RADARBANYUWANGI.ID – Ketegangan politik kembali menyusup ke panggung olahraga global. Menjelang gelaran Iran vs United States, pemerintah Iran melayangkan protes keras setelah sejumlah anggota delegasi tim nasionalnya dilaporkan tidak memperoleh visa untuk memasuki wilayah AS jelang Piala Dunia FIFA 2026.
Langkah tersebut memicu tudingan diskriminasi dan intervensi politik dalam olahraga, sementara Washington menegaskan kebijakan visa dilakukan demi alasan keamanan nasional.
Visa Dipersoalkan, Puluhan Pejabat Tak Diizinkan Masuk
Polemik ini mencuat setelah laporan menyebut sebagian besar staf manajerial dan eksekutif tim Iran tidak mendapatkan izin masuk. Media Iran, mengutip BBC, melaporkan sedikitnya 15 pejabat federasi sepak bola—termasuk ketua federasi dan direktur media—tidak disetujui visanya.
Selain itu, Iran juga menyoroti aturan ketat yang mewajibkan skuad mereka masuk dan keluar wilayah AS pada hari yang sama dengan jadwal pertandingan.
Kebijakan tersebut dinilai menyulitkan persiapan teknis dan operasional tim nasional.
Iran: Ini Bentuk Diskriminasi Politik
Melalui Kedutaan Besar Iran di Turki, Teheran menilai kebijakan tersebut sebagai bentuk campur tangan politik dalam olahraga.
“Pengumuman pemerintah AS merupakan upaya menutupi fakta sebenarnya. Kini Anda telah meningkatkan perlakuan yang disengaja dan diskriminatif terhadap tim nasional sepak bola Iran ke tingkat paling tinggi,” demikian pernyataan resmi Iran.
Iran kemudian mendesak federasi sepak bola dunia FIFA untuk segera turun tangan menyelesaikan polemik tersebut.
Respons AS: Fokus pada Keamanan
Di sisi lain, Departemen Keamanan Dalam Negeri AS (Department of Homeland Security) menegaskan kebijakan mereka tidak terkait politik, melainkan fokus pada keamanan selama turnamen berlangsung.
“Kami teguh dalam komitmen untuk menjaga keselamatan dan keamanan rakyat Amerika Serikat serta para pengunjung Piala Dunia FIFA 2026,” demikian pernyataan DHS.
Sebelumnya, Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio menegaskan bahwa delegasi Iran tidak boleh mencakup individu yang memiliki keterkaitan dengan Islamic Revolutionary Guard Corps.
Laga Perdana Iran di Los Angeles
Di tengah polemik tersebut, Iran dijadwalkan menjalani laga perdana di Los Angeles pada 15 Juni 2026. Situasi ini membuat sorotan publik semakin tajam, karena konflik diplomatik berpotensi ikut memengaruhi atmosfer turnamen.
Sejumlah analis menilai, FIFA kini berada dalam posisi sulit untuk menjaga netralitas olahraga di tengah tensi geopolitik dua negara yang kembali memanas. (*)
Editor : Ali Sodiqin