Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

FIFA Cabut Skorsing Folarin Balogun, Striker AS Siap Hadapi Belgia di 16 Besar Piala Dunia 2026

Niklaas Andries • Senin, 6 Juli 2026 | 08:00 WIB
KONTROVERSI: FIFA cabut sanksi Folarin Balogun
KONTROVERSI: FIFA cabut sanksi Folarin Balogun

RADARBANYUWANGI.ID - Tim nasional Amerika Serikat mendapat suntikan kekuatan besar menjelang duel hidup-mati kontra Belgia di babak 16 besar Piala Dunia 2026.

Federasi Sepak Bola Dunia (FIFA) secara mengejutkan menangguhkan hukuman larangan satu pertandingan yang otomatis dijatuhkan kepada penyerang Amerika Serikat, Folarin Balogun, setelah menerima kartu merah saat mengalahkan Bosnia-Herzegovina 2-0 pada babak 32 besar Piala Dunia 2026.

Dalam pernyataan resminya, FIFA menyebut penerapan sanksi tersebut ditangguhkan berdasarkan Pasal 27 Kode Disiplin FIFA.

"Berdasarkan Pasal 27 Kode Disiplin FIFA, pelaksanaan hukuman larangan bermain otomatis terhadap pemain Amerika Serikat, Folarin Balogun, ditangguhkan dengan masa percobaan selama satu tahun."

Artinya, Balogun tetap memenuhi syarat untuk memperkuat Amerika Serikat saat menghadapi Belgia pada babak 16 besar.

Keputusan ini menjadi angin segar bagi pelatih Mauricio Pochettino, mengingat Balogun merupakan salah satu mesin gol utama skuad Negeri Paman Sam.

Donald Trump Disebut Ikut Meminta FIFA Meninjau Kartu Merah

Kontroversi semakin memanas setelah laporan ABC mengungkap Presiden Amerika Serikat Donald Trump menelepon Presiden FIFA Gianni Infantino usai kemenangan atas Bosnia-Herzegovina.

Trump disebut meminta FIFA meninjau kembali kartu merah Balogun yang dianggap tidak adil.

Tak lama setelah keputusan diumumkan, Trump merayakannya melalui media sosial.

"Terima kasih kepada FIFA karena telah melakukan hal yang benar dan membatalkan sebuah ketidakadilan besar!"

Meski demikian, FIFA tidak pernah menyatakan bahwa keputusan tersebut dipengaruhi oleh intervensi politik.

Amerika Serikat Mengejar Sejarah

Laga melawan Belgia menjadi kesempatan emas bagi Amerika Serikat untuk menembus perempat final Piala Dunia untuk pertama kalinya sejak edisi 2002. Perjalanan AS dalam beberapa edisi terakhir selalu terhenti sebelum delapan besar.

2006: gagal lolos fase grup.

2010: tersingkir di babak 16 besar oleh Ghana.

2014: dikalahkan Belgia.

2018: gagal lolos ke putaran final.

2022: disingkirkan Belanda pada babak 16 besar.

Kehadiran Balogun tentu meningkatkan daya gedor lini serang yang akan menghadapi pertahanan Belgia.

Federasi Sepak Bola Amerika Serikat Sambut Positif

Federasi Sepak Bola Amerika Serikat (U.S. Soccer) menerima keputusan Komite Disiplin FIFA.

Dalam pernyataannya disebutkan:

"Kami menerima keputusan Komite Disiplin dan senang Folarin Balogun memenuhi syarat untuk bermain besok."

Federasi juga menegaskan fokus penuh kini diarahkan kepada pertandingan melawan Belgia sambil berharap dukungan penuh dari para suporter.

Para Pemain Awalnya Mengira Berita Itu Hasil AI

Keputusan FIFA ternyata mengejutkan seluruh skuad Amerika Serikat. Bek Chris Richards mengungkap para pemain baru mengetahui kabar tersebut saat berada di dalam bus menuju sesi latihan di Universitas Washington.

"Awalnya kami mengira itu hanya gambar hasil AI. Kami belum yakin apakah berita itu benar atau tidak," ujar Richards.

Belgia Protes Keras, Sebut FIFA Langgar Regulasi Sendiri

Federasi Sepak Bola Belgia menjadi pihak yang paling keras menentang keputusan FIFA. Mereka menyatakan "terkejut" sekaligus tengah mempelajari berbagai langkah hukum yang memungkinkan.

Menurut Belgia, keputusan FIFA bertentangan dengan Pasal 66.4 Kode Disiplin FIFA yang secara tegas menyatakan kartu merah otomatis menghasilkan hukuman satu pertandingan.

Tak hanya itu, Belgia juga menilai keputusan tersebut melanggar Pasal 10.5 Regulasi Kompetisi Piala Dunia FIFA 2026 yang berbunyi:

"Pemain atau ofisial tim yang menerima kartu merah langsung maupun kartu merah akibat akumulasi kartu kuning otomatis menjalani skorsing pada pertandingan berikutnya."

Karena itu, Belgia mempertanyakan dasar hukum yang digunakan FIFA.

Mauricio Pochettino: Saya Fokus Menyiapkan Tim

Pelatih Amerika Serikat Mauricio Pochettino menegaskan dirinya tidak ikut terlibat dalam proses banding.

Menurut mantan pelatih Tottenham Hotspur dan Paris Saint-Germain tersebut, seluruh proses ditangani federasi.

"Saya tidak terlibat. Saya hanya fokus menyiapkan tim menghadapi Belgia."

Ketika ditanya mengenai dugaan adanya tekanan politik terhadap FIFA, Pochettino memilih menjaga jarak.

"Kita tidak boleh mencampuradukkan sepak bola dengan politik."

Ia justru memuji adanya mekanisme peninjauan ulang apabila sebuah keputusan dinilai tidak adil.

Balogun Yakin Kartu Merah Tidak Adil

Balogun sebelumnya mengaku kecewa dengan kartu merah yang diterimanya. Insiden itu terjadi setelah benturan dengan bek Bosnia-Herzegovina Tarik Muharemovic saat berebut posisi. Menurut Balogun, duel seperti itu merupakan bagian normal dalam sepak bola.

"Kalau Anda pernah bermain sepak bola, Anda akan memahami bahwa ada situasi yang memang sulit dihindari dan harus dinilai sesuai konteks."

Pada laga tersebut, Balogun sempat membuka keunggulan Amerika Serikat pada menit ke-45 sebelum akhirnya diusir wasit pada menit ke-64.

Sehari setelah dinyatakan bebas bermain, striker AS Monaco tersebut mengunggah foto dirinya bersama suporter Amerika Serikat di media sosial dengan latar lagu legendaris Michael Jackson berjudul Bad.

FIFA Pernah Mengambil Keputusan Serupa

Keputusan FIFA sebenarnya bukan tanpa preseden. Pasal 27 Kode Disiplin FIFA memang memberi kewenangan kepada badan peradilan FIFA untuk menangguhkan pelaksanaan sanksi disiplin selama masa percobaan satu hingga empat tahun.

Beberapa kasus sebelumnya antara lain:

Cristiano Ronaldo mendapat penangguhan dua pertandingan terakhir dari hukuman tiga laga setelah kartu merah saat kualifikasi Piala Dunia melawan Republik Irlandia, sehingga tetap bisa tampil pada awal Piala Dunia.

Nicolas Otamendi (Argentina) memperoleh penangguhan hukuman satu pertandingan usai kartu merah pada laga kualifikasi.

Moises Caicedo (Ekuador) juga mendapat perlakuan serupa sehingga tetap tersedia pada laga pembuka Piala Dunia.

Kasus paling terkenal terjadi pada Garrincha di Piala Dunia 1962. Legenda Brasil itu diusir pada semifinal, tetapi akhirnya diizinkan tampil pada partai final setelah adanya tekanan politik.

Meski demikian, keputusan terhadap Balogun tetap menjadi salah satu yang paling kontroversial karena diambil hanya sehari sebelum pertandingan fase gugur dan memunculkan perdebatan mengenai konsistensi penerapan regulasi FIFA. (*)

Editor : Niklaas Andries
#Mauricio Pochettino #Folarin Balogun #AMERIKA SERIKAT VS BELGIA #piala dunia 2026 #FIFA