RADARBANYUWANGI.ID - Mauricio Pochettino semakin mengukuhkan posisinya sebagai sosok penting di balik kebangkitan Tim Nasional Amerika Serikat pada Piala Dunia 2026. Setelah mencatat sejumlah rekor bersejarah bersama The Yanks, pelatih asal Argentina itu kini dikabarkan tengah dalam pembicaraan serius mengenai kontrak baru yang akan mengikatnya hingga 2030.
Informasi tersebut muncul setelah Amerika Serikat memastikan tempat di babak 16 besar usai menaklukkan Bosnia-Herzegovina dengan skor 2-0 pada Rabu (2/7). Kemenangan itu memastikan tuan rumah lolos sebagai juara grup, sekaligus mempertegas peningkatan performa tim di bawah kepemimpinan Pochettino.
Amerika Serikat kini bersiap menghadapi Belgia pada fase gugur. Pemenang laga tersebut akan bertemu salah satu dari Spanyol, Austria, Portugal, atau Kroasia di perempat final.
Lolos ke delapan besar akan menjadi pencapaian bersejarah bagi tim berjuluk Stars and Stripes. Sejak finis di posisi ketiga pada edisi perdana Piala Dunia tahun 1930, Amerika Serikat belum pernah mampu melampaui babak perempat final.
Keberhasilan Pochettino tidak hanya diukur dari pencapaian lolos ke fase gugur. Kemenangan telak 4-1 atas Paraguay pada laga pembuka juga menjadi kemenangan dengan selisih tiga gol pertama Amerika Serikat di Piala Dunia sejak edisi 1930.
Selain itu, mantan pelatih Tottenham Hotspur tersebut kini resmi menjadi pelatih Amerika Serikat dengan jumlah kemenangan terbanyak di ajang Piala Dunia.
Negosiasi Kontrak Sudah Berlangsung Lama
Seiring performa impresif tersebut, Federasi Sepak Bola Amerika Serikat dikabarkan telah menawarkan kontrak baru berdurasi empat tahun kepada Pochettino. Padahal, saat pertama kali direkrut, kontraknya hanya berlaku hingga akhir Juli 2026.
Mantan penjaga gawang Amerika Serikat, Brad Friedel, mengungkapkan bahwa proses negosiasi sebenarnya telah berlangsung cukup lama.
"Saya yakin pembicaraan mengenai kelanjutan Mauricio Pochettino sebagai pelatih Amerika Serikat sudah berlangsung cukup lama. Karena kualitasnya sebagai pelatih, saya tidak terkejut jika ia mendapatkan tawaran kontrak baru," ujar Friedel.
Menurut Friedel, mempertahankan Pochettino merupakan keputusan logis mengingat dampak besar yang langsung dirasakan tim nasional.
"Jika saya memiliki pelatih seperti Pochettino, tentu saya ingin mempertahankannya. Dia sangat hebat dalam pekerjaannya. Sejak awal Piala Dunia, para pemain tampil meningkat, mampu memanfaatkan status sebagai tuan rumah, menjadi juara grup, dan memasuki babak gugur dengan performa yang sangat baik."
Meski demikian, Friedel menilai keputusan akhir tetap berada di tangan Pochettino dan keluarganya.
"Semuanya tergantung apa yang diinginkan Pochettino dan keluarganya. Jika ia nyaman dengan situasi saat ini, tentu ia bisa bertahan."
"Namun jika ia ingin kembali menangani klub dengan pekerjaan sehari-hari, saya yakin banyak klub besar yang siap merekrutnya. Ia akan memiliki banyak pilihan dan tentu akan memilih proyek terbaik."
Jalan Kembali ke Liga Inggris Kian Sempit
Sebelum Piala Dunia 2026 dimulai, masa depan Pochettino sempat menjadi salah satu topik hangat di Eropa.
Pelatih berusia 54 tahun itu dikaitkan dengan kemungkinan kembali menangani Tottenham Hotspur, klub yang pernah dibawanya mencapai final Liga Champions.
Namun peluang tersebut akhirnya tertutup setelah Tottenham memutuskan mempertahankan proyek jangka panjang bersama Roberto De Zerbi. Keputusan itu terbukti tepat karena Spurs berhasil menghindari degradasi ke Championship.
Rumor yang menghubungkannya dengan Real Madrid juga menghilang setelah raksasa Spanyol tersebut memilih kembali menunjuk Jose Mourinho sebagai pelatih menggantikan Alvaro Arbeloa.
Saat ini, pilihan Pochettino untuk kembali ke Liga Inggris juga semakin terbatas. Nottingham Forest memang sempat berpisah dengan Vitor Pereira, tetapi klub tersebut dikabarkan segera menunjuk mantan pelatih Crystal Palace, Oliver Glasner.
Sementara itu, Fulham masih menunggu izin kerja untuk meresmikan penunjukan Alvaro Arbeloa. Jika proses tersebut gagal, nama Pochettino berpotensi masuk dalam daftar kandidat. Meski demikian, peluang kembali ke Premier League untuk saat ini dinilai belum terbuka lebar.
Performa Amerika Serikat di bawah Mauricio Pochettino menunjukkan perubahan yang signifikan dalam waktu singkat. Tim tidak hanya tampil lebih agresif, tetapi juga mampu memaksimalkan keuntungan sebagai tuan rumah dengan menjadi juara grup tanpa kesulitan berarti.
Jika mampu membawa Amerika Serikat melangkah ke perempat final atau bahkan lebih jauh, posisi Pochettino akan semakin kuat. Tawaran kontrak hingga 2030 menjadi sinyal bahwa federasi ingin membangun proyek jangka panjang menuju siklus Piala Dunia berikutnya.
Di sisi lain, pasar pelatih elite Eropa yang mulai stabil membuat peluang Pochettino kembali ke level klub dalam waktu dekat semakin kecil. Kondisi tersebut justru memperbesar kemungkinan ia menerima kontrak baru dan melanjutkan revolusi sepak bola Amerika Serikat hingga beberapa tahun ke depan. (*)
Editor : Niklaas Andries