Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Gagal ke Final Piala Dunia 2026, Inggris Punya Banyak Alasan untuk Optimistis Menuju Euro 2028

Niklaas Andries • Sabtu, 18 Juli 2026 | 11:45 WIB
PROSPEK CERAH: Gagal ke final Piala Dunia 2026 Inggris miliki modal kuat untuk Euro 2028
PROSPEK CERAH: Gagal ke final Piala Dunia 2026 Inggris miliki modal kuat untuk Euro 2028

RADARBANYUWANGI.ID - Kekalahan dari rival bebuyutan Argentina di semifinal Piala Dunia 2026 memang menyisakan luka mendalam bagi Inggris. Kekalahan itu memperpanjang daftar kegagalan Three Lions di fase-fase krusial turnamen besar setelah tersingkir di semifinal Piala Dunia 2018 serta kalah di final Euro 2020 dan Euro 2024.

Namun, di balik kekecewaan tersebut, perjalanan Inggris di Amerika Utara justru memperlihatkan fondasi yang semakin kuat. Mulai dari duet mematikan Harry Kane dan Jude Bellingham, kemunculan pemain-pemain baru, hingga kedalaman skuad yang terus berkembang menjadi modal berharga menuju Euro 2028 yang akan digelar di kandang sendiri.

Inggris Masih Memiliki Mesin Gol Berkelas Dunia

Salah satu kabar terbaik bagi Inggris adalah produktivitas luar biasa Harry Kane dan Jude Bellingham. Kedua pemain telah mencetak total 12 gol sepanjang Piala Dunia 2026. Kane kembali membuktikan statusnya sebagai salah satu penyerang terbaik dunia setelah membawa ketajamannya bersama Bayern Munchen ke level internasional.

Striker berusia 32 tahun tersebut langsung membuka turnamen dengan dua gol ke gawang Kroasia sebelum menambah empat gol lagi sepanjang perjalanan Inggris menuju semifinal. Sementara itu, Jude Bellingham tampil di luar ekspektasi.

Setelah menjalani musim yang relatif lebih tenang bersama Real Madrid usai pulih dari operasi bahu, gelandang muda itu justru menjelma menjadi salah satu pemain paling menentukan bagi Inggris.

Bellingham kini telah mengoleksi enam gol, menyamai catatan Kane.

Keduanya masih berpeluang meraih Sepatu Emas Piala Dunia apabila mampu menambah gol saat menghadapi Prancis pada laga perebutan tempat ketiga. Saat ini, mereka hanya terpaut dua gol dari Lionel Messi dan Kylian Mbappe yang sama-sama mengoleksi delapan gol.

Kontribusi keduanya juga sangat vital. Dua gol Kane ke gawang Republik Demokratik Kongo menyelamatkan Inggris dari eliminasi mengejutkan di babak 32 besar, sedangkan dwigol Bellingham ke gawang Norwegia memastikan langkah menuju semifinal.

Meski Kane belum memastikan akan tampil di Piala Dunia 2030, duetnya bersama Bellingham diperkirakan masih menjadi andalan Inggris pada Euro 2028. Konsisten Menembus Semifinal Kini Menjadi Standar Baru

Jika menengok satu dekade ke belakang, pencapaian Inggris saat ini sebenarnya menunjukkan perkembangan yang luar biasa. Sebelum mencapai semifinal Piala Dunia 2018, Inggris terakhir kali menembus empat besar pada Piala Dunia Italia 1990.

Begitu pula di ajang Euro. Sebelum menjadi finalis Euro 2020, pencapaian terbaik mereka sejak Euro 1996 hanyalah babak perempat final.

Kini situasinya berubah drastis. Dalam lima turnamen besar terakhir, Inggris berhasil mencapai semifinal atau final sebanyak empat kali.

Memang trofi masih belum datang, tetapi konsistensi tersebut menjadi bukti bahwa Three Lions telah berubah menjadi kekuatan utama sepak bola dunia. Tantangan berikutnya adalah mengubah konsistensi itu menjadi gelar juara.

Mental Inggris Teruji dalam Cuaca Ekstrem

Piala Dunia 2026 bukan hanya menguji kemampuan teknis para pemain, tetapi juga kekuatan fisik dan mental.

Sepanjang turnamen, para peserta harus menghadapi berbagai kondisi cuaca ekstrem, mulai dari suhu tinggi, kelembapan yang menyengat, hujan deras, hingga gangguan petir.

Inggris memang sempat bermain di stadion beratap dan berpendingin udara saat menghadapi Republik Demokratik Kongo di Atlanta. Namun mereka juga harus menjalani laga berat dalam suhu dan kelembapan tinggi saat menghadapi Norwegia di Miami.

Ujian lain datang ketika bermain di Stadion Azteca, Meksiko.

Selain harus menghadapi atmosfer suporter tuan rumah yang sangat intimidatif, Inggris juga ditantang oleh faktor ketinggian yang sejak awal diprediksi menjadi hambatan besar. Menariknya, skuad asuhan Thomas Tuchel mampu beradaptasi dengan baik.

Persiapan melalui pemusatan latihan sebelum turnamen jelas membantu, tetapi daya tahan fisik dan kekuatan mental para pemain menjadi faktor utama yang membuat Inggris tetap kompetitif di tengah kondisi yang tidak bersahabat.

Pengalaman tersebut diperkirakan akan menjadi bekal penting saat mereka tampil di Euro 2028 dengan kondisi cuaca yang jauh lebih familiar.

Thomas Tuchel Berhasil Menemukan Pahlawan Baru

Keputusan Thomas Tuchel saat memilih skuad sempat menuai kritik. Beberapa nama berpengalaman seperti Harry Maguire dicoret. Cole Palmer juga gagal masuk skuad utama, begitu pula Trent Alexander-Arnold yang selama ini menjadi salah satu pemain paling dikenal di Inggris.

Namun keputusan Tuchel justru membuka jalan bagi munculnya sosok-sosok baru. Salah satu yang paling bersinar adalah Djed Spence.

Bek Tottenham Hotspur itu tampil sangat disiplin sepanjang turnamen dan menjadi salah satu pemain yang paling banyak mendapat pujian dari pengamat maupun pendukung Inggris.

Meski Inggris kalah dari Argentina di semifinal, Spence tetap tampil impresif melalui sejumlah tekel krusial untuk meredam serangan lawan.

Penampilan pemain seperti Spence memperlihatkan bahwa Inggris kini tidak lagi hanya bergantung kepada para bintang besar. Kedalaman skuad mulai terbentuk, sesuatu yang sangat dibutuhkan untuk memenangkan turnamen besar.

Generasi Baru Siap Mengambil Estafet

Usia Harry Kane yang kini telah menginjak 32 tahun membuat Inggris mulai memikirkan regenerasi. Namun situasi tersebut tidak perlu terlalu dikhawatirkan. Thomas Tuchel memiliki banyak talenta muda yang siap berkembang menjadi tulang punggung baru.

Rio Ngumoha menjadi salah satu nama yang paling menarik perhatian.

Wonderkid Liverpool itu tampil impresif pada musim debutnya di Premier League dan bahkan dinobatkan sebagai pemain terbaik saat melakoni debut internasional melawan Selandia Baru dalam laga pemanasan Piala Dunia saat baru berusia 17 tahun.

Nama lain adalah Max Dowman.

Gelandang Arsenal tersebut mencatat sejarah sebagai pencetak gol termuda Premier League pada usia 16 tahun dan menjadi juara liga termuda sepanjang sejarah kompetisi.

Selain itu, Jude Bellingham, Elliot Anderson, Jarell Quansah, Morgan Rogers, dan James Trafford masih berusia 23 tahun.

Artinya, mereka akan memasuki usia 27 tahun pada Piala Dunia berikutnya, usia yang secara statistik sering dianggap sebagai puncak performa pesepak bola.

Perebutan Posisi Ketiga Menjadi Awal Kebangkitan

Inggris kini akan menghadapi Prancis dalam pertandingan perebutan tempat ketiga Piala Dunia 2026. Setelah itu, fokus akan beralih ke UEFA Nations League yang dimulai pada September mendatang.

Kompetisi tersebut menjadi kesempatan berikutnya bagi Thomas Tuchel untuk mengevaluasi kelemahan tim sekaligus menyempurnakan fondasi yang telah dibangun sepanjang Piala Dunia.

Target terbesar tentu tertuju pada Euro 2028.

Dengan status sebagai salah satu tuan rumah bersama Skotlandia, Wales, dan Republik Irlandia, Inggris memiliki peluang besar kembali melangkah jauh.

Jika mampu mempertahankan perkembangan pemain muda, menjaga produktivitas Kane dan Bellingham, serta terus memperkuat kedalaman skuad, Three Lions berpeluang mengakhiri penantian panjang mereka untuk kembali mengangkat trofi mayor. (*)

 

Editor : Niklaas Andries
Sumber : Radar Banyuwangi
inggris piala dunia 2026 Euro 2028 harry kane thomas tuchel Jude Bellingham