RADARBANYUWANGI.ID - Timnas Inggris lolos ke babak 16 besar Piala Dunia 2026 dengan cara yang jauh dari meyakinkan. Tertinggal lebih dulu, The Three Lions bangkit menundukkan Kongo 2-1 berkat dua gol kapten Harry Kane dalam laga babak 32 besar yang berlangsung Rabu (1/7).
Kemenangan tersebut memang mengantar Inggris melanjutkan perjalanan di Amerika Utara. Namun, di balik hasil positif itu, tersimpan berbagai persoalan yang harus segera dibenahi pelatih Thomas Tuchel jika tidak ingin langkah mereka terhenti pada fase berikutnya.
Sepanjang pertandingan, Inggris justru tampil di bawah tekanan lawannya. Kane menjadi pembeda sekaligus penyelamat ketika performa rekan-rekannya gagal memenuhi ekspektasi.
Dikejutkan Gol Cepat Kongo
Inggris mengawali pertandingan dengan mimpi buruk. Baru tujuh menit laga berjalan, Brian Cipenga sukses membawa Kongo unggul 1-0 setelah memanfaatkan kelengahan lini belakang Inggris.
Gol tersebut membuat permainan skuad Thomas Tuchel semakin kehilangan arah. Organisasi permainan terlihat pasif, terutama pada babak pertama. Saat mencoba melakukan tekanan tinggi, ruang kosong di belakang gelandang seperti Declan Rice berkali-kali berhasil dimanfaatkan pemain-pemain Kongo.
Tim Afrika itu bahkan memiliki sejumlah peluang untuk menggandakan keunggulan sebelum turun minum. Inggris memang beberapa kali mengancam, tetapi serangan mereka minim kreativitas dan mudah dipatahkan.
Harry Kane Menunjukkan Kelas Dunia
Ketika Inggris mulai kehilangan harapan, Harry Kane kembali membuktikan statusnya sebagai salah satu penyerang terbaik dunia. Memasuki seperempat akhir pertandingan, bomber berusia 32 tahun tersebut mencetak gol penyama kedudukan yang membangkitkan semangat timnya.
Empat menit menjelang waktu normal berakhir, Kane kembali menjadi pembeda melalui penyelesaian akhir kelas dunia yang tak mampu dihentikan kiper Kongo. Brace tersebut memastikan Inggris membalikkan keadaan menjadi 2-1 sekaligus mengamankan tiket menuju babak 16 besar.
Ketergantungan Inggris kepada Kane Semakin Mengkhawatirkan
Laga ini kembali menunjukkan betapa besarnya ketergantungan Inggris terhadap Harry Kane. Thomas Tuchel sebenarnya datang ke Piala Dunia 2026 dengan pendekatan yang lebih pragmatis dan defensif. Namun strategi tersebut hampir berubah menjadi bumerang ketika timnya kesulitan membongkar permainan disiplin Kongo.
Selama sebagian besar pertandingan, Inggris nyaris tidak memiliki solusi setelah tertinggal. Tanpa ketajaman Kane, peluang mereka tersingkir pada babak 32 besar sangat terbuka.
Performa Kane bahkan layak disejajarkan dengan para superstar dunia seperti Kylian Mbappe, Lionel Messi, maupun Erling Haaland. Di saat tim mengalami kebuntuan, Kane kembali menjadi sosok yang mampu menentukan hasil pertandingan seorang diri.
Selain Jude Bellingham yang masih mampu menunjukkan kualitasnya sepanjang turnamen, hampir seluruh pemain inti Inggris tampil jauh di bawah standar saat menghadapi Kongo.
Tuchel Masih Memiliki Banyak Pekerjaan Rumah
Kemenangan dramatis ini tidak boleh menutupi kelemahan mendasar Inggris. Selama hampir 60 tahun terakhir, negara tersebut terus dibayangi kegagalan meraih gelar mayor sejak menjuarai Piala Dunia 1966. Beban sejarah itu kembali terlihat dalam penampilan yang gugup dan tidak meyakinkan saat menghadapi Kongo.
Thomas Tuchel didatangkan untuk melakukan apa yang gagal diwujudkan Gareth Southgate, yakni membawa Inggris menjuarai turnamen internasional setelah dua kali hanya menjadi finalis Piala Eropa.
Namun, jika performa seperti ini terus berlanjut, mustahil Inggris mampu bersaing dengan kandidat juara lainnya. Tuchel tidak bisa berharap Harry Kane selalu mencetak gol penyelamat di setiap pertandingan.
Pelatih asal Jerman tersebut harus segera memperbaiki organisasi permainan, kreativitas lini tengah, hingga koordinasi pertahanan sebelum memasuki fase gugur berikutnya.
Tantangan Berat Menanti Inggris
Perjalanan Inggris dipastikan semakin berat pada babak 16 besar. The Three Lions akan menghadapi salah satu tuan rumah turnamen, Meksiko, di Stadion Azteca, Mexico City, pada 6 Juli. Bermain di hadapan puluhan ribu pendukung lawan dipastikan menciptakan atmosfer yang sangat menekan.
Apabila mampu melewati hadangan Meksiko, Inggris berpotensi bertemu Norwegia atau Brasil pada babak perempat final.
Berdasarkan performa melawan Kongo, Inggris jelas belum menunjukkan kualitas sebagai calon juara. Untuk sementara, harapan Thomas Tuchel menjaga mimpi mengangkat trofi Piala Dunia 2026 masih bertumpu pada satu nama: Harry Kane. (*)
Editor : Niklaas Andries