RADARBANYUWANGI.ID - Piala Dunia 2026 tidak hanya menyajikan drama dan kejutan di lapangan. Di balik kemeriahan turnamen, muncul sorotan terhadap integritas kompetisi setelah sebuah laporan independen mengungkap tujuh kejanggalan yang memicu peringatan terkait potensi manipulasi pertandingan.
Meski belum ditemukan bukti adanya pengaturan skor, lonjakan aktivitas pasar taruhan membuat sejumlah pertandingan mendapat pengawasan khusus.
Tujuh Kejanggalan Warnai Piala Dunia 2026
Piala Dunia 2026 menjadi ajang sepak bola terbesar sepanjang sejarah dengan 104 pertandingan. Namun, di balik sukses penyelenggaraannya, muncul kekhawatiran mengenai integritas kompetisi.
Berdasarkan laporan The Athletic, Copenhagen Group, organisasi independen yang fokus pada pencegahan manipulasi pertandingan, mengeluarkan tujuh "peringatan kuning" (yellow alerts) selama turnamen berlangsung. Peringatan tersebut muncul setelah ditemukan sejumlah anomali pada pasar taruhan olahraga.
Meski demikian, laporan tersebut menegaskan bahwa peringatan itu bukan bukti adanya pengaturan pertandingan (match-fixing). Statusnya masih berupa sinyal awal yang dinilai cukup serius sehingga membutuhkan pemantauan lebih lanjut.
Secara keseluruhan, terdapat 15 pertandingan yang masuk kategori pengawasan ketat. Selain itu, 12 insiden kontroversial dianalisis secara khusus dari sudut pandang integritas olahraga.
Kartu Merah hingga VAR Jadi Sorotan
Beberapa insiden yang menarik perhatian penyelidik dinilai memiliki pola yang tidak lazim. Salah satunya adalah kartu merah pemain Afrika Selatan Themba Zwane saat menghadapi Meksiko pada laga pembuka turnamen.
Peristiwa lain yang ikut disorot ialah proses Video Assistant Referee (VAR) selama 3 menit 30 detik sebelum menganulir gol Ferran Torres ketika Spanyol menang telak 4-0 atas Arab Saudi.
Tak hanya itu, hasil imbang tanpa gol antara Spanyol melawan Tanjung Verde (Cape Verde) juga memancing perhatian. Pertandingan tersebut menghasilkan transaksi taruhan hingga USD 4,8 juta atau sekitar Rp78,2 miliar di platform prediksi Polymarket, angka yang dianggap sangat tinggi untuk pertandingan dengan profil tersebut.
Kasus lain yang mengundang tanda tanya adalah kartu merah yang diterima Folarin Balogun.
Pada hari yang sama ketika penyerang Amerika Serikat itu diusir keluar lapangan saat menghadapi Bosnia dan Herzegovina, Polymarket langsung membuka pasar prediksi mengenai kemungkinan Balogun tampil melawan Belgia.
Padahal, FIFA baru mengonfirmasi empat hari kemudian bahwa kartu merah tersebut tidak membuat Balogun menjalani hukuman larangan bermain.
Copenhagen Group menilai situasi tersebut tidak biasa karena tidak ada pasar prediksi serupa yang dibuka terhadap 14 pemain lain yang juga menerima kartu merah sepanjang turnamen. Organisasi tersebut pun meminta penjelasan resmi kepada FIFA.
Pasar Prediksi Jadi Tantangan Baru
Untuk pertama kalinya, Copenhagen Group memperluas pemantauan mereka hingga mencakup platform prediksi seperti Polymarket dan Kalshi.
Berbeda dengan bandar taruhan konvensional, platform tersebut memungkinkan pengguna memasang prediksi terhadap berbagai kejadian yang sangat spesifik dalam sebuah pertandingan.
Model bisnis seperti ini dinilai menghadirkan tantangan baru karena regulasi di setiap negara masih berbeda-beda sehingga pengawasannya belum seragam. Laporan itu juga mengungkap besarnya nilai transaksi taruhan sepanjang Piala Dunia 2026.
Diperkirakan total nilai taruhan mencapai USD240 miliar atau sekitar Rp3.912 triliun, hampir dua kali lipat dibandingkan nilai taruhan pada Piala Dunia 2022 di Qatar.
Besarnya perputaran uang tersebut menjadi salah satu alasan meningkatnya kewaspadaan terhadap potensi penyalahgunaan pasar taruhan.
FIFA Bantah Ada Indikasi Match-Fixing
Meski sejumlah anomali ditemukan, laporan tersebut menegaskan belum ada bukti yang menunjukkan adanya manipulasi pertandingan. FIFA juga membantah kekhawatiran yang disampaikan Copenhagen Group.
Melalui Integrity Task Force, FIFA menyatakan tidak menemukan aktivitas taruhan yang mencurigakan maupun indikasi pengaturan pertandingan selama seluruh 104 laga Piala Dunia 2026 berlangsung.
Dengan demikian, kasus ini masih berada pada tahap pemantauan dan belum berkembang menjadi penyelidikan atas dugaan match-fixing.
Meski begitu, laporan yang dipublikasikan Dewan Eropa (Council of Europe) menunjukkan bahwa meningkatnya aktivitas taruhan digital, termasuk melalui platform prediksi, menjadi tantangan baru yang harus diantisipasi dalam menjaga kredibilitas sepak bola internasional.
Belum adanya bukti manipulasi memang membuat Piala Dunia 2026 tetap dinyatakan bersih dari praktik pengaturan skor. Namun, laporan Copenhagen Group menjadi sinyal bahwa perkembangan teknologi finansial dan platform prediksi telah mengubah lanskap pengawasan integritas sepak bola.
Jika sebelumnya fokus hanya tertuju pada bandar taruhan konvensional, kini regulator juga harus memantau pasar prediksi digital yang mampu menciptakan volume transaksi sangat besar dalam waktu singkat.
Situasi ini berpotensi menjadi tantangan serius bagi FIFA dan federasi sepak bola dunia dalam menjaga transparansi serta kepercayaan publik terhadap hasil pertandingan di masa depan. (*)
Editor : Niklaas Andries
Sumber : Radar Banyuwangi