RADARBANYUWANGI.ID - Pertarungan Inggris melawan Norwegia pada perempat final Piala Dunia 2026 dipastikan menghadirkan satu duel yang paling menyita perhatian, bagaimana menghentikan mesin gol Erling Haaland.
Penyerang Manchester City itu sedang berada dalam performa terbaiknya setelah mengoleksi tujuh gol hanya dalam empat pertandingan. Namun, data statistik Opta menunjukkan Inggris sebenarnya memiliki beberapa bek yang terbukti mampu membatasi ketajaman bomber berusia 25 tahun tersebut.
Begitu dipastikan akan menghadapi Norwegia di babak perempat final Piala Dunia 2026, perhatian publik sepak bola langsung tertuju kepada satu nama, Erling Haaland.
Striker andalan Norwegia itu tampil luar biasa sepanjang turnamen. Ia mencetak dua gol spektakuler saat menyingkirkan Brasil di babak 16 besar dan mengantar negaranya lolos ke delapan besar Piala Dunia untuk pertama kalinya dalam sejarah.
Sebelumnya, Haaland juga menjadi pahlawan kemenangan atas Pantai Gading di babak 32 besar melalui gol penentu pada menit-menit akhir. Pada fase grup, ia masing-masing memborong dua gol ke gawang Irak dan Senegal.
Menariknya lagi, Haaland kini sejajar dengan Lionel Messi dan Kylian Mbappe dalam persaingan Sepatu Emas meski sempat diistirahatkan saat Norwegia menghadapi Prancis pada laga terakhir penyisihan grup.
Situasi tersebut membuat pelatih Inggris Thomas Tuchel menghadapi pekerjaan rumah terbesar menjelang laga di Miami. Pertanyaannya sederhana, tetapi jawabannya sangat rumit: siapa bek Inggris yang paling mampu meredam Erling Haaland?
Dan Burn Punya Rekam Jejak Terbaik
Berdasarkan analisis statistik Opta, empat bek tengah Inggris pernah menghadapi Haaland di Premier League, yakni Marc Guehi, Ezri Konsa, Dan Burn, dan Trevoh Chalobah. Nama yang paling menonjol adalah Dan Burn.
Bek jangkung Newcastle United itu sudah enam kali berhadapan dengan Haaland. Hasilnya cukup mengesankan. Selama enam pertemuan tersebut, Burn hanya kebobolan satu gol dari Haaland, meski sang striker sempat menyumbang tiga assist.
Memang, Manchester City tetap mendominasi hasil pertandingan dengan empat kemenangan dan dua kali imbang saat Burn bermain. Namun secara duel individu, Burn termasuk salah satu bek yang paling sukses membatasi ruang gerak Haaland.
Penampilannya saat Inggris menang dramatis 3-2 atas Meksiko juga semakin memperkuat peluangnya menjadi starter. Burn tampil solid dengan berkali-kali memenangi duel udara dan memblok tembakan lawan.
Keunggulan fisik Burn dinilai menjadi modal penting karena Brasil sebelumnya kesulitan menghentikan Haaland akibat kalah kuat dalam duel badan. Meski demikian, keputusan akhir tetap berada di tangan Thomas Tuchel.
Ezri Konsa Justru Memiliki Statistik Paling Efisien
Apabila Burn tidak dimainkan sejak menit pertama, duet yang paling mungkin kembali dipercaya adalah Marc Guehi dan Ezri Konsa.
Dari keduanya, Konsa memiliki catatan paling impresif. Bek Aston Villa itu hanya sekali kebobolan dari Haaland dalam lima pertemuan di Premier League.
Lebih menarik lagi, Haaland hanya menghasilkan expected goals (xG) sebesar 0,4 per 90 menit ketika berhadapan dengan Konsa. Ia juga hanya mampu mencatat rata-rata 4,2 sentuhan di dalam kotak penalti setiap 90 menit. Statistik tersebut menunjukkan bahwa lini pertahanan Aston Villa cukup berhasil memutus suplai bola menuju Haaland.
Bahkan, dari lima pertandingan itu, Haaland hanya sekali menang. Tiga laga lainnya justru dimenangkan Aston Villa. Data ini menjadi sinyal positif bagi Inggris apabila Konsa mampu mengulang performa terbaiknya pada laga nanti.
Marc Guehi Justru Menjadi Korban Favorit Haaland
Situasi berbeda dialami Marc Guehi. Bek Crystal Palace itu memiliki rekor yang kurang menggembirakan saat menghadapi Haaland. Dalam empat pertandingan, Haaland berhasil mencetak tujuh gol ke gawang tim yang diperkuat Guehi.
Rata-rata, striker Norwegia tersebut mencetak 1,8 gol per pertandingan ketika menghadapi Guehi. Meski demikian, terdapat satu statistik yang sedikit memberi harapan.
Haaland ternyata hanya memenangi satu dari enam duel langsung melawan Guehi. Artinya, secara duel individu Guehi sebenarnya cukup kompetitif, hanya saja efektivitas penyelesaian akhir Haaland tetap sangat tinggi.
Bagaimana dengan Trevoh Chalobah?
Trevoh Chalobah juga pernah beberapa kali berhadapan dengan Haaland bersama Chelsea. Dalam lima pertandingan, ia kebobolan dua gol dari striker Manchester City tersebut.
Namun peluang Chalobah tampil pada laga perempat final relatif kecil. Ia baru bergabung dengan skuad Inggris setelah Tino Livramento mengalami cedera dan hingga kini belum sekalipun dimainkan di Piala Dunia.
Faktor John Stones Bisa Menjadi Pembeda
Selain empat nama tersebut, Inggris juga memiliki John Stones. Bek berpengalaman itu tentu mengenal Haaland luar dalam karena keduanya sempat menjadi rekan setim selama beberapa musim di Manchester City sebelum Stones hengkang pada akhir musim. Pengalaman berlatih setiap hari bersama Haaland bisa menjadi keuntungan tersendiri.
Hal serupa juga dimiliki bek kiri Nico O'Reilly yang juga pernah bermain bersama Haaland di City. Namun, mengenal karakter permainan Haaland bukan berarti otomatis mampu menghentikannya.
Inggris Harus Memutus Aliran Bola, Bukan Sekadar Mengawal Haaland
Statistik Opta memperlihatkan bahwa tidak ada bek yang benar-benar mampu "mematikan" Erling Haaland selama 90 menit. Yang bisa dilakukan adalah membatasi jumlah peluang yang diterima sang striker.
Dalam konteks tersebut, Ezri Konsa tampil sebagai kandidat paling efektif berdasarkan data statistik, sementara Dan Burn menawarkan keunggulan fisik yang mampu mengimbangi kekuatan Haaland di udara maupun duel badan.
Sebaliknya, Marc Guehi harus bekerja ekstra keras apabila kembali dipercaya menjadi starter karena rekam jejaknya menghadapi Haaland kurang meyakinkan. Pada akhirnya, strategi Inggris tidak hanya bergantung pada kualitas individu para bek.
Lini tengah harus mampu memutus suplai bola menuju Haaland. Sebab, ketika penyerang Norwegia itu memperoleh ruang sekecil apa pun di area penalti, peluangnya mengubah kesempatan menjadi gol tetap sangat tinggi. (*)
Editor : Niklaas Andries