UEFA Siapkan Boikot Piala Dunia, Tolak Rencana FIFA Jual Saham Komersial Senilai USD 20 Miliar

Niklaas Andries • Dipublikasikan Kamis, 30 Juli 2026 | 05:46 WIB
KERAS: UEFA tolak keras usulan FIFA soal Piala Dunia (UEFA)
KERAS: UEFA tolak keras usulan FIFA soal Piala Dunia (UEFA)

RADARBANYUWANGI.ID - Pertarungan politik di balik sepak bola dunia kembali memanas. Kali ini, konflik terbuka terjadi antara UEFA dan FIFA setelah badan sepak bola dunia itu mengajukan skema pendanaan baru senilai USD 20 miliar melalui penjualan sebagian kepemilikan bisnis komersialnya kepada investor eksternal.

Penolakan dari Eropa datang sangat cepat. UEFA bahkan bergerak menggalang seluruh 55 asosiasi anggotanya dalam sebuah pertemuan darurat pekan ini untuk menyusun langkah bersama menghadapi proposal Presiden FIFA Gianni Infantino. Salah satu opsi paling keras yang mulai dibahas adalah boikot Piala Dunia apabila FIFA tetap memaksakan rencana tersebut.

Langkah itu mengingatkan pada situasi tahun 2021 ketika UEFA berhasil menggagalkan gagasan Piala Dunia dua tahunan setelah mengancam tidak akan mengirimkan negara-negara anggotanya.

Kini, ancaman serupa kembali muncul.

UEFA Nilai FIFA Melewati Batas

Menurut sejumlah sumber, penolakan terhadap proposal FIFA berlangsung hampir merata di internal UEFA. Organisasi sepak bola Eropa menilai langkah FIFA bukan sekadar perubahan model bisnis, melainkan berpotensi mengubah arah tata kelola sepak bola global.

Dalam pernyataan resminya, UEFA menegaskan bahwa sepak bola bukanlah aset yang dapat diperjualbelikan.

"Jiwa dan tata kelola sepak bola bukan komoditas untuk diperdagangkan, terlebih tanpa transparansi mengenai siapa yang memperoleh keuntungan finansial."

UEFA juga menegaskan tidak ada satu pun organisasi yang memiliki hak kepemilikan atas sepak bola dunia.

"Tidak seorang pun memiliki sepak bola. Ini bukan milik FIFA untuk dijual."

Pernyataan keras tersebut memperlihatkan bahwa persoalan ini tidak lagi sebatas perbedaan strategi bisnis, melainkan telah berkembang menjadi konflik mengenai masa depan pengelolaan sepak bola internasional.

FIFA Bentuk FIFA Forward Enterprise

Di sisi lain, FIFA tetap meyakini proyek tersebut akan membawa manfaat besar bagi seluruh anggotanya.

Melalui badan baru bernama FIFA Forward Enterprise (FFE), FIFA berencana memusatkan seluruh aktivitas komersial, termasuk pengelolaan hak bisnis Piala Dunia putra dan putri, di bawah satu entitas khusus.

FFE nantinya akan mencari investor strategis dengan menjual kepemilikan minoritas tanpa melepas kendali organisasi.

FIFA menggandeng perusahaan jasa keuangan global J.P. Morgan sebagai penasihat transaksi. Salah satu calon investor yang disebut terlibat adalah Thrive Eternal, perusahaan investasi yang didirikan Joshua Kushner, adik Jared Kushner yang merupakan menantu Presiden Amerika Serikat Donald Trump.

Gianni Infantino menyebut proyek tersebut sebagai langkah untuk memperluas pemerataan perkembangan sepak bola dunia.

"Ini adalah tentang demokratisasi sepak bola di seluruh dunia."

Janji Dana Lebih Besar untuk 211 Federasi

Sebagai daya tarik utama, FIFA menjanjikan peningkatan signifikan dana pembangunan bagi seluruh 211 asosiasi anggota.

Dalam skema baru itu, setiap federasi berpotensi menerima USD 20 juta pada siklus pertama program baru, USD 22 juta pada siklus berikutnya dan USD 24 juta pada periode setelahnya.

Angka tersebut jauh lebih besar dibanding skema sebelumnya yang hanya menjanjikan sekitar USD 8 juta per federasi pada siklus komersial Piala Dunia 2027-2030.

FIFA juga menegaskan bahwa setiap asosiasi bebas menentukan apakah ingin ikut memanfaatkan peluang pendanaan baru tersebut. Meski demikian, FIFA memastikan seluruh kewenangan olahraga tetap berada di bawah organisasi.

FFE hanya akan mengelola aspek bisnis, sedangkan FIFA tetap memegang kendali penuh atas tata kelola sepak bola dunia, penyelenggaraan kompetisi,  kalender pertandingan internasional, dan seluruh regulasi olahraga.

Hubungan Infantino dan Trump Jadi Sorotan

Proposal ini muncul hanya beberapa pekan setelah berakhirnya Piala Dunia 2026 yang mencatat pemasukan tertinggi sepanjang sejarah FIFA.

Turnamen yang digelar di Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko menghasilkan pendapatan sekitar USD 12 miliar, didorong oleh tingginya harga tiket dan paket hospitality.

Namun di balik kesuksesan finansial tersebut, hubungan yang semakin dekat antara Gianni Infantino dan Donald Trump turut menjadi perhatian sejumlah pihak di Eropa.

Keterlibatan Thrive Eternal yang memiliki hubungan keluarga dengan Jared Kushner semakin memunculkan kekhawatiran mengenai arah baru kebijakan komersial FIFA.

Boikot Kembali Menjadi Senjata UEFA

Pertemuan virtual seluruh 55 anggota UEFA diperkirakan berlangsung sebelum akhir pekan. Agenda utamanya adalah menyatukan sikap seluruh federasi Eropa sekaligus menentukan langkah berikutnya apabila FIFA tidak mengubah proposalnya.

Pengalaman pada 2021 menjadi modal penting bagi UEFA. Saat itu ancaman boikot dari negara-negara Eropa membuat FIFA akhirnya membatalkan rencana penyelenggaraan Piala Dunia setiap dua tahun.

Kini, strategi serupa diperkirakan kembali menjadi kartu utama UEFA untuk menekan FIFA. Apabila konflik terus membesar, sepak bola dunia berpotensi memasuki salah satu krisis tata kelola terbesar dalam beberapa dekade terakhir.

Perselisihan ini bukan lagi sekadar mengenai investasi bernilai miliaran dolar, melainkan perebutan arah masa depan olahraga paling populer di dunia, apakah tetap dikendalikan oleh prinsip tata kelola olahraga atau mulai bergerak menuju model korporasi global yang didorong kepentingan investor. (*)

Editor : Niklaas Andries
Sumber : radar banywangi
boikot piala dunia FIFA Piala Dunia gianni infantino uefa