RADARBANYUWANGI.ID - Guillermo "Memo" Ochoa kembali menegaskan statusnya sebagai salah satu kiper paling ikonik dalam sejarah sepak bola dunia. Penjaga gawang asal Meksiko itu resmi menutup perjalanan internasionalnya setelah mencatatkan rekor tampil di enam edisi Piala Dunia FIFA, sejajar dengan Lionel Messi dan Cristiano Ronaldo.
Bagi publik Meksiko, Ochoa bukan sekadar penjaga gawang. Ia adalah simbol ketangguhan yang selalu berubah menjadi sosok luar biasa setiap kali Piala Dunia bergulir.
Pada usia 41 tahun, yang akan genap pada 13 Juli, Ochoa mendapat kesempatan terakhir mengenakan seragam El Tri ketika pelatih Javier Aguirre memasukkannya sebagai pemain pengganti dalam laga melawan Korea Selatan pada Piala Dunia 2026. Momen itu menjadi penutup manis bagi karier internasional sang legenda.
Sesaat setelah pertandingan usai, Ochoa mencium tiang gawang Stadion Azteca, arena yang menjadi saksi perjalanan panjangnya sejak masih berambut ikal hingga menjadi salah satu figur paling disegani dalam sejarah sepak bola Meksiko.
Kiper yang Selalu Menjelma Monster di Piala Dunia
Ada satu hal yang membuat nama Guillermo Ochoa begitu istimewa. Sepanjang karier klubnya, ia memang dikenal sebagai penjaga gawang berkualitas, tetapi setiap empat tahun sekali ia selalu naik ke level berbeda saat membela negaranya di Piala Dunia.
Karier klubnya membawanya berkelana ke Ajaccio, Malaga, Standard Liege, Granada, Salernitana hingga AEL Limassol. Namun panggung terbesar yang benar-benar mengangkat namanya adalah turnamen sepak bola paling bergengsi di dunia.
Pencinta Serie A masih mengingat aksi heroiknya saat membela Salernitana menghadapi Inter Milan dengan torehan 10 penyelamatan luar biasa. Penampilan impresif lain juga ditunjukkannya saat menghadapi AC Milan.
Meski demikian, reputasi Ochoa dibangun terutama lewat aksi-aksi fenomenalnya bersama tim nasional Meksiko.
Neymar, Lewandowski, hingga Jerman Pernah Menjadi Korbannya
Nama Ochoa mulai menggema ke seluruh dunia pada Piala Dunia 2014 di Brasil. Saat menghadapi Brasil di Fortaleza, ia tampil nyaris tanpa cela. Salah satu penyelamatan refleksnya terhadap sundulan Neymar langsung dikenang sebagai salah satu penyelamatan terbaik sepanjang sejarah Piala Dunia.
Banyak pihak bahkan membandingkannya dengan penyelamatan legendaris Gordon Banks terhadap Pele pada Piala Dunia 1970.
Penyerang Brasil Fred menyebut aksi tersebut sebagai "keajaiban", sementara Neymar sendiri hanya bisa terpaku melihat peluang emasnya digagalkan.
Empat tahun berselang di Rusia, Ochoa kembali menjadi tembok kokoh saat Meksiko secara mengejutkan menumbangkan juara bertahan Jerman.
Pada Piala Dunia 2022 di Qatar, ia kembali menunjukkan kelasnya dengan menggagalkan tendangan penalti Robert Lewandowski.
Selama enam kali tampil di Piala Dunia, Ochoa mencatatkan perjalanan yang unik. Ia menjadi pemain cadangan pada edisi 2006, 2010, dan 2026, sedangkan pada 2014, 2018, dan 2022 ia dipercaya sebagai kiper utama.
Pernah Diterpa Isu Punya Enam Jari
Di balik karier gemilangnya, Ochoa juga sempat menjadi bahan pembicaraan dunia karena isu unik. Sekitar satu dekade lalu beredar kabar bahwa dirinya memiliki enam jari tangan. Rumor tersebut kembali mencuat setelah penampilan gemilangnya melawan Brasil. Namun, Ochoa membantah kabar tersebut.
Ia menjelaskan bahwa cerita itu bermula dari sebuah lelucon ketika dirinya hampir bergabung dengan Olympiacos pada 28 Desember, hari yang di Meksiko identik dengan tradisi bercanda. Rumor tersebut kemudian menyebar luas hingga dipercaya sebagian orang di Yunani.
Alih-alih membantah habis-habisan, Ochoa justru mengaku menikmati cerita tersebut karena membuat namanya semakin dikenal publik sepak bola.
Angka 13 yang Selalu Menemani
Sepanjang kariernya, Ochoa dikenal sangat percaya pada angka 13. Ia lahir pada 13 Juli, melakoni debut profesional pada 13 Juni 2004 saat berusia 18 tahun, bahkan pertandingan debutnya dimulai pukul 13.00 waktu setempat. Nomor punggung 13 kemudian menjadi identitas yang terus melekat sepanjang perjalanan kariernya.
Ochoa juga mencatat sejarah sebagai kiper Meksiko pertama yang bermain di kompetisi Eropa serta satu-satunya penjaga gawang asal Meksiko yang pernah masuk daftar nominasi Ballon d'Or pada 2007.
Legenda Argentina Diego Maradona bahkan pernah menyebut Ochoa sebagai salah satu dari tiga kiper terbaik dunia ketika usianya baru menginjak 22 tahun.
Transfer ke PSG Gagal karena Keracunan Makanan
Tak banyak yang mengetahui bahwa Ochoa sebenarnya hampir bergabung dengan Paris Saint-Germain pada 2011. Kesepakatan transfer nyaris rampung sebelum ia terseret kasus positif doping menjelang Gold Cup.
Setelah melalui proses investigasi panjang, diketahui bahwa hasil positif tersebut berasal dari kontaminasi akibat keracunan makanan yang dialami beberapa pemain Meksiko dalam santap bersama tim.
Meski akhirnya dinyatakan tidak bersalah, kesempatan bergabung dengan PSG telanjur hilang. Sebagai gantinya, Ochoa melanjutkan karier di Ajaccio, Prancis. Selama tiga musim di Korsika, ia menjelma idola suporter berkat rentetan penyelamatan spektakulernya.
Berawal dari Penyerang, Berakhir sebagai Legenda
Menariknya, Ochoa tidak bercita-cita menjadi penjaga gawang. Saat berusia 12 tahun, ia justru bermain sebagai penyerang dan dikenal produktif mencetak gol. Namun sebuah wabah flu menyerang seluruh kiper timnya sehingga pelatih membutuhkan sukarelawan untuk berdiri di bawah mistar.
Ochoa mengangkat tangan.
Keputusan sederhana itu mengubah jalan hidupnya untuk selamanya. Kini, ia menutup perjalanan bersama Timnas Meksiko dengan torehan 153 penampilan internasional, menjadikannya pemain dengan caps terbanyak ketiga sepanjang sejarah El Tri.
Ia juga mengantar Meksiko tiga kali menembus babak 16 besar Piala Dunia. Prestasi terbaik negaranya masih berupa perempat final pada edisi 1970 dan 1986, keduanya saat menjadi tuan rumah.
Meski tak pernah mengangkat trofi Piala Dunia, Guillermo Ochoa telah meninggalkan warisan yang jauh lebih besar. Ia membuktikan bahwa seorang penjaga gawang bisa menjadi ikon sebuah negara dan selalu dikenang sebagai sosok yang tampil paling gemilang ketika panggung terbesar sepak bola dunia memanggil namanya. (*)
Editor : Niklaas Andries