Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Era WAGs Inggris Berakhir, Thomas Tuchel Larang Istri dan Pacar Pemain Masuk Kamp Tim Selama Piala Dunia 2026

Niklaas Andries • Sabtu, 27 Juni 2026 | 07:22 WIB
ATURAN KETAT: Tuchel larang WAGs datang ke kamp timnas Inggris selama Piala Dunia 2026
ATURAN KETAT: Tuchel larang WAGs datang ke kamp timnas Inggris selama Piala Dunia 2026

RADARBANYUWANGI.ID - Ada satu pemandangan yang mencolok dari perjalanan Timnas Inggris di Piala Dunia 2026. Bukan soal absennya gol Harry Kane ataupun performa para bintang Premier League, melainkan hilangnya sosok para WAGs (wives and girlfriends) yang selama bertahun-tahun selalu menjadi bagian dari cerita besar The Three Lions di turnamen internasional.

Kini, suasana di kamp Inggris jauh berbeda. Di bawah arahan pelatih Thomas Tuchel, seluruh perhatian benar-benar diarahkan pada sepak bola. Tak ada lagi pesta, sorotan kehidupan glamor pasangan pemain, ataupun kontroversi di luar lapangan yang dulu kerap menghiasi halaman depan media Inggris.

Tuchel menerapkan disiplin tinggi sejak hari pertama. Istri maupun kekasih pemain tidak diperkenankan tinggal bersama skuad selama pemusatan latihan. Mereka hanya diberi kesempatan bertemu dalam satu hari khusus keluarga setelah setiap pertandingan selesai dimainkan.

Kebijakan tersebut menjadi simbol perubahan budaya di tubuh Timnas Inggris. Selama ini, pembahasan mengenai skuad The Three Lions hanya berkisar pada performa di lapangan. Mulai dari keputusan pemilihan pemain, kondisi kebugaran Reece James dan Bukayo Saka, hingga kontribusi Jude Bellingham maupun Harry Kane.

Minimnya kisah di luar lapangan membuat perjalanan Inggris kali ini terasa jauh lebih tenang dibandingkan edisi-edisi sebelumnya.

Generasi Baru WAGs Tak Lagi Mencari Sorotan

Perubahan itu juga dipengaruhi karakter pasangan para pemain Inggris saat ini. Harry Kane, misalnya, telah menikah dengan Katie Goodland sejak 2019. Perempuan yang telah lama menjadi pendamping kapten Inggris tersebut memilih menjalani kehidupan jauh dari sorotan publik.

Declan Rice juga dikenal memiliki hubungan panjang dengan Lauren Fryer, kekasih masa kecilnya. Keduanya hampir tak pernah mengejar popularitas di media sosial ataupun dunia hiburan.

Sementara Jude Bellingham memang sempat dikabarkan dekat dengan model sekaligus influencer Ashlyn Castro yang memiliki ratusan ribu pengikut di Instagram. Namun, hubungan tersebut tidak pernah berkembang menjadi konsumsi besar media hiburan Inggris seperti era sebelumnya.

Berbeda dengan masa lalu, hampir tidak ada pasangan pemain Inggris yang memiliki status selebritas sekelas Victoria Beckham ataupun Coleen Rooney.

Kansas City Dipilih agar Pemain Tetap Fokus

Pilihan lokasi pemusatan latihan juga menjadi bagian dari strategi Tuchel. Alih-alih memilih kota besar dengan kehidupan malam yang ramai seperti New York, Los Angeles, atau Miami, Inggris menetapkan Kansas City sebagai markas selama turnamen berlangsung.

Lingkungan yang relatif tenang dianggap membantu pemain menjaga konsentrasi sepanjang kompetisi. Declan Rice mengakui keputusan tersebut sangat membantu skuad.

"Ketenangan sangat penting. Kami berada di Kansas City, bukan kota besar. Tidak banyak yang bisa dilakukan di luar sepak bola. Semua pemain benar-benar fokus dan standar latihan meningkat sejak kami datang," ujar Rice.

Aktivitas hiburan pemain pun sangat terbatas. Mereka hanya sempat menyaksikan pertandingan bisbol Kansas City Royals atau menghadiri konser penyanyi country Ella Langley.

Selebihnya, seluruh pemain diwajibkan kembali ke hotel sebelum jam malam yang telah ditetapkan Tuchel.

Kontras dengan Era Penuh Kontroversi 2006

Suasana kondusif ini sangat bertolak belakang dengan kondisi Inggris di Piala Dunia 2006. Saat itu, keberadaan para WAGs justru menjadi cerita yang hampir sama besarnya dengan performa tim di lapangan.

Pelatih Sven-Göran Eriksson memberikan keleluasaan bagi istri dan kekasih pemain untuk menemani skuad di Baden-Baden, Jerman. Kota spa yang tenang itu kemudian berubah menjadi pusat perhatian media internasional.

Legenda Inggris Rio Ferdinand bahkan pernah menyebut para WAGs saat itu "lebih terkenal dibandingkan para pemain."

Media Inggris kemudian mempopulerkan istilah WAGs, yang sejak saat itu identik dengan pasangan pesepak bola nasional.

Berbagai pesta, acara makan malam mewah, belanja bersama paparazzi, hingga beragam kontroversi menjadi santapan harian media tabloid.

Salah satu kisah yang paling dikenang adalah pesta di sebuah restoran Italia yang melibatkan ayah Neville bersaudara, dengan tagihan minuman mencapai sekitar €3.500 serta replika trofi Piala Dunia yang dijadikan mikrofon untuk bernyanyi.

Tak hanya itu, media tabloid bahkan membuat daftar "peringkat" para WAGs, memicu kecemburuan, persaingan, hingga gangguan terhadap fokus pemain selama turnamen berlangsung.

Tuchel Ingin Inggris Hanya Dikenal karena Prestasi

Budaya tersebut perlahan mulai menghilang pada era Gareth Southgate, lalu benar-benar dihapus oleh Thomas Tuchel.

Pelatih asal Jerman itu membangun skuad yang lebih disiplin, sederhana, dan sepenuhnya berorientasi pada prestasi.

Tidak ada lagi pesta mewah, kehidupan glamor, maupun drama pasangan pemain yang mengalihkan perhatian publik.

Memang, Inggris era WAGs selalu sukses menjadi berita utama media. Namun, mereka gagal mengakhiri puasa gelar dunia.

Kini Tuchel berharap kisahnya berbeda. Fokus sepenuhnya diarahkan pada satu tujuan: membawa The Three Lions kembali menjadi juara dunia, tanpa gangguan dari luar lapangan. (*)

 

Editor : Niklaas Andries
#wags inggris #piala dunia 2026 #harry kane #thomas tuchel #Timnas Inggris