Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Jangan Sampai Lupa! Ini Aturan Kartu Kuning dan Kartu Merah di Piala Dunia 2026 yang Bisa Menghancurkan Mimpi Juara

Niklaas Andries • Senin, 8 Juni 2026 | 09:46 WIB
REGULASI FIFA: FIFA perkenalkan regulasi baru kartu kuning dan merah di Piala Dunia 2026
REGULASI FIFA: FIFA perkenalkan regulasi baru kartu kuning dan merah di Piala Dunia 2026

RADARBANYUWANGI.ID - Piala Dunia 2026 tinggal menghitung hari. Turnamen terbesar dalam sejarah sepak bola itu akan resmi dimulai pada 11 Juni dengan pertandingan pembuka antara tuan rumah Meksiko melawan Afrika Selatan.

Di tengah sorotan terhadap para bintang seperti Lionel Messi, Kylian Mbappé, hingga Harry Kane, ada satu aspek yang kerap luput dari perhatian tetapi bisa menentukan nasib sebuah negara di turnamen: disiplin pemain.

Dalam kompetisi yang berlangsung singkat dan penuh tekanan, akumulasi kartu kuning maupun kartu merah dapat menjadi faktor pembeda antara kesuksesan dan kegagalan. Satu pelanggaran yang tidak perlu bahkan bisa membuat seorang pemain absen dalam pertandingan krusial fase gugur.

Lalu bagaimana sebenarnya aturan kartu kuning, kartu merah, dan skorsing di Piala Dunia 2026?

Baca Juga: Wisata Pinus Sempu Makin Hits, BPBD Ingatkan Ancaman di Balik Keindahan

Akumulasi Kartu Kuning Bisa Berujung Skorsing

FIFA menerapkan aturan yang cukup tegas terkait kartu kuning. Setiap pemain atau anggota staf resmi tim yang menerima dua kartu kuning dalam dua pertandingan berbeda secara otomatis akan menjalani hukuman larangan bermain satu pertandingan.

Artinya, seorang pemain tidak perlu menerima kartu merah untuk terkena skorsing.

Baca Juga: Kacabdin Baru Banyuwangi Buka Nomor Pribadi, Sekolah Diminta Curhat

Sebagai contoh, apabila seorang pemain mendapatkan kartu kuning pada laga pertama fase grup dan kembali menerima kartu kuning pada pertandingan ketiga fase grup, maka ia akan dipastikan absen pada babak 32 besar apabila timnya lolos. Aturan yang sama berlaku apabila kartu kuning diterima pada laga kedua dan ketiga fase grup.

Risiko ini sering kali menjadi perhatian besar bagi pelatih menjelang pertandingan terakhir fase grup karena mereka harus mempertimbangkan apakah akan tetap memainkan pemain yang sudah mengoleksi satu kartu kuning atau menyimpannya demi menghindari skorsing.

Bukan hanya pemain yang terkena aturan tersebut. Pelatih, asisten pelatih, maupun staf resmi yang berada di bangku cadangan juga dapat dikenai hukuman serupa apabila mengumpulkan dua kartu kuning.

Babak Gugur Tidak Membuat Risiko Berakhir

Akumulasi kartu kuning juga berlaku pada fase gugur. Apabila seorang pemain menerima kartu kuning di babak 32 besar dan kembali mendapat kartu kuning di babak 16 besar, maka ia otomatis harus menjalani skorsing pada perempat final.

Situasi tersebut sering menjadi mimpi buruk bagi tim-tim unggulan karena banyak pemain inti yang terancam absen pada laga penting akibat akumulasi kartu.

Baca Juga: Duo Bawang Mengamuk, Belanja Dapur Warga Banyuwangi Kian Berat

Karena itu, manajemen emosi dan disiplin selama pertandingan menjadi elemen yang sama pentingnya dengan taktik maupun kualitas teknik.

Kartu Merah Bisa Menjadi Bencana

Jika kartu kuning dapat mengganggu rencana tim, maka kartu merah berpotensi menjadi bencana besar. Pemain atau staf yang menerima kartu merah langsung otomatis dikenai larangan tampil satu pertandingan.

Baca Juga: Di Balik Sirene Damkar Banyuwangi, Ada 489 Operasi Darurat dalam Lima Bulan

Hal yang sama berlaku bagi pemain yang menerima dua kartu kuning dalam satu pertandingan yang kemudian berujung kartu merah. Namun hukuman tersebut belum tentu berhenti sampai di situ.

FIFA memiliki kewenangan untuk meninjau setiap insiden dan menjatuhkan sanksi tambahan apabila pelanggaran dinilai serius.

Misalnya, tindakan kekerasan, perilaku tidak sportif yang ekstrem, atau pelanggaran yang membahayakan keselamatan lawan dapat berujung pada hukuman lebih dari satu pertandingan.

Dalam beberapa kasus di turnamen sebelumnya, pemain bahkan harus absen hingga dua atau tiga pertandingan akibat pelanggaran berat. Hukuman Bisa Berlanjut Setelah Piala Dunia

Ada konsekuensi lain yang tidak banyak diketahui publik.

Apabila hukuman skorsing belum selesai dijalani saat Piala Dunia berakhir, sanksi tersebut akan dibawa ke pertandingan resmi internasional berikutnya yang dijalani negara bersangkutan.

Baca Juga: Detik-Detik Truk Mundur Sendiri lalu Terjun ke Laut di Pelabuhan Banyuwangi

Dengan kata lain, konsekuensi kartu merah tidak selalu berakhir bersamaan dengan berakhirnya turnamen. Pemain tetap dapat menjalani hukuman pada ajang resmi FIFA berikutnya.

Kapan Akumulasi Kartu Kuning Dihapus?

Untuk menghindari situasi di mana pemain bintang absen pada partai puncak hanya karena akumulasi kartu kuning, FIFA menerapkan sistem penghapusan kartu pada dua momen penting.

Baca Juga: Tak Lagi Dikejar Jadwal, Jemaah Banyuwangi Isi Hari dengan Cara Ini

1. Setelah Fase Grup Berakhir

Semua catatan kartu kuning dihapus setelah fase grup selesai. Artinya, pemain yang membawa satu kartu kuning dari fase grup akan memulai fase gugur dengan catatan bersih.

Keputusan ini bertujuan memastikan pertandingan fase gugur tidak terlalu dipengaruhi akumulasi yang terjadi pada babak sebelumnya.

2. Setelah Perempat Final

Penghapusan kedua dilakukan setelah babak perempat final. Aturan ini sangat penting karena mencegah pemain kehilangan kesempatan tampil pada semifinal atau final hanya karena akumulasi kartu kuning.

Dengan demikian, setelah perempat final selesai, kartu kuning yang telah dikumpulkan sebelumnya akan dihapus.

Mengapa Aturan Ini Penting?

FIFA berupaya menjaga keseimbangan antara disiplin dan keadilan kompetisi. Tanpa sistem penghapusan kartu kuning, banyak pemain kunci berpotensi absen pada pertandingan terbesar turnamen akibat pelanggaran ringan yang terakumulasi selama beberapa laga.

Baca Juga: Selo Aji Jadi Mesin PADes Kaligondo, Wisata Alam Banyuwangi Tembus Nasional

Sebaliknya, kartu merah tetap menjadi pelanggaran serius yang dapat berdampak langsung terhadap perjalanan sebuah tim.

Karena itu, para pelatih biasanya memiliki staf khusus yang terus memantau status kartu pemain sepanjang turnamen.

Pada fase gugur, keputusan memainkan pemain yang sudah memiliki satu kartu kuning sering kali menjadi pertimbangan strategis yang sangat penting.

Baca Juga: Ngamen Tak Diberi Uang, Pemuda Lempar Gitar ke Pengunjung RTH Blambangan Banyuwangi

Final Tidak Lagi Terancam Akumulasi Kartu Kuning

Salah satu konsekuensi paling menarik dari aturan FIFA adalah pemain tidak bisa kehilangan kesempatan tampil di final hanya karena akumulasi kartu kuning.

Setelah perempat final, seluruh catatan kartu kuning dihapus. Artinya, pemain hanya akan absen pada semifinal atau final apabila menerima kartu merah atau masih menjalani hukuman yang belum selesai dari pelanggaran sebelumnya.

Aturan ini dibuat untuk memastikan partai puncak dapat menampilkan para pemain terbaik yang tersedia.

Disiplin Bisa Menentukan Gelar Juara

Dalam sejarah Piala Dunia, banyak pertandingan ditentukan bukan hanya oleh kualitas permainan, melainkan juga oleh kemampuan tim menjaga disiplin.

Turnamen 2026 yang menghadirkan 48 peserta dan 104 pertandingan diperkirakan akan berlangsung lebih panjang dan lebih ketat dibanding edisi-edisi sebelumnya.

Karena itu, setiap kartu kuning dan kartu merah bisa menjadi faktor yang menentukan apakah sebuah negara mampu melangkah hingga final atau justru tersingkir lebih awal.

Di panggung sebesar Piala Dunia, satu tekel terlambat atau satu emosi yang tidak terkendali dapat mengubah perjalanan sebuah bangsa dalam hitungan detik. (*)

 

Editor : Niklaas Andries
#aturan kartu kuning #aturan kartu merah #regulasi FIFA #skorsing piala dunia #piala dunia 2026