. Tertinggal agregat 1-2 setelah kalah di Swiss pekan lalu, raksasa Portugal itu dituntut menunjukkan mental juara demi menghindari kegagalan yang bisa memaksa mereka turun kasta ke UEFA Conference League.
Laga ini bukan sekadar perebutan tiket menuju babak kualifikasi ketiga. Pertandingan juga menjadi ujian pertama bagi Marco Silva yang baru mengambil alih kursi pelatih Benfica menggantikan Jose Mourinho. Kekalahan pada debut kompetitifnya membuat ekspektasi publik Lisbon semakin tinggi.
Pemenang duel ini akan menghadapi Hearts pada putaran kualifikasi berikutnya.
Marco Silva Diuji Sejak Awal Masa Kepemimpinan
Menggantikan sosok sebesar Jose Mourinho jelas bukan pekerjaan mudah. Marco Silva langsung merasakan tekanan besar setelah Benfica menyerah 1-2 di markas St Gallen pada leg pertama.
Sempat menyamakan kedudukan melalui Rafa Silva sebelum turun minum, Benfica sebenarnya mampu menjaga keseimbangan permainan hingga memasuki 10 menit terakhir. Namun, gol Tom Gaal membuat wakil Swiss membawa pulang kemenangan tipis yang kini menjadi modal berharga menuju Lisbon.
Situasi tersebut membuat Benfica wajib menang minimal dengan selisih satu gol untuk memaksakan perpanjangan waktu. Kemenangan dengan margin dua gol atau lebih akan memastikan mereka melaju ke babak berikutnya tanpa harus melalui extra time.
Meski demikian, peluang Benfica masih terbuka lebar. Rekor kandang mereka di Estadio da Luz menjadi alasan utama optimisme pendukung.
Da Luz Masih Menjadi Benteng Kokoh Benfica
Produktivitas Benfica di kandang musim lalu menjadi modal yang sulit diabaikan. Pada enam pertandingan kandang terakhir Liga Portugal musim lalu, As Aguias selalu mencetak sedikitnya dua gol.
Bahkan selama lima bulan terakhir era Jose Mourinho, Benfica mampu menghasilkan minimal dua gol dalam 10 dari 12 pertandingan kandang di Lisbon. Statistik tersebut menunjukkan bahwa Da Luz masih menjadi salah satu stadion paling angker di Portugal.
Marco Silva berharap tren tersebut berlanjut sehingga Benfica mampu membalikkan keadaan sekaligus meraih kemenangan perdana di kompetisi Eropa musim ini.
St Gallen Datang dengan Kepercayaan Diri Tinggi
Di sisi lain, St Gallen datang ke Portugal tanpa tekanan berlebihan. Setelah menundukkan Benfica pada leg pertama, klub berjuluk Espen itu juga sukses membuka musim Liga Super Swiss dengan kemenangan 2-1 atas Zurich. Hasil tersebut membuat mereka mengawali musim kompetitif 2026-2027 dengan dua kemenangan beruntun.
Kepercayaan diri tersebut menjadi perkembangan positif mengingat mereka sebelumnya menutup pramusim dengan tiga kekalahan beruntun dari Lustenau, Lyon, dan Norwich City. Dalam tiga laga itu mereka kebobolan 11 gol dan hanya mampu mencetak empat gol.
Kini pasukan Enrico Maassen hanya membutuhkan hasil imbang untuk mengamankan tiket menuju babak berikutnya.
Benfica Dapat Tambahan Amunisi
Kabar baik menghampiri Benfica menjelang laga penentuan.
Penyerang anyar Jhon Duran yang absen pada leg pertama kini masuk daftar pemain setelah mencetak gol dalam kemenangan uji coba 5-1 atas Belenenses.
Selain itu, tiga pemain yang baru kembali dari ajang Piala Dunia, yakni Andreas Schjelderup, Fredrik Aursnes, dan Dodi Lukebakio, juga telah tersedia meski belum tentu langsung menjadi starter.
Benfica hanya kehilangan Bruma karena cedera, sementara Gianluca Prestianni masih menjalani laga terakhir dari hukuman larangan bermain tiga pertandingan akibat tindakan homofobik terhadap Vinicius Junior pada Februari lalu.
Di lini depan, harapan utama tetap berada di pundak Vangelis Pavlidis. Penyerang asal Yunani itu menjadi mesin gol Benfica musim lalu dengan koleksi 22 gol dan kembali diharapkan menjadi pembeda setelah menyumbang assist untuk gol Rafa Silva pada leg pertama.
Krisis Cedera Menghantui St Gallen
Berbeda dengan Benfica, St Gallen harus datang ke Portugal dengan kondisi skuad yang tidak ideal.
Stephan Ambrosius, Behar Neziri, Colin Kleine-Bekel, Malamine Efekele, Cyrill May, Nino Weibel, dan Nevio Scherrer dipastikan absen akibat cedera jangka menengah hingga panjang. Kepergian top skor musim lalu, Alessandro Vogt, ke Hoffenheim juga mengurangi daya gedor mereka.
Sebagai gantinya, Carlo Boukhalfa dan Aliou Balde menjadi tumpuan di lini depan. Balde telah membuktikan kualitasnya lewat gol pembuka pada leg pertama dan kembali diharapkan mampu merepotkan pertahanan Benfica.
Prediksi Susunan Pemain
Benfica (4-2-3-1): Trubin; Bah, Antonio Silva, Clement Lenglet, Dahl; Figueiredo, M. Silva; Rafa Silva, Sudakov, Kaminski; Vangelis Pavlidis.
St Gallen (3-5-2): Ati-Zigi; Gaal, Stanic, Okoroji; Vandermersch, Gortler, Daschner, Boukhalfa, Stevanovic; Witzig, Aliou Balde.
Prediksi Skor: Benfica 3-1 St Gallen
Benfica memang berada dalam posisi tertekan, tetapi kualitas individu mereka masih berada di atas St Gallen.
Kehadiran pemain-pemain seperti Pavlidis, Rafa Silva, Jhon Duran, hingga Schjelderup memberi Marco Silva banyak opsi untuk meningkatkan agresivitas serangan. Faktor bermain di Estadio da Luz juga diperkirakan menjadi pembeda karena Benfica dikenal tampil jauh lebih produktif di hadapan pendukung sendiri.
Sebaliknya, St Gallen kemungkinan besar akan mengandalkan pendekatan bertahan dan serangan balik cepat demi mempertahankan keunggulan agregat. Namun, krisis cedera dan kedalaman skuad yang lebih terbatas berpotensi menyulitkan mereka jika Benfica mampu mencetak gol cepat.
Momentum pertandingan diprediksi akan sangat ditentukan pada 30 menit pertama. Apabila Benfica mampu memanfaatkan tekanan sejak awal, peluang mereka membalikkan agregat akan semakin besar.
Benfica diprediksi membalikkan keadaan dan lolos ke babak kualifikasi ketiga Liga Europa dengan keunggulan agregat 4-3. (*)
Editor : Niklaas Andries
Sumber : Radar Banyuwangi