RADARBANYUWANGI.ID – Final ideal akhirnya tersaji di Piala Dunia 2026. Dua juara benua akan saling berhadapan ketika Spanyol menghadapi Argentina di MetLife Stadium, Minggu (20/7) atau Senin dini hari WIB. Bukan sekadar perebutan trofi, laga ini juga menjadi pertarungan dua filosofi sepak bola yang bertolak belakang.
Spanyol datang sebagai juara Eropa 2024 dengan organisasi permainan yang nyaris sempurna. Di sisi lain, Argentina hadir sebagai juara bertahan dunia yang mengandalkan ketajaman lini depan serta pengalaman Lionel Messi dalam laga-laga besar.
Jika La Roja menang, mereka akan mengangkat trofi Piala Dunia kedua sepanjang sejarah. Sebaliknya, Argentina berpeluang menjadi negara pertama sejak Brasil pada 1962 yang mampu mempertahankan gelar juara dunia secara beruntun.
Banyak rumah taruhan menjagokan Spanyol. Namun, perjalanan fase gugur membuktikan Argentina tetap memiliki mental juara yang sulit dipatahkan.
Benteng Kokoh Spanyol Jadi Senjata Utama
Nama Lamine Yamal memang terus menjadi sorotan sepanjang turnamen. Aksi dribel pemain muda Barcelona itu berkali-kali memecah pertahanan lawan, meski kontribusi golnya baru satu dan satu assist tidak resmi melalui hadiah penalti. Namun, kekuatan terbesar Spanyol justru berada di lini belakang.
Pasukan Luis de la Fuente tampil luar biasa disiplin. Mereka sempat mencatat 649 menit tanpa kebobolan di Piala Dunia sebelum akhirnya Belgia memecahkan rekor tersebut melalui Charles De Ketelaere.
Gol itu pun tidak berarti banyak karena Mikel Merino memastikan kemenangan dramatis Spanyol. Di semifinal, Spanyol menunjukkan kelasnya dengan menundukkan Prancis 2-0.
Mikel Oyarzabal membuka keunggulan melalui eksekusi penalti sebelum Pedro Porro menggandakan skor lewat skema serangan yang rapi. Yang paling mengesankan adalah cara Spanyol mematikan lini depan Prancis.
Michael Olise nyaris tidak berkutik, sementara Kylian Mbappe gagal menemukan performa terbaiknya.
Prancis hanya mampu menghasilkan Expected Goals (xG) sebesar 0,31, angka yang identik dengan rata-rata seluruh lawan Spanyol sepanjang turnamen. Statistik itu menjadi bukti betapa solidnya pertahanan La Roja.
Setelah sempat dikejutkan Cape Verde pada laga pembuka, Spanyol bangkit dengan meraih enam kemenangan beruntun sekaligus mencatat enam clean sheet—rekor baru dalam satu edisi Piala Dunia putra.
Yang lebih luar biasa, Spanyol kini telah melewati 37 pertandingan internasional tanpa kekalahan sejak takluk dari Kolombia pada Maret 2024.
Jika mengalahkan Argentina, mereka akan memecahkan rekor Italia sebagai tim dengan rangkaian tak terkalahkan terpanjang dalam sejarah sepak bola internasional putra.
Argentina Ingin Ukir Sejarah Baru
Argentina memang tidak sesolid Spanyol dalam bertahan. Namun, tim asuhan Lionel Scaloni memiliki kekuatan lain, yakni produktivitas gol.
Sejak fase gugur dimulai, Albiceleste selalu mampu membalikkan tekanan lawan lewat kualitas individu para pemainnya.
Hal itu kembali terlihat saat menghadapi Inggris di semifinal. Sempat tertinggal melalui Anthony Gordon, Argentina bangkit berkat inspirasi Lionel Messi.
Kapten berusia 39 tahun itu menjadi kreator dua gol yang dicetak Enzo Fernandez dan Lautaro Martinez. Kemenangan tersebut mengantarkan Argentina menuju final Piala Dunia ketujuh sepanjang sejarah.
Kini mereka mengincar pencapaian yang belum pernah dilakukan negara mana pun, yakni menjuarai empat turnamen besar secara beruntun.
Setelah menjuarai Copa America 2021, Piala Dunia 2022, dan Copa America 2024, gelar Piala Dunia 2026 akan menempatkan generasi Lionel Messi sebagai salah satu tim terbaik sepanjang masa.
Secara ofensif, Argentina bahkan menjadi tim paling produktif di turnamen. Mereka telah mencetak 19 gol, terbanyak dibanding seluruh peserta.
Dalam setiap pertandingan, Albiceleste selalu mampu mencetak minimal dua gol. Namun, terdapat satu kelemahan yang masih menghantui.
Argentina gagal mencatat clean sheet dalam lima pertandingan terakhir. Kerapuhan tersebut bisa menjadi celah yang dieksploitasi lini depan Spanyol.
Duel Messi vs Yamal Jadi Magnet Final
Pertandingan ini juga menghadirkan duel lintas generasi. Di satu sisi ada Lionel Messi, legenda hidup yang terus memperpanjang karier luar biasanya.
Bahkan sang kapten belum menutup kemungkinan tampil pada Piala Dunia 2030 saat usianya mencapai 43 tahun. Di sisi lain hadir Lamine Yamal, bintang muda yang disebut-sebut sebagai calon penerus era Messi di sepak bola dunia.
Final ini menjadi panggung simbolis pergantian generasi. Namun, pengalaman Messi tetap menjadi faktor pembeda dalam pertandingan sebesar ini.
Kondisi Terkini Kedua Tim
Spanyol mendapat sedikit kekhawatiran ketika Lamine Yamal terlihat menggunakan perban pada kaki kirinya saat latihan.
Namun, tim medis memastikan kondisinya tidak mengkhawatirkan. Pedro Porro juga sempat mengalami kelelahan otot setelah semifinal, tetapi hanya diistirahatkan sebagai langkah pencegahan.
Luis de la Fuente diperkirakan kembali menurunkan susunan pemain yang sama seperti saat mengalahkan Prancis. Artinya, Pedri kemungkinan kembali memulai laga dari bangku cadangan.
Di kubu Argentina, seluruh pemain berada dalam kondisi siap tampil. Cristian Romero dan Leandro Paredes telah pulih dari kram yang sempat dialami usai perempat final.
Lionel Scaloni diprediksi melakukan sedikit perubahan. Rodrigo De Paul berpeluang kembali menjadi starter menggantikan Giuliano Simeone di sektor sayap.
Sementara Gonzalo Montiel berpeluang mengisi posisi bek kanan setelah performa Nahuel Molina dianggap kurang meyakinkan di semifinal.
Meski mencetak gol kemenangan melawan Inggris, Lautaro Martinez diperkirakan kembali memulai pertandingan dari bangku cadangan. Julian Alvarez tetap menjadi tandem utama Lionel Messi di lini depan.
Perkiraan Susunan Pemain
Spanyol (4-2-3-1): Unai Simon; Pedro Porro, Pau Cubarsi, Aymeric Laporte, Marc Cucurella; Rodri, Fabian Ruiz; Lamine Yamal, Dani Olmo, Alex Baena; Mikel Oyarzabal.
Argentina (4-4-2): Emiliano Martinez; Gonzalo Montiel, Cristian Romero, Lisandro Martinez, Nicolas Tagliafico; Rodrigo De Paul, Leandro Paredes, Enzo Fernandez, Alexis Mac Allister; Lionel Messi, Julian Alvarez.
Analisis dan Prediksi
Final ini mempertemukan dua tim terbaik dengan karakter yang saling bertolak belakang. Spanyol tampil sebagai tim paling disiplin secara taktik. Mereka memiliki struktur pertahanan yang sangat solid, penguasaan bola dominan, serta keseimbangan antar lini yang sulit ditembus.
Sebaliknya, Argentina lebih mengandalkan kreativitas individu, pengalaman, dan efektivitas serangan. Produktivitas 19 gol menunjukkan Albiceleste selalu mampu menemukan cara mencetak gol, bahkan ketika permainan mereka tidak dominan.
Namun, kelemahan terbesar Argentina tetap berada di sektor pertahanan. Berbeda dengan Inggris yang kehilangan kendali permainan di semifinal, Spanyol dikenal lebih sabar dalam membangun serangan dan jarang kehilangan organisasi.
Jika Rodri dan Fabian Ruiz mampu mengontrol tempo pertandingan, peluang La Roja untuk mengangkat trofi akan semakin besar. Meski demikian, selama Lionel Messi masih berada di lapangan, Argentina hampir selalu memiliki peluang mengubah jalannya pertandingan hanya melalui satu momen magis.
Prediksi Skor: Spanyol 2-1 Argentina
Spanyol diprediksi mampu memanfaatkan kelemahan pertahanan Argentina melalui permainan kolektif yang lebih matang. Namun, final dipastikan berlangsung ketat karena mental juara dan kualitas individu Albiceleste akan membuat pertandingan berjalan hingga menit-menit terakhir. (*)
Editor : Niklaas Andries
Sumber : Radar Banyuwangi