RADARBANYUWANGI.ID - Dua hari menjelang laga pembuka Piala Dunia 2026 antara Meksiko dan Afrika Selatan, atmosfer pesta sepak bola terbesar dunia justru dibayangi kontroversi politik dan kebijakan imigrasi Amerika Serikat.
Sejumlah negara peserta, suporter, bahkan perangkat pertandingan mulai merasakan dampak langsung dari aturan visa yang ketat, memunculkan pertanyaan besar mengenai komitmen FIFA terhadap prinsip keterbukaan dan inklusivitas.
Piala Dunia 2026 sejatinya dirancang sebagai turnamen paling besar dalam sejarah. Sebanyak 48 negara akan bertarung di tiga negara tuan rumah, yakni Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko.
Namun menjelang kick-off, perhatian publik internasional tidak hanya tertuju pada persaingan di lapangan. Kebijakan perbatasan Amerika Serikat justru menjadi topik yang lebih banyak diperbincangkan.
Setahun sebelum turnamen dimulai, pemerintahan Presiden Donald Trump telah menerbitkan daftar negara yang masuk kategori pembatasan perjalanan atau "blacklist". Ironisnya, sejumlah negara yang masuk daftar tersebut justru berhasil lolos ke putaran final Piala Dunia 2026. Di antaranya adalah Haiti, Iran, Senegal, dan Pantai Gading.
Baca Juga: Jemaah Haji Banyuwangi Kembali Meninggal di Makkah, Total Lima Orang Wafat di Tanah Suci
Meski FIFA dan pemerintah Amerika Serikat memberikan pengecualian bagi pemain serta staf resmi tim nasional, perlakuan yang diterima para pendukung jauh berbeda. Suporter dari negara-negara tertentu tidak diperkenankan masuk ke Amerika Serikat kecuali telah memiliki visa aktif sebelum 1 Januari 2026.
Janji Gianni Infantino Mulai Dipertanyakan
Baca Juga: MTsN 5 Banyuwangi Turunkan Dua Tim, LCC Wawasan Kebangsaan Kian Bergengsi
Situasi ini berbanding terbalik dengan pernyataan optimistis Presiden FIFA, Gianni Infantino, beberapa bulan lalu.
Saat menutup penyelenggaraan Piala Dunia Antarklub di Amerika Serikat, Infantino menegaskan bahwa seluruh dunia akan disambut dengan tangan terbuka pada Piala Dunia 2026.
"Semua orang akan diterima di Kanada, Meksiko, dan Amerika Serikat untuk Piala Dunia FIFA tahun depan. Kami ingin mempersatukan dunia dan kami akan melakukannya," ujar Infantino kala itu.
Pernyataan tersebut kini menuai kritik. Banyak pihak menilai FIFA gagal memastikan jaminan akses bagi seluruh pihak yang ingin terlibat dalam pesta sepak bola terbesar di dunia tersebut.
Alih-alih menghadirkan semangat persatuan global, kebijakan visa yang berlaku justru menciptakan kesan eksklusif dan diskriminatif terhadap negara-negara tertentu.
Iran Jadi Korban Paling Nyata
Baca Juga: SMP Favorit Diserbu Pendaftar, Jalur Domisili Banyuwangi Catat 5.105 Peserta
Iran menjadi negara yang paling merasakan dampak kebijakan tersebut. Tim berjuluk Team Melli sebenarnya dijadwalkan memainkan dua pertandingan fase grup di Los Angeles melawan Selandia Baru dan Belgia, serta satu laga di Seattle menghadapi Mesir.
Namun akibat ketegangan politik dan konflik bersenjata antara Iran dan Amerika Serikat, federasi sepak bola Iran terpaksa memindahkan pusat latihan mereka dari Arizona ke Kota Tijuana, Meksiko. Keputusan itu membuat para pemain Iran harus melakukan perjalanan lintas batas setiap kali bertanding di wilayah Amerika Serikat.
Mereka diperkirakan hanya akan memasuki wilayah AS pada hari pertandingan dan kembali meninggalkannya setelah laga usai. Langkah tersebut dinilai sangat tidak ideal untuk sebuah turnamen sekelas Piala Dunia.
Baca Juga: Lonjakan Wisatawan KNMP Lateng Picu Penataan Parkir, Pemuda Lokal Banyuwangi Dilibatkan
Tiket Suporter Iran Dicabut
Masalah Iran tidak berhenti di situ. Media Al Jazeera melaporkan Federasi Sepak Bola Iran mengeluarkan pernyataan resmi yang menyebut FIFA dan penyelenggara telah mencabut alokasi tiket resmi bagi suporter Iran.
Padahal, berdasarkan regulasi FIFA, setiap federasi peserta berhak memperoleh sekitar delapan persen dari kapasitas stadion untuk didistribusikan kepada pendukungnya. Dalam pernyataan tersebut, federasi Iran menyebut keputusan itu bertentangan dengan semangat olahraga internasional.
"Kurang dari tiga hari sebelum Piala Dunia dimulai, Amerika Serikat kembali mengambil langkah yang menghalangi kehadiran suporter Iran di stadion. Alokasi tiket yang diberikan kepada Federasi Sepak Bola Iran telah dicabut secara sepihak."
Federasi Iran juga meminta FIFA dan panitia penyelenggara untuk menjunjung prinsip netralitas, keadilan, serta kesetaraan bagi seluruh negara peserta.
Wasit Terbaik Afrika 2025 Dipulangkan
Kontroversi semakin membesar setelah kasus yang menimpa wasit Somalia, Omar Abdulkadir Artan. Artan yang dinobatkan sebagai wasit terbaik Afrika tahun 2025 seharusnya bertugas pada Piala Dunia 2026.
Baca Juga: Voucher Pengerem Penurunan
Namun ia gagal menjalankan tugas tersebut setelah ditolak masuk ke Amerika Serikat meskipun telah mengantongi visa dan dokumen resmi dari FIFA. Kasus itu memicu kecaman luas karena Artan merupakan perangkat pertandingan yang secara resmi dipilih oleh FIFA.
Alih-alih memperjuangkan keikutsertaannya, FIFA justru memilih menerima keputusan pemerintah Amerika Serikat. Dalam pernyataan resminya, FIFA menyebut bahwa pihaknya tidak memiliki kewenangan untuk mengintervensi kebijakan imigrasi negara tuan rumah.
Baca Juga: SPMB SMA-SMK Jatim 2026 Dibuka 11 Juni, Siswa Diminta Cermati Aturan Baru Jalur Domisili
"FIFA mengonfirmasi bahwa Omar Abdulkadir Artan tidak dapat mengikuti pelatihan maupun bertugas pada Piala Dunia 2026 setelah ditolak masuk ke Amerika Serikat," tulis FIFA.
Pernyataan tersebut justru dianggap memperlihatkan ketidakberdayaan FIFA menghadapi kebijakan politik negara tuan rumah.
Ditahan 11 Jam Tanpa Penjelasan
Kisah Artan semakin menyita perhatian setelah wawancaranya dengan The New York Times dipublikasikan. Wasit Somalia itu mengaku sangat terpukul karena gagal mewujudkan impian terbesar dalam kariernya.
"Saya sangat kecewa. Saya hanya seorang wasit yang berusaha mewujudkan mimpi terbesar dalam hidup saya, yaitu tampil di Piala Dunia," ujarnya.
Artan menjelaskan bahwa dirinya telah membawa seluruh dokumen resmi FIFA, termasuk rekam jejak karier profesional selama lebih dari satu dekade.
Namun seluruh bukti tersebut tidak cukup untuk meyakinkan petugas imigrasi Amerika Serikat. Lebih mengejutkan lagi, proses pemeriksaannya berlangsung selama 11 jam.
Setelah itu ia ditempatkan di ruang tahanan sementara selama beberapa jam sebelum dipulangkan menggunakan penerbangan menuju Istanbul tanpa penjelasan resmi mengenai alasan penolakannya.
Baca Juga: Malam 1 Suro 2026 Tinggal Hitungan Hari, Ini Tanggal yang Diyakini Paling Sakral
Senegal dan Uzbekistan Juga Merasakan Ketatnya Pengawasan
Tidak hanya Iran dan Somalia yang terdampak. Menurut laporan RMC Sport, skuad Senegal yang akan menjadi lawan Timnas Prancis juga mengalami pemeriksaan ketat saat tiba di Carolina Utara.
Pemain dan staf tim langsung diperiksa di landasan pacu sesaat setelah turun dari pesawat sebelum melewati pemeriksaan keamanan tambahan. Perlakuan serupa juga dialami tim nasional Uzbekistan.
Baca Juga: Sertijab Polresta Banyuwangi: Kasat Narkoba Berganti, Kapolsek Pesanggaran Juga Baru
Rombongan Uzbekistan diperiksa menggunakan anjing pelacak dan detektor logam bahkan sebelum mereka memasuki fasilitas resmi turnamen.
Prosedur tersebut menimbulkan perdebatan karena dianggap tidak lazim diterapkan kepada delegasi resmi peserta Piala Dunia.
Pesta Sepak Bola yang Tercoreng Isu Politik
Piala Dunia 2026 digadang-gadang sebagai edisi terbesar sepanjang sejarah dengan format baru yang melibatkan 48 negara.
Namun menjelang dimulainya turnamen, isu politik, kebijakan imigrasi, dan pembatasan akses justru mendominasi pemberitaan.
Alih-alih menjadi simbol persatuan dunia melalui olahraga, sejumlah kebijakan yang diterapkan Amerika Serikat membuat banyak pihak mempertanyakan apakah semua peserta benar-benar memperoleh perlakuan yang sama.
Ketika jutaan pasang mata bersiap menyaksikan pesta sepak bola terbesar di planet ini, kontroversi visa dan pembatasan akses telah menjadi bayang-bayang yang sulit dipisahkan dari Piala Dunia 2026. (*)
Editor : Niklaas Andries