Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Ketegangan Politik AS-Iran Merembet ke Piala Dunia 2026, FIFA Cabut Jatah Tiket Suporter Iran

Niklaas Andries • Rabu, 10 Juni 2026 | 12:47 WIB
IMBAS KONFLIK: Timnas Iran paling banyak dirugikan imbas konflik dengan Amerika Serikat sebagai tuan rumah Piala Dunia 2026
IMBAS KONFLIK: Timnas Iran paling banyak dirugikan imbas konflik dengan Amerika Serikat sebagai tuan rumah Piala Dunia 2026

RADARBANYUWANGI.ID - Pendukung Iran Terancam Tak Bisa Hadir di Stadion, FIFA Dituding Ingkari Komitmen Akses bagi Semua Fans Piala Dunia

Piala Dunia 2026 bahkan belum dimulai, tetapi kontroversi besar sudah mengguncang turnamen terbesar sepanjang sejarah tersebut. Federasi Sepak Bola Iran mengungkapkan bahwa FIFA telah mencabut seluruh alokasi tiket resmi untuk suporter Iran pada tiga pertandingan fase grup yang akan berlangsung di Amerika Serikat.

Keputusan itu memicu polemik baru di tengah memanasnya hubungan politik antara Iran dan Amerika Serikat yang kini ikut membayangi pesta sepak bola dunia.

Federasi Sepak Bola Iran pada Selasa (10/6) menyatakan bahwa mereka tidak lagi dapat mendistribusikan tiket kepada para pendukung tim nasional setelah FIFA membatalkan jatah tiket yang sebelumnya menjadi hak resmi setiap peserta Piala Dunia.

Jika benar, langkah tersebut menjadi pukulan telak bagi ribuan pendukung Team Melli yang telah menantikan kesempatan menyaksikan tim kesayangan mereka secara langsung di Piala Dunia 2026.

Baca Juga: Jemaah Haji Banyuwangi Kembali Meninggal di Makkah, Total Lima Orang Wafat di Tanah Suci

Iran Kehilangan Hak Distribusi Ribuan Tiket

Dalam regulasi FIFA, setiap federasi peserta Piala Dunia berhak memperoleh sekitar 8 persen kapasitas stadion untuk setiap pertandingan tim nasional mereka.

Baca Juga: MTsN 5 Banyuwangi Turunkan Dua Tim, LCC Wawasan Kebangsaan Kian Bergengsi

Dengan kapasitas stadion yang mencapai puluhan ribu penonton, alokasi tersebut biasanya setara dengan ribuan tiket per pertandingan yang kemudian dijual kepada para suporter loyal.

Namun hanya beberapa hari sebelum Iran menjalani laga perdana melawan Selandia Baru pada 15 Juni di Stadion SoFi, Inglewood, California, federasi Iran mengklaim bahwa hak distribusi tiket tersebut telah dicabut.

Pernyataan resmi itu pertama kali dilaporkan oleh media semi-pemerintah Iran dan langsung memicu perhatian luas karena menyangkut akses pendukung terhadap salah satu ajang olahraga terbesar di dunia. Hingga kini FIFA belum memberikan tanggapan resmi terkait tuduhan tersebut.

Konflik Politik Membayangi Piala Dunia

Kontroversi tiket ini muncul di tengah hubungan yang semakin tegang antara Iran, FIFA, dan Amerika Serikat sebagai salah satu tuan rumah utama Piala Dunia 2026.

Situasi memburuk sejak Amerika Serikat melancarkan operasi militer terhadap Iran pada 28 Februari lalu. Dampaknya tidak hanya terasa dalam ranah diplomasi, tetapi juga mulai merambah dunia olahraga.

Baca Juga: SMP Favorit Diserbu Pendaftar, Jalur Domisili Banyuwangi Catat 5.105 Peserta

Tim nasional Iran bahkan terpaksa mengubah pusat latihan mereka menjelang turnamen. Rencana awal yang menempatkan skuad di Tucson, Arizona, dibatalkan.

Sebagai gantinya, Iran memilih bermarkas di Kota Tijuana, Meksiko, yang berbatasan langsung dengan Amerika Serikat.

Selain itu, sejumlah pejabat federasi Iran dilaporkan mengalami kesulitan memperoleh visa masuk ke Amerika Serikat.

Baca Juga: Lonjakan Wisatawan KNMP Lateng Picu Penataan Parkir, Pemuda Lokal Banyuwangi Dilibatkan

Masalah administrasi tersebut menjadi sorotan serius mengingat Iran masih harus memainkan seluruh laga grupnya di wilayah Amerika Serikat.

Setelah menghadapi Selandia Baru, Iran dijadwalkan bertemu Belgia pada 21 Juni di Inglewood sebelum menantang Mesir di Seattle pada 26 Juni.

Suporter Loyal Menjadi Korban

Dalam praktiknya, federasi peserta Piala Dunia biasanya memprioritaskan penjualan tiket kepada para pendukung paling setia yang rutin menghadiri pertandingan kandang maupun tandang tim nasional. Namun bagi warga Iran, situasi menjadi jauh lebih rumit.

Sejak tahun lalu, pemerintah Amerika Serikat memberlakukan pembatasan perjalanan terhadap warga Iran. Kondisi tersebut membuat peluang memperoleh visa masuk menjadi sangat terbatas, bahkan sebelum isu pencabutan tiket muncul.

Belum diketahui secara pasti berapa banyak tiket yang telah terjual kepada diaspora Iran di luar negeri sejak pengundian grup dilakukan pada Desember lalu.

Baca Juga: Voucher Pengerem Penurunan

Komunitas diaspora Iran yang cukup besar di Amerika Serikat, Kanada, dan sejumlah negara lain sebelumnya diperkirakan menjadi kelompok utama pembeli tiket pertandingan Team Melli. Kini, masa depan kehadiran mereka di stadion masih penuh tanda tanya.

Pernyataan Lama Infantino Kembali Disorot

Ironisnya, polemik ini menghidupkan kembali pernyataan Presiden FIFA, Gianni Infantino, yang pernah menegaskan bahwa seluruh peserta Piala Dunia beserta suporter mereka harus mendapatkan akses masuk ke negara tuan rumah.

Pernyataan itu disampaikan pada 2017 ketika Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko sedang mempersiapkan pencalonan bersama sebagai tuan rumah Piala Dunia 2026.

Baca Juga: SPMB SMA-SMK Jatim 2026 Dibuka 11 Juni, Siswa Diminta Cermati Aturan Baru Jalur Domisili

"Sangat jelas bahwa dalam kompetisi FIFA, setiap tim yang lolos ke Piala Dunia, termasuk suporter dan ofisialnya, harus memiliki akses ke negara penyelenggara. Jika tidak, maka itu bukan Piala Dunia," kata Infantino saat itu.

Pernyataan tersebut kini kembali menjadi bahan perdebatan karena dianggap bertolak belakang dengan situasi yang dialami Iran.

Wasit FIFA dari Somalia Juga Ditolak Masuk AS

Masalah akses ternyata tidak hanya menimpa Iran. Laporan terbaru menyebut seorang wasit yang ditunjuk FIFA asal Somalia juga ditolak masuk ke Amerika Serikat saat tiba di Miami akhir pekan lalu.

Akibatnya, FIFA resmi mencoret namanya dari daftar perangkat pertandingan yang akan bertugas dalam turnamen yang melibatkan 48 negara dan 104 pertandingan tersebut.

Kasus itu semakin memperkuat kekhawatiran bahwa faktor politik dan kebijakan imigrasi berpotensi menjadi isu besar sepanjang Piala Dunia 2026.

Baca Juga: Malam 1 Suro 2026 Tinggal Hitungan Hari, Ini Tanggal yang Diyakini Paling Sakral

Ancaman Baru bagi Reputasi Piala Dunia 2026

Piala Dunia 2026 sejatinya dipromosikan sebagai turnamen paling inklusif dalam sejarah dengan jumlah peserta yang meningkat dari 32 menjadi 48 negara.

Namun berbagai kontroversi mulai bermunculan menjelang kick-off, mulai dari harga tiket yang melonjak tajam, persoalan visa, hingga isu keamanan dan ketegangan geopolitik.

Baca Juga: Sertijab Polresta Banyuwangi: Kasat Narkoba Berganti, Kapolsek Pesanggaran Juga Baru

Jika sengketa tiket Iran benar-benar terbukti, FIFA berpotensi menghadapi kritik keras karena dianggap gagal menjamin prinsip keterbukaan dan akses yang selama ini menjadi salah satu nilai utama Piala Dunia.

Di tengah ambisi menghadirkan pesta sepak bola terbesar sepanjang masa, FIFA kini justru menghadapi pertanyaan mendasar: apakah semua negara dan semua suporter benar-benar mendapatkan kesempatan yang sama untuk menjadi bagian dari turnamen tersebut? (*)

Editor : Niklaas Andries
#piala dunia 2026 #iran #FIFA #tiket piala dunia 2026 #gianni infantino