RADARBANYUWANGI.ID - Skotlandia menghadapi ujian berat dalam laga kedua Grup Piala Dunia 2026 saat berhadapan dengan Maroko pada Jumat. Meski mengakui kualitas lawan yang terus berkembang, pelatih Steve Clarke justru menilai status sebagai tim nonunggulan dapat menjadi modal psikologis penting bagi skuadnya.
Tim berjuluk Tartan Army datang ke pertandingan ini dengan bekal kemenangan tipis 1-0 atas Haiti pada laga pembuka. Hasil tersebut memang belum sepenuhnya meyakinkan dari segi permainan, tetapi cukup menempatkan Skotlandia dalam posisi yang menjanjikan.
Satu poin tambahan melawan Maroko berpotensi mengantarkan mereka ke fase gugur turnamen besar untuk pertama kalinya dalam sejarah.
Namun, Clarke menegaskan bahwa timnya tidak terjebak dalam perhitungan peluang lolos. Fokus utama tetap tertuju pada tantangan besar yang menanti di depan mata.
"Maroko mencapai empat besar pada Piala Dunia terakhir. Saya bahkan merasa tim Maroko saat ini sedikit lebih baik dibandingkan tim yang mencapai semifinal tersebut," ujar Clarke kepada wartawan pada Kamis.
Pernyataan itu bukan tanpa alasan. Maroko membuka perjalanan mereka di turnamen ini dengan penampilan impresif saat menahan imbang Brasil 1-1. Tim Afrika Utara tersebut bahkan sempat unggul lebih dulu sebelum harus berbagi poin dengan salah satu kandidat juara dunia.
Meski lawan yang dihadapi memiliki reputasi dan kualitas lebih tinggi, Clarke percaya karakter khas sepak bola Skotlandia justru sering muncul dalam situasi semacam ini.
Menurutnya, mentalitas pemain Skotlandia kerap berkembang ketika mereka tidak dibebani ekspektasi besar.
"Kadang-kadang psikologi dan mentalitas Skotlandia membuat kami lebih nyaman ketika berstatus sebagai underdog," kata Clarke.
Pandangan tersebut didukung oleh sejumlah catatan bersejarah. Salah satu penampilan paling dikenang terjadi pada Piala Dunia 1978 ketika Skotlandia mengalahkan Belanda 3-2. Saat itu Belanda akhirnya melaju hingga final, sementara kemenangan Skotlandia tidak cukup untuk menyelamatkan mereka dari kegagalan lolos ke fase berikutnya.
Clarke juga menilai ekspektasi tinggi saat menghadapi Haiti menjadi salah satu penyebab permainan timnya kurang mengalir pada laga pembuka. Sebagai tim yang lebih difavoritkan, para pemain dinilai tidak tampil lepas.
"Kali ini kami adalah underdog, dan terkadang Skotlandia memang lebih menyukai situasi seperti itu," ujarnya.
Fokus pada Hasil, Bukan Hitung-hitungan Klasemen
Meski hasil imbang berpotensi membuka jalan menuju babak 32 besar, Clarke menegaskan bahwa skuadnya tidak akan larut dalam berbagai skenario klasemen.
Pelatih berusia 63 tahun itu menekankan pentingnya pendekatan pragmatis selama pertandingan berlangsung.
"Jika tidak bisa memenangkan pertandingan, jangan sampai kalah," kata mantan bek Chelsea tersebut.
Ia menambahkan bahwa berbagai kalkulasi peluang lolos lebih cocok menjadi bahan diskusi media dan para pendukung, bukan fokus utama para pemain maupun staf pelatih.
Perubahan Taktik untuk Meredam Ancaman Maroko
Menghadapi kekuatan Maroko, sejumlah pengamat memperkirakan Clarke akan menerapkan pendekatan yang lebih defensif dibandingkan saat melawan Haiti.
Gelandang Ryan Christie disebut berpeluang masuk ke susunan pemain inti untuk memperkuat lini tengah. Kehadirannya bisa membuat Skotlandia mengurangi jumlah penyerang dan menambah keseimbangan permainan.
Selain itu, perubahan ke formasi lima bek juga diperkirakan menjadi opsi yang dipertimbangkan. Strategi tersebut dinilai dapat membantu mengantisipasi serangan Maroko yang sering dibangun dari lini belakang.
Ancaman terbesar datang dari sisi kanan pertahanan Maroko melalui Achraf Hakimi. Bek sayap yang dikenal memiliki kecepatan, daya jelajah, dan kemampuan menyerang luar biasa itu dianggap sebagai salah satu senjata utama tim Afrika Utara.
Kapten Skotlandia, Andy Robertson, bahkan memberikan pujian tinggi kepada pemain tersebut.
"Saya pikir saat ini dia adalah bek sayap terbaik di dunia. Dia bermain dengan sangat bebas. Terkadang muncul di kotak penalti lawan, lalu beberapa saat kemudian sudah kembali untuk melakukan duel satu lawan satu dalam bertahan," ujar Robertson.
Dengan kualitas individu dan kolektivitas yang dimiliki Maroko, Skotlandia sadar mereka menghadapi salah satu lawan terkuat di grup. Namun, sejarah menunjukkan bahwa ketika berada dalam posisi yang tidak diunggulkan, tim asuhan Steve Clarke sering kali mampu menghadirkan kejutan.
Laga melawan Maroko kini menjadi kesempatan berikutnya bagi Skotlandia untuk membuktikan bahwa status underdog bukanlah kelemahan, melainkan sumber motivasi yang dapat membawa mereka menuju pencapaian bersejarah di Piala Dunia 2026. (*)
Editor : Niklaas Andries