RADARBANYUWANGI.ID - Kebijakan baru FIFA berupa jeda hidrasi di tengah setiap babak Piala Dunia 2026 menuai kritik dari berbagai kalangan sepak bola. Aturan yang awalnya dirancang untuk melindungi pemain dari cuaca panas ekstrem di Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko itu kini dianggap mengganggu ritme pertandingan, mengubah dinamika permainan, bahkan memberi keuntungan taktis bagi tim tertentu.
Kontroversi tersebut mencuat setelah pertandingan antara Curacao dan Jerman di Houston. Negara kepulauan kecil di Karibia itu sempat menciptakan kejutan ketika Livano Comenencia mencetak gol penyama kedudukan menjadi 1-1 melawan Jerman, juara dunia empat kali.
Gol tersebut memicu euforia luar biasa di kalangan pendukung Curacao. Pada saat itu, peluang terciptanya salah satu kejutan terbesar dalam sejarah Piala Dunia terlihat terbuka.
Namun, momentum tersebut berubah drastis setelah pertandingan dihentikan untuk jeda hidrasi.
Usai laga dilanjutkan, Curacao kehilangan kendali permainan. Jerman mencetak dua gol tambahan sebelum turun minum dan akhirnya menang telak 7-1.
Mantan striker tim nasional Inggris, Alan Shearer, menilai jeda tersebut berdampak langsung terhadap jalannya pertandingan.
"Saya benar-benar merasa kasihan kepada mereka. Mereka baru saja mencetak gol dan sekitar 30 detik kemudian pertandingan dihentikan. Momentum mereka langsung hilang," kata Shearer dalam podcast The Rest is Football.
FIFA Prioritaskan Keselamatan Pemain
FIFA memperkenalkan jeda hidrasi sebagai inovasi baru pada Piala Dunia 2026. Wasit diwajibkan menghentikan pertandingan pada menit ke-22 setiap babak, dengan durasi sekitar tiga menit agar pemain dapat mengonsumsi cairan dan mengurangi risiko gangguan kesehatan akibat suhu tinggi.
Keputusan ini diambil karena sejumlah kota penyelenggara diperkirakan mengalami suhu lebih dari 32 derajat Celsius selama turnamen berlangsung.
Meski demikian, kebijakan tersebut tidak mempertimbangkan kondisi cuaca di setiap stadion. FIFA menetapkan bahwa jeda hidrasi tetap diberlakukan di seluruh pertandingan tanpa memandang lokasi, suhu, maupun kondisi stadion.
Akibatnya, laga antara Spanyol dan Tanjung Verde di Atlanta tetap dihentikan untuk jeda hidrasi meskipun dimainkan di stadion tertutup yang dilengkapi sistem pendingin udara.
FIFA menyatakan kebijakan tersebut diterapkan untuk memastikan kesetaraan kondisi bagi seluruh tim peserta.
Jeda Hidrasi Jadi Ajang Instruksi Taktik
Kritik terbesar terhadap aturan baru ini bukan hanya soal terhentinya ritme permainan, melainkan karena pelatih kini memiliki kesempatan tambahan untuk memberikan instruksi taktik kepada pemain saat pertandingan berlangsung.
Pelatih Belanda, Ronald Koeman, secara terbuka mengakui manfaat strategis dari jeda tersebut.
"Anda bisa memanfaatkan waktu itu untuk memberi tahu pemain apa yang perlu diperbaiki, apa yang sudah berjalan baik, atau apa yang harus dilakukan lebih baik lagi. Kami tentu akan memanfaatkannya," ujar Koeman.
Data awal menunjukkan dampak jeda hidrasi terhadap jalannya pertandingan cukup signifikan. Dari 16 pertandingan pertama Piala Dunia 2026, delapan di antaranya menghasilkan gol dalam kurun 10 menit setelah pertandingan kembali dimulai.
Curacao menjadi salah satu contoh paling nyata. Setelah jeda hidrasi, mereka tidak mampu mengembalikan performa yang sebelumnya membuat Jerman kesulitan.
Maroko juga mengalami nasib serupa saat menghadapi Brasil di New Jersey. Setelah mendominasi pertandingan dan mencetak gol sebelum jeda pertama, mereka justru kebobolan gol penyeimbang yang dicetak Vinicius Junior kurang dari 10 menit setelah laga dilanjutkan.
Sebaliknya, sejumlah tim seperti Kanada, Amerika Serikat, Australia, Skotlandia, Swedia, dan Iran justru memperoleh keuntungan dengan mencetak gol tidak lama setelah jeda tersebut.
Peta momentum pertandingan yang digunakan dalam analisis statistik modern juga menunjukkan perubahan signifikan pada alur permainan setelah adanya penghentian pertandingan untuk hidrasi.
Roy Keane: Sepak Bola Bukan Olahraga dengan Time-Out
Mantan gelandang Republik Irlandia dan Manchester United, Roy Keane, menjadi salah satu kritikus paling vokal terhadap aturan baru FIFA. Dalam sebuah podcast bersama Gary Neville, Keane menilai jeda hidrasi membuat sepak bola kehilangan karakter dasarnya.
"Kita sedang berada di Amerika, bukan? Jadi rasanya seperti time-out. Kita mencintai sepak bola karena tempo permainannya. Yang terjadi sekarang adalah aliran pertandingan dan momentum menjadi terhenti," kata Keane.
Pandangan serupa juga datang dari pelatih Norwegia, Staale Solbakken. Menurutnya, jeda hidrasi memang masuk akal jika pertandingan berlangsung dalam suhu ekstrem seperti yang terjadi di Greensboro, Carolina Utara, ketika temperatur mencapai 35 derajat Celsius.
Namun, ia menilai penghentian pertandingan menjadi tidak relevan jika kondisi cuaca sebenarnya cukup nyaman.
Pelatih Spanyol, Luis de la Fuente, juga mempertanyakan urgensi penerapan aturan tersebut secara universal.
"Jika cuaca sangat panas, tentu masuk akal untuk berhenti sejenak, menyegarkan diri, lalu melanjutkan pertandingan. Tetapi ketika suhu stadion relatif sejuk, saya tidak yakin jeda itu benar-benar dibutuhkan. Namun kami harus mengikuti aturan," ujarnya.
Sorotan terhadap Kepentingan Siaran Televisi
Selain dampak teknis terhadap pertandingan, jeda hidrasi juga memunculkan kritik terkait kepentingan komersial.
Sejumlah pihak menilai penghentian pertandingan memberi ruang tambahan bagi stasiun televisi untuk menayangkan iklan di tengah laga.
Di Amerika Serikat, jaringan televisi Fox diketahui langsung menayangkan iklan saat jeda hidrasi berlangsung. Sebaliknya, Telemundo, pemegang hak siar berbahasa Spanyol, memilih tetap menampilkan jalannya pertandingan.
Praktik tersebut dianggap bertentangan dengan tradisi sepak bola yang selama ini minim jeda komersial selama permainan berlangsung, berbeda dengan olahraga populer Amerika seperti bisbol, basket, dan football Amerika.
Kapten Belanda, Virgil van Dijk, mengaku kurang nyaman melihat pertandingan terpotong oleh jeda iklan.
"Setiap kali siaran beralih ke iklan, itu bukan sesuatu yang saya sukai. Saya rasa bagi penonton netral di televisi juga tidak menyenangkan," katanya.
Deschamps: Sepak Bola Sedang Berubah
Di tengah kritik yang berkembang, pelatih Prancis, Didier Deschamps, menilai dunia sepak bola sedang memasuki era baru yang mengharuskan semua pihak beradaptasi.
Menurutnya, format pertandingan kini secara praktis berubah dari dua babak menjadi empat segmen permainan.
"Pada dasarnya sekarang bukan lagi dua babak, melainkan empat bagian permainan. Itulah keputusan yang sudah dibuat dan para pemain maupun pelatih harus beradaptasi dengan realitas baru ini," ujar Deschamps.
Hingga saat ini FIFA belum memastikan apakah aturan jeda hidrasi akan menjadi standar permanen untuk seluruh edisi Piala Dunia mendatang.
Namun, Asosiasi Sepak Bola Inggris (FA) menyatakan kebijakan serupa kemungkinan besar tidak akan diterapkan pada Piala Eropa 2028 yang akan diselenggarakan di Inggris dan Irlandia.
Perdebatan pun masih berlanjut. Di satu sisi, keselamatan pemain menjadi prioritas utama dalam menghadapi cuaca ekstrem. Namun di sisi lain, banyak pihak khawatir bahwa intervensi semacam ini dapat mengubah esensi sepak bola yang selama puluhan tahun dikenal karena ritme cepat, kontinuitas permainan, dan minimnya gangguan selama laga berlangsung. (*)
Editor : Niklaas Andries