Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Rudi Garcia Disindir Opta Usai Belgia Lolos ke 16 Besar Piala Dunia 2026, Statistik Lama Jadi Bumerang

Niklaas Andries • Jumat, 3 Juli 2026 | 00:39 WIB
SINDIRAN: Rudi Garcia jadi sorotan usai laga Belgia vs Senegal di babak 32 besar Piala Dunia 2026 (Optajean)
SINDIRAN: Rudi Garcia jadi sorotan usai laga Belgia vs Senegal di babak 32 besar Piala Dunia 2026 (Optajean)

RADARBANYUWANGI.ID - Rudi Garcia seharusnya menikmati kemenangan Belgia atas Senegal pada babak 16 besar Piala Dunia 2026. Tim berjuluk Setan Merah itu memastikan tiket ke perempat final setelah menang dramatis dengan skor 3-2.

Namun, sorotan publik justru mengarah kepada komentar Garcia seusai pertandingan. Pelatih berusia 62 tahun tersebut mengkritik pendekatan taktis Senegal setelah unggul dua gol.

Menurut Garcia, Senegal kehilangan kendali permainan pada fase akhir pertandingan karena terlalu fokus mempertahankan keunggulan.

"Kami mengenal tim-tim seperti itu. Mereka kehilangan penguasaan taktik menjelang akhir pertandingan. Saat unggul 2-0, kami tahu mereka akan melakukan apa pun untuk mempertahankan keunggulan. Menurut saya, itu adalah kesalahan besar. Tolong ingatkan saya nanti jika kami unggul 2-0 agar tidak melakukan hal yang sama," ujar Garcia kepada para wartawan.

Pernyataan itu langsung memancing reaksi, termasuk dari lembaga statistik sepak bola ternama, Opta.

Opta Balas dengan Statistik yang Memalukan

Alih-alih membahas kemenangan Belgia, Opta justru mengungkit catatan lama Garcia yang bertolak belakang dengan ucapannya.

Berdasarkan data Opta, Garcia tercatat pernah tiga kali kalah di Liga Prancis setelah tim asuhannya unggul 2-0. Statistik tersebut menjadi rekor yang tidak diinginkan karena belum pernah disamai pelatih lain di Ligue 1 sepanjang abad ke-21.

Tiga kekalahan tersebut terjadi saat:

Tahun 2001, ketika menangani Saint-Etienne, timnya kalah 3-5 dari AS Monaco meski sempat unggul 2-0.

September 2007, saat melatih Le Mans, timnya menyerah 2-3 kepada Lyon setelah lebih dahulu memimpin.

Tahun 2021, ketika menjadi pelatih Lyon, timnya kembali kalah 2-3 dari Lille meski sudah unggul dua gol.

Catatan tersebut membuat komentar Garcia dinilai kontradiktif dengan pengalaman yang pernah dialaminya sendiri di level klub.

Belgia Lolos, tetapi Garcia Tetap Menjadi Perbincangan

Keberhasilan Belgia mencapai babak perempat final seharusnya menjadi sorotan utama. Akan tetapi, pernyataan Garcia seusai laga justru mengalihkan perhatian publik.

Respons cepat Opta melalui data statistik menunjukkan bahwa setiap komentar dari pelatih berpengalaman asal Prancis itu kini akan mendapat perhatian lebih besar, terutama ketika berkaitan dengan aspek taktik dan pengelolaan keunggulan dalam pertandingan.

Dengan rekam jejak tersebut, setiap pernyataan Garcia pada laga-laga berikutnya diperkirakan akan terus menjadi bahan evaluasi sekaligus perdebatan di kalangan pengamat sepak bola. (*)

Editor : Niklaas Andries
#belgia vs senegal #rudi garcia #opta #statistik Rudi Garcia #piala dunia 2026