RADARBANYUWANGI.ID - Selebrasi "cold" yang identik dengan Cole Palmer ternyata bukanlah ciptaan bintang muda Chelsea tersebut. Gerakan menyilangkan tangan di dada lalu mengusap kedua lengan seolah menggigil itu memiliki sejarah yang lebih panjang, mulai dari Championship Inggris hingga panggung NBA di Amerika Serikat.
Kini, selebrasi tersebut telah menjelma menjadi fenomena global yang melekat pada sejumlah atlet papan atas. Selebrasi menjadi bagian penting dalam sepak bola modern. Selain meluapkan emosi setelah mencetak gol, perayaan gol juga mampu membangun identitas seorang pemain.
Salah satu yang paling populer dalam dua musim terakhir adalah selebrasi "cold" yang identik dengan gelandang serang Chelsea, Cole Palmer.
Gerakan tersebut dilakukan dengan menyilangkan kedua tangan di dada, lalu mengusap lengan atas seolah-olah sedang menggigil karena udara dingin.
Aksi sederhana itu kini menjadi tren di berbagai kompetisi sepak bola hingga olahraga lain di berbagai belahan dunia. Namun, apakah Palmer benar-benar orang pertama yang melakukannya?
Berawal dari Morgan Rogers
Palmer pertama kali memperlihatkan selebrasi tersebut ketika mencetak gol pertama dari dua golnya dalam kemenangan Chelsea 3-2 atas Luton Town pada Desember 2023.
Saat itu banyak yang menganggap selebrasi tersebut merupakan ciri khas baru sang playmaker Inggris. Faktanya, Palmer mengakui bahwa ia hanya mengikuti rekannya semasa di akademi Manchester City, Morgan Rogers.
Rogers lebih dahulu memperagakan selebrasi itu sepekan sebelumnya ketika mencetak gol kemenangan Middlesbrough atas West Bromwich Albion di ajang EFL Championship. Palmer bahkan telah berjanji kepada sahabatnya tersebut.
"Teman saya, Morgz, melakukannya saat membela Middlesbrough. Saya bilang kepadanya, kalau saya mencetak gol, saya juga akan melakukannya."
Menurut Palmer, selebrasi tersebut melambangkan kegembiraan, semangat, dan kerja keras dalam sepak bola. Di sisi lain, gerakan itu juga dianggap cocok dengan julukannya yang identik dengan kata cold.
Morgan Rogers Klaim Palmer Meniru
Perdebatan soal siapa pemilik selebrasi itu pun sempat menjadi bahan candaan.
Rogers dengan santai mengklaim bahwa Palmer hanyalah "peniru".
"Ya, dia jelas meniru saya. Itu selebrasi saya. Lihat saja urutannya, saya melakukannya lebih dulu."
Pernyataan tersebut memperkuat fakta bahwa Rogers merupakan pemain sepak bola pertama yang mempopulerkan selebrasi itu di level profesional Inggris.
Asal-usul Sebenarnya dari NBA
Meski Rogers menjadi pelopor di dunia sepak bola, sejarah selebrasi "cold" ternyata tidak berhenti di sana. Jejaknya mengarah ke Amerika Serikat, tepatnya di kompetisi NBA.
Pebasket bintang Atlanta Hawks, Trae Young, yang memiliki julukan "Ice Trae", telah menggunakan gerakan tersebut sejak mulai bersinar pada 2018.
Julukan "Ice Trae" menggambarkan ketenangan dan kemampuan Young tampil dingin di bawah tekanan. Selebrasi menggigil itu kemudian menjadi simbol kepercayaan diri dan karakter khas sang point guard.
Popularitas Young di NBA membuat selebrasi tersebut perlahan dikenal luas sebelum akhirnya diadopsi para pesepak bola.
Palmer Membuatnya Mendunia
Meski bukan pencipta, sulit membantah bahwa Cole Palmer merupakan sosok yang membuat selebrasi "cold" menjadi fenomena global.
Penampilan impresif bersama Chelsea dan Timnas Inggris membuat setiap golnya mendapat sorotan luas di media sosial. Akibatnya, jutaan penggemar ikut menirukan gerakan tersebut.
Morgan Rogers juga terus menggunakannya, tetapi eksposur Palmer yang jauh lebih besar menjadikan publik lebih sering mengaitkan selebrasi itu dengan pemain Chelsea tersebut.
Fenomena ini menunjukkan bagaimana budaya olahraga modern berkembang sangat cepat. Sebuah selebrasi dapat berpindah lintas cabang olahraga, lintas negara, bahkan lintas generasi sebelum akhirnya melekat pada sosok yang berhasil memopulerkannya.
Pada akhirnya, sejarah mencatat bahwa Trae Young memperkenalkan selebrasi "cold" di NBA, Morgan Rogers membawanya ke sepak bola Inggris, sedangkan Cole Palmer menjadikannya ikon yang dikenal oleh penggemar sepak bola di seluruh dunia. (*)
Editor : Niklaas Andries