RADARBANYUWANGI.ID – Selama empat tahun terakhir, FIFA membukukan pendapatan fantastis mencapai USD 13 miliar atau sekitar Rp211 triliun.
Statusnya memang organisasi nirlaba, tetapi di bawah kepemimpinan Gianni Infantino, arah kebijakan badan sepak bola dunia itu dinilai semakin identik dengan ekspansi bisnis dan komersialisasi.
Slogan "growing the game" atau mengembangkan sepak bola terus digaungkan Infantino. Namun, di balik slogan tersebut, FIFA justru semakin agresif memperluas sumber pendapatan melalui turnamen yang lebih banyak, harga tiket yang terus meningkat, hiburan jeda pertandingan, hingga pelibatan selebritas, influencer, kepala negara, dan tokoh politik dalam setiap ajang besar.
Strategi itu membuat Infantino memiliki banyak pendukung. Bahkan, sebelum kontroversi terbaru mencuat, ia diperkirakan hampir pasti melenggang menuju masa jabatan keempat sebagai Presiden FIFA.
Berbagai polemik selama penyelenggaraan Piala Dunia, mulai persoalan visa wasit asal Somalia, kendala perjalanan tim Iran, hingga dugaan campur tangan Presiden Amerika Serikat Donald Trump dalam proses disiplin FIFA, tidak banyak menggoyahkan posisinya.
Lebih dari 200 anggota FIFA bahkan dilaporkan telah memberikan dukungan kepada Infantino untuk kembali memimpin organisasi tersebut.
Namun, dukungan besar itu kini mendapat sorotan setelah FIFA mengumumkan rencana pembentukan anak perusahaan baru bernama FIFA Forward Enterprise dengan valuasi mencapai USD 20 miliar atau sekitar Rp325 triliun.
FIFA Berencana Melepas 20 Persen Saham
Dalam proposal yang dikirim kepada seluruh asosiasi anggota, FIFA berencana melepas 20 persen kepemilikan FIFA Forward Enterprise kepada investor.
Melalui skema tersebut, FIFA berharap memperoleh dana segar sebesar USD 4,2 miliar atau sekitar Rp68,2 triliun.
Pengumuman itu memang dikemas dalam siaran pers bernada administratif. Namun, substansi kebijakan tersebut langsung memunculkan kritik keras karena dianggap sebagai langkah menjual sebagian aset komersial sepak bola dunia kepada pihak swasta.
Kelompok investor yang disebut memimpin rencana investasi tersebut dipimpin oleh Joshua Kushner, adik ipar Presiden Amerika Serikat Donald Trump.
Kontroversi semakin memanas setelah muncul laporan bahwa Infantino disebut-sebut berpeluang menjadi komisaris perusahaan baru tersebut setelah tidak lagi menjabat Presiden FIFA.
Tawaran USD 40 Juta untuk Setiap Anggota FIFA
Yang paling menyita perhatian adalah isi surat Infantino kepada 211 asosiasi anggota FIFA. Dalam surat tersebut, setiap anggota dijanjikan akan memperoleh USD 40 juta atau sekitar Rp650 miliar paling lambat Januari mendatang apabila menyetujui proposal tersebut sebelum 19 September. Skema insentif itu langsung menuai tudingan sebagai bentuk upaya membeli dukungan.
Seorang sumber yang dikutip media Inggris bahkan menyebut tawaran tersebut sebagai "suap murni", meski hingga kini belum ada bukti hukum yang menyatakan adanya pelanggaran.
Kedekatan dengan Donald Trump Kembali Dipersoalkan
Kedekatan Infantino dengan Donald Trump kembali menjadi sorotan. Selama beberapa tahun terakhir, hubungan keduanya memang terlihat semakin erat. Infantino bahkan pernah memperkenalkan penghargaan FIFA Peace Prize, yang oleh sejumlah pengamat dianggap sebagai langkah untuk membangun hubungan politik dengan Presiden Amerika Serikat tersebut.
Tak lama kemudian, muncul pula dukungan agar Infantino dipertimbangkan menduduki posisi penting di Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), sebuah perkembangan yang semakin memicu perdebatan mengenai kedekatan politiknya.
Dinilai Terlalu Berorientasi Bisnis
Selama menjabat Presiden FIFA, Infantino memang berhasil meningkatkan nilai komersial berbagai kompetisi internasional.
Piala Dunia diperluas menjadi 48 peserta. Piala Dunia Antarklub juga berkembang menjadi turnamen berskala besar dengan jumlah peserta lebih banyak.
Di sisi lain, kritik terhadap arah organisasi juga semakin tajam. Banyak kalangan menilai FIFA kini lebih mengutamakan pemasukan finansial dibanding menjaga nilai tradisional sepak bola.
Rencana melepas sebagian kepemilikan perusahaan komersial FIFA dinilai menjadi titik balik paling kontroversial sejak gagalnya proyek European Super League pada 2021.
Kala itu, proyek liga elite Eropa runtuh hanya dalam hitungan hari setelah mendapat penolakan besar dari suporter, klub, pemain, hingga federasi sepak bola.
UEFA dan Federasi Besar Diperkirakan Menjadi Garda Penolak
Jika negara-negara anggota dengan sumber daya terbatas kemungkinan tertarik karena iming-iming dana pembangunan, federasi besar diperkirakan akan mengambil sikap berbeda.
Sejumlah sinyal penolakan mulai muncul dari UEFA, The Football Association (FA) Inggris, hingga Concacaf yang disebut tidak sepenuhnya sejalan dengan rencana tersebut.
Rencana FIFA sebenarnya memperlihatkan dilema besar dalam tata kelola sepak bola modern. Di satu sisi, tambahan modal dapat mempercepat pembangunan infrastruktur, pembinaan pemain muda, dan pemerataan bantuan bagi negara berkembang.
Namun, di sisi lain, masuknya investor eksternal berpotensi mengubah orientasi organisasi dari pengelola olahraga menjadi entitas yang semakin mengejar keuntungan finansial.
Apabila sebagian kepemilikan bisnis FIFA benar-benar berpindah ke tangan investor, keputusan-keputusan strategis di masa depan dikhawatirkan akan semakin dipengaruhi kepentingan komersial. Karena itu, penolakan dari federasi-federasi besar diperkirakan menjadi penentu apakah proposal ambisius Gianni Infantino dapat diwujudkan atau justru bernasib sama seperti European Super League yang kandas akibat gelombang perlawanan publik. (*)
Editor : Niklaas AndriesSumber : Radar Banyuwangi