RADARBANYUWANGI.ID - Aroma konflik lama kembali menyelimuti tubuh FIFA hanya beberapa hari sebelum Piala Dunia 2026 resmi dimulai. Legenda sepak bola Prancis Michel Platini meluncurkan serangan hukum baru terhadap Presiden FIFA Gianni Infantino dengan mengajukan pengaduan pidana di Prancis.
Platini menuduh Infantino bersama sejumlah pejabat sepak bola dan aparat penegak hukum Swiss terlibat dalam sebuah konspirasi yang dirancang untuk menggagalkan langkahnya menuju kursi Presiden FIFA satu dekade lalu.
Langkah hukum tersebut diumumkan Senin (9/6) waktu setempat, hanya tiga hari sebelum Infantino membuka Piala Dunia 2026 yang digelar di Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko. Turnamen terbesar dalam sejarah sepak bola itu menjadi panggung penting bagi Infantino, yang belakangan kerap tampil dalam sejumlah agenda publik bersama Presiden Amerika Serikat Donald Trump.
Platini Merasa Dijegal Menuju Kursi Presiden FIFA
Baca Juga: Ketahanan Pangan Jadi Prioritas, Bhabinkamtibmas Awasi Panen Jagung di Muncar Banyuwangi
Melalui tim kuasa hukumnya di Paris, Platini mengajukan pengaduan pidana terhadap Infantino dan lima tokoh lain yang berasal dari lingkungan sepak bola serta otoritas hukum Swiss.
Legenda Prancis berusia 71 tahun itu menuding telah terjadi praktik tuduhan palsu dan penyalahgunaan pengaruh yang sengaja diarahkan untuk menghentikan peluangnya menjadi Presiden FIFA setelah era Sepp Blatter.
Selain gugatan pidana, tim hukum Platini juga akan mengajukan gugatan perdata guna menuntut ganti rugi dari FIFA atas kerugian yang menurutnya dialami selama bertahun-tahun.
Tuduhan tersebut sebenarnya bukan hal baru. Pada 2022, Platini telah menyampaikan tudingan serupa kepada otoritas Swiss. Namun kini ia membawa kasus itu ke jalur hukum Prancis dengan cakupan yang lebih luas.
Dari Kandidat Terkuat Menjadi Tersangka
Pada 2015, banyak kalangan meyakini Platini hampir pasti menjadi penerus Sepp Blatter sebagai Presiden FIFA.
Saat itu Platini sedang berada di puncak pengaruhnya sebagai Presiden UEFA. Reputasinya sebagai mantan pemain terbaik Eropa dan administrator sepak bola yang sukses membuatnya menjadi favorit kuat dalam bursa pemilihan.
Namun situasi berubah drastis pada September 2015. Platini dan Blatter tiba-tiba terseret penyelidikan pidana di Swiss terkait pembayaran sebesar 2 juta franc Swiss atau sekitar Rp41 miliar yang diterima Platini dari FIFA.
Baca Juga: Ribuan ODHIV Terdata, Pemkab Banyuwangi Fokus Tekan Penularan dan Lost Follow Up
Kasus tersebut menghancurkan karier politik keduanya di dunia sepak bola. Baik Platini maupun Blatter akhirnya tersingkir dari panggung utama FIFA dan kehilangan kesempatan melanjutkan kepemimpinan organisasi tersebut.
Di tengah kekosongan itu, Gianni Infantino yang saat itu menjabat Sekretaris Jenderal UEFA muncul sebagai kandidat alternatif dan secara mengejutkan memenangkan pemilihan Presiden FIFA pada 2016.
Dua Kali Dibebaskan Pengadilan Swiss
Baca Juga: Loloskan 28 Siswa ke PTN Favorit, SMAN 1 Wongsorejo Catat Lompatan Prestasi
Platini selama bertahun-tahun membantah seluruh tuduhan yang dialamatkan kepadanya. Perjuangannya memperoleh titik terang ketika pengadilan Swiss membebaskan dirinya dan Blatter dari tuduhan penipuan terhadap FIFA pada 2022.
Tidak puas dengan putusan tersebut, jaksa federal Swiss mengajukan banding. Namun hasilnya tetap sama. Pada sidang banding tahun lalu, Platini dan Blatter kembali dinyatakan tidak bersalah.
Putusan itu memperkuat keyakinan Platini bahwa kasus yang menyeret namanya sejak 2015 bukan sekadar persoalan hukum biasa, melainkan bagian dari skenario yang lebih besar untuk menghalanginya menduduki jabatan tertinggi di FIFA.
Nama-Nama Besar Ikut Terseret
Selain Infantino, pengaduan pidana terbaru Platini juga menyasar sejumlah tokoh penting di Swiss. Di antaranya adalah Michael Lauber yang menjabat Jaksa Agung Swiss pada 2015 serta Marco Villiger yang ketika itu menjadi Direktur Hukum FIFA.
Platini meyakini sejumlah pihak tersebut memiliki peran dalam rangkaian proses yang akhirnya membuat dirinya tersingkir dari persaingan menuju kursi Presiden FIFA.
Meski demikian, hingga kini belum ada tanggapan resmi dari FIFA terkait langkah hukum terbaru yang ditempuh mantan kapten tim nasional Prancis tersebut.
Baca Juga: Pengalaman Langka di Tanah Suci, Jemaah Haji Banyuwangi Nikmati Susu Unta Segar
Bayang-Bayang Lama di Tengah Pesta Sepak Bola Dunia
Munculnya kembali konflik Platini dan Infantino menjadi sorotan tersendiri menjelang dimulainya Piala Dunia 2026.
Turnamen yang akan melibatkan 48 negara peserta itu diharapkan menjadi simbol era baru FIFA. Namun gugatan terbaru ini kembali membuka lembaran kontroversial yang selama bertahun-tahun membayangi organisasi sepak bola terbesar di dunia tersebut.
Baca Juga: Pendaftaran SD Negeri Jalur Domisili Dimulai, Ini Kuota dan Aturannya
Bagi Platini, perjuangan hukum ini bukan sekadar soal nama baik. Ini juga menjadi upaya terakhir untuk membuktikan bahwa jalan menuju kursi Presiden FIFA yang sempat terbuka lebar baginya pada 2015 ditutup oleh kekuatan yang bekerja di balik layar.
Sementara bagi Infantino, yang kini memasuki satu dekade kepemimpinannya di FIFA, tuduhan tersebut berpotensi menghadirkan gangguan baru di tengah sorotan global yang tertuju pada Piala Dunia 2026.
Pertarungan yang dimulai di ruang rapat FIFA lebih dari 10 tahun lalu tampaknya belum benar-benar berakhir. (*)
Editor : Niklaas Andries