Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Inggris Dibuat Pusing Erling Haaland, Tuchel Pertimbangkan Formasi Tiga Bek Tengah

Ali Sodiqin • Sabtu, 11 Juli 2026 | 20:38 WIB
Erling Haaland diprediksi menjadi pusat perhatian saat Norwegia menghadapi Inggris pada babak perempat final Piala Dunia 2026 di Miami Stadium. (Instagram/@herrelandslaget)
Erling Haaland diprediksi menjadi pusat perhatian saat Norwegia menghadapi Inggris pada babak perempat final Piala Dunia 2026 di Miami Stadium. (Instagram/@herrelandslaget)

RADAR BANYUWANGI – Bagi Timnas Inggris, tantangan terbesar saat menghadapi Norwegia di perempat final Piala Dunia 2026 bukan sekadar menghentikan permainan kolektif lawan. Fokus utama Thomas Tuchel adalah Erling Haaland.

Striker bertubuh 195 sentimeter itu menjadi pusat ancaman Norwegia berkat produktivitas gol dan efektivitasnya di kotak penalti. Duel di Miami Stadium, Amerika Serikat, Minggu (12/7) pukul 04.00 WIB, diprediksi akan ditentukan oleh keberhasilan Inggris meredam sang mesin gol.

Meski Norwegia masih diperkuat sejumlah pemain berkualitas seperti Martin Odegaard, Sander Berge, hingga Orjan Nyland, Haaland tetap menjadi pembeda yang paling ditakuti lawan.

Statistik sepanjang Piala Dunia 2026 memperlihatkan betapa besar pengaruh penyerang berusia 25 tahun itu terhadap permainan Norwegia. Dari total 12 gol yang dicetak tim asuhan Stale Solbakken, 58 persen di antaranya melibatkan Haaland. Bahkan, ia berkontribusi terhadap 33 persen peluang gol yang diciptakan Norwegia selama turnamen.

Catatan lain yang membuat Inggris harus ekstra waspada adalah rekor Norwegia saat diperkuat Haaland. Sejak kalah 1-2 dari Austria di UEFA Nations League pada September 2020, Norwegia belum pernah menelan kekalahan ketika Haaland tampil penuh bersama tim nasional.

Sebaliknya, saat Haaland absen, Norwegia terbukti lebih rentan. Salah satunya ketika dihajar Prancis 1-4 pada fase grup Piala Dunia 2026.

Efisien, Mematikan, dan Sulit Dibaca

Haaland dikenal bukan tipe penyerang yang banyak menyentuh bola. Justru sebaliknya, ia memilih menghemat energi dan bergerak pada momen yang tepat sebelum melepaskan penyelesaian akhir.

Dari 18 peluang yang ia ciptakan di Piala Dunia 2026, 17 di antaranya lahir hanya dengan satu sentuhan. Efisiensi tersebut menjadi salah satu alasan mengapa Haaland disebut sebagai salah satu penyerang paling klinis di sepak bola modern.

Dengan postur 1,95 meter dan bobot sekitar 94 kilogram, ia juga memadukan kekuatan fisik, kecepatan, serta kemampuan membaca ruang yang membuatnya sangat sulit dikawal sepanjang pertandingan.

Profesor sepak bola Norwegia, Geir Jordet, bahkan menyebut kemampuan Haaland membaca situasi permainan berada di atas rata-rata penyerang elite dunia. Menurutnya, Haaland mampu memproses lebih banyak informasi sebelum menerima bola sehingga selalu berada di posisi yang menguntungkan.

Tuchel Pertimbangkan Tiga Bek Tengah

Besarnya ancaman Haaland membuat Thomas Tuchel diyakini akan mempertimbangkan perubahan skema permainan. Salah satu opsi yang mencuat adalah menggunakan tiga bek tengah, formasi yang identik dengan Tuchel saat masih menangani Chelsea.

Strategi tersebut memungkinkan satu bek fokus melakukan penjagaan ketat terhadap Haaland, sementara dua bek lainnya mengantisipasi pergerakan Alexander Sorloth maupun pemain yang datang dari lini kedua.

Namun, perubahan formasi juga memiliki konsekuensi. Inggris berpotensi mengurangi jumlah gelandang atau mengorbankan eksplosivitas pemain sayap seperti Bukayo Saka demi memperkuat lini belakang.

Belajar dari Maroko dan Swiss

Sepanjang 2026, hanya sedikit tim yang mampu membatasi ruang gerak Haaland. Dua di antaranya adalah Maroko dan Swiss dalam laga uji coba sebelum Piala Dunia.

Maroko memilih mempersempit ruang di kotak penalti dan menugaskan bek tengah bertubuh besar untuk menempel Haaland sepanjang pertandingan. Strategi itu membuat hanya lima dari 24 umpan silang Norwegia berhasil menemui sang striker.

Sementara Swiss menggunakan tiga bek tengah dengan pengawalan berlapis. Hasilnya, Norwegia kesulitan mengembangkan permainan dan hanya mampu memaksimalkan sedikit umpan silang.

Pendekatan serupa dinilai bisa menjadi referensi bagi Inggris jika ingin membatasi pengaruh Haaland di laga perempat final.

Meski Inggris memiliki rekor lebih baik dalam sejarah pertemuan kedua tim, statistik masa lalu dinilai tidak lagi relevan. Kehadiran Haaland telah mengubah wajah Norwegia menjadi tim yang jauh lebih berbahaya.

Jika Inggris mampu memutus suplai bola dan membatasi ruang gerak Haaland, peluang lolos ke semifinal akan terbuka lebar. Namun bila penyerang milik Manchester City itu kembali menemukan ritmenya, Norwegia berpeluang melanjutkan kejutan di Piala Dunia 2026. (*)

Editor : Ali Sodiqin
#Inggris Norwegia #Erling Haaland #Piala Dunia #thomas tuchel #perempat final