Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

UEFA Pilih Jalur Berbeda dari FIFA, Pemain yang Menutup Mulut Saat Berbicara Tak Langsung Diusir

Niklaas Andries • Sabtu, 4 Juli 2026 | 00:46 WIB
PILIH BEDA: UEFA pilih beda dengan FIFA soal aturan pemberian kartu merah terhadap pemain yang tutup mulut saat bicara
PILIH BEDA: UEFA pilih beda dengan FIFA soal aturan pemberian kartu merah terhadap pemain yang tutup mulut saat bicara

RADARBANYUWANGI.ID - UEFA memastikan tidak akan menerapkan aturan kartu merah otomatis bagi pemain yang menutupi mulut ketika berbicara kepada lawan pada seluruh kompetisi antarklub Eropa musim 2026-2027. Dengan demikian, Liga Champions, Liga Europa, dan Liga Konferensi tetap menggunakan ketentuan lama berupa sanksi kartu kuning untuk tindakan tersebut.

Keputusan itu menjadi pembeda paling mencolok antara regulasi UEFA dan FIFA setelah badan sepak bola dunia lebih dahulu memperkenalkan aturan yang jauh lebih tegas pada Piala Dunia 2026.

Dalam pernyataan resminya yang dirilis Kamis (3/7), UEFA menegaskan bahwa wasit tetap dapat menganggap tindakan menutupi mulut untuk menyembunyikan komunikasi sebagai perilaku tidak sportif. Namun, pelanggaran tersebut hanya dapat diganjar kartu kuning, bukan kartu merah langsung.

UEFA juga menegaskan bahwa hukuman di lapangan tidak menghalangi proses disipliner lanjutan apabila ditemukan pelanggaran lain yang berkaitan dengan insiden tersebut.

"Ketentuan ini tidak mengesampingkan kemungkinan penyelidikan atau proses disipliner yang dapat dilakukan sebagai konsekuensi dari perilaku tersebut," demikian bunyi pernyataan UEFA.

FIFA Lebih Tegas di Piala Dunia

Sebelumnya, Presiden FIFA Gianni Infantino mendorong perubahan regulasi yang jauh lebih keras pada Piala Dunia 2026. Dalam turnamen tersebut, pemain yang menutupi mulut dengan tangan ketika berbicara kepada lawan dapat langsung diganjar kartu merah.

Aturan baru itu sudah memakan korban. Gelandang Paraguay Miguel Almirón menjadi pemain pertama yang diusir wasit akibat pelanggaran tersebut. Bek Ekuador Piero Hincapié kemudian mengalami nasib serupa setelah melakukan tindakan yang sama saat berbicara dengan pemain lawan.

Menariknya, gelandang Inggris Jude Bellingham sempat terlihat menutupi mulut ketika berbicara dengan pemain Ghana. Namun, ia lolos dari hukuman kartu merah karena wasit menilai tindakannya tidak dilakukan dalam situasi konfrontatif.

Kasus Vinícius Jr Jadi Sorotan

Perdebatan mengenai aturan ini semakin mengemuka setelah insiden pada babak Liga Champions Februari lalu.

Saat pertandingan Benfica melawan Real Madrid, pemain Benfica Gianluca Prestianni menutupi pembicaraannya dengan mengangkat bagian depan jersey ketika berbicara kepada penyerang Real Madrid, Vinícius Júnior.

Awalnya, Vinícius menuduh dirinya menjadi korban pelecehan bernuansa rasial. Namun, hasil investigasi UEFA menyimpulkan bahwa Prestianni terbukti melakukan tindakan yang bersifat anti-gay, bukan penghinaan rasial. Akibat pelanggaran tersebut, ia dijatuhi larangan bermain selama enam pertandingan.

Ironisnya, meski insiden yang memicu perhatian besar itu terjadi di kompetisi elite UEFA, konfederasi sepak bola Eropa tersebut tetap memilih tidak mengadopsi regulasi kartu merah yang diterapkan FIFA di Piala Dunia.

Protes Keluar Lapangan Juga Tak Diganjar Kartu Merah

Selain menolak aturan mengenai penutupan mulut, UEFA juga memutuskan tidak menggunakan opsi pemberian kartu merah kepada pemain yang meninggalkan lapangan sebagai bentuk protes terhadap keputusan pertandingan.

Namun demikian, UEFA tetap mengadopsi salah satu inovasi regulasi FIFA, yakni memberikan kewenangan kepada Video Assistant Referee (VAR) untuk memeriksa keputusan tendangan sudut yang keliru. Teknologi tersebut telah lebih dahulu digunakan selama penyelenggaraan Piala Dunia 2026.

Analisis: UEFA Pilih Fleksibilitas, Hindari Kontroversi Baru

Keputusan UEFA menunjukkan pendekatan yang lebih moderat dibanding FIFA. Organisasi sepak bola Eropa tampaknya mempertimbangkan bahwa tindakan menutupi mulut belum tentu bertujuan menyembunyikan ujaran yang melanggar aturan. Dalam banyak situasi, pemain melakukannya untuk menghindari pembacaan gerak bibir oleh kamera televisi.

Dengan tetap mempertahankan hukuman kartu kuning, UEFA memberi ruang bagi wasit untuk menilai konteks insiden di lapangan tanpa harus mengeluarkan kartu merah secara otomatis.

Sebaliknya, FIFA memilih pendekatan yang lebih represif sebagai bagian dari upaya meningkatkan transparansi dan mencegah potensi penghinaan, diskriminasi, maupun intimidasi antarpemain selama pertandingan.

Perbedaan regulasi ini berpotensi memunculkan tantangan baru bagi pemain, pelatih, dan wasit karena standar hukuman akan berbeda antara kompetisi UEFA dan turnamen yang berada di bawah naungan FIFA. (*)

Editor : Niklaas Andries
#FIFA #kartu merah #gianni infantino #uefa #liga champions