RADAR BANYUWANGI – Timnas Spanyol tidak sekadar memastikan tiket ke final Piala Dunia 2026. Kemenangan meyakinkan 2-0 atas Prancis di semifinal, Selasa (15/7) dini hari WIB, juga menjadi panggung bagi pelatih Luis de la Fuente untuk mengirim pesan tegas kepada calon lawan mereka di partai puncak.
La Roja tampil efektif di Dallas lewat gol penalti Mikel Oyarzabal dan sontekan Pedro Porro. Hasil tersebut mengantar Spanyol ke final Piala Dunia untuk kedua kalinya sekaligus memperpanjang rekor tak terkalahkan menjadi 37 pertandingan beruntun, menyamai catatan legendaris Italia.
Keberhasilan itu semakin mengukuhkan posisi Spanyol sebagai salah satu kekuatan dominan sepak bola dunia. Kepercayaan diri tinggi pun terpancar dari De la Fuente yang menilai anak asuhnya sedang berada dalam performa terbaik.
"Kami merasa tidak bisa dikalahkan saat ini. Prancis baru saja berhadapan dengan tim terbaik di dunia. Apa yang terlihat rumit bagi tim lain, anak-anak ini membuatnya tampak begitu mudah di lapangan," ujar De la Fuente dalam konferensi pers seusai pertandingan.
Ucapan tersebut bukan sekadar luapan emosi setelah kemenangan besar. Performa Spanyol sepanjang fase gugur menjadi bukti nyata perubahan yang dibangun secara bertahap sejak awal turnamen.
Sempat menuai keraguan setelah hanya bermain imbang tanpa gol melawan Tanjung Verde di fase grup, Spanyol justru berkembang menjadi tim paling konsisten. Lamine Yamal dan kolega sukses menyingkirkan Portugal, Belgia, hingga Prancis dengan permainan yang semakin matang.
Menurut De la Fuente, peningkatan performa itu merupakan hasil dari perencanaan jangka panjang. Tim memang dipersiapkan agar mencapai level terbaik saat memasuki fase-fase penentuan.
"Kami terus berkembang sepanjang turnamen. Target kami memang mencapai performa puncak ketika pertandingan paling penting datang," ungkapnya.
Kini Spanyol tinggal menunggu hasil semifinal lainnya yang mempertemukan Inggris dan Argentina di Atlanta untuk menentukan lawan di final.
Meski berpotensi menghadapi dua raksasa dunia, De la Fuente menegaskan tidak memiliki pilihan khusus mengenai siapa yang ingin dihadapi.
"Saat ini kami tidak lebih memilih salah satu dari mereka," katanya.
Apabila bertemu Argentina, laga final akan menghadirkan duel menarik antara De la Fuente dan Lionel Scaloni, dua pelatih yang sama-sama dikenal piawai membangun tim dengan filosofi permainan menyerang.
Sebaliknya, jika Inggris yang lolos, Spanyol akan kembali berhadapan dengan lawan yang pernah mereka kalahkan pada final Piala Eropa 2024. Pertemuan ulang itu berpotensi menjadi ajang balas dendam bagi The Three Lions.
Dengan modal rekor 37 pertandingan tanpa kekalahan, status juara bertahan Eropa, serta performa kolektif yang terus meningkat, Spanyol datang ke final dengan kepercayaan diri penuh. Siapa pun lawan yang muncul di New Jersey nanti, La Roja yakin memiliki kapasitas untuk kembali mengangkat trofi paling bergengsi di sepak bola dunia. (*)
Editor : Ali Sodiqin