Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Thomas Tuchel Jadi Harapan Inggris Akhiri Kutukan 60 Tahun Piala Dunia, Status Pelatih Jerman Masih Jadi Sorotan

Niklaas Andries • Jumat, 5 Juni 2026 | 02:49 WIB
BAWA HARAPAN BESAR: Tuchel diharapkan mampu putus kutukan buruk timnas Inggris di Piala Dunia 2026
BAWA HARAPAN BESAR: Tuchel diharapkan mampu putus kutukan buruk timnas Inggris di Piala Dunia 2026

RADARBANYUWANGI.ID – Inggris memasuki Piala Dunia 2026 dengan misi yang sama seperti puluhan tahun terakhir: mengakhiri penantian panjang sejak terakhir kali mengangkat trofi dunia pada 1966. Namun kali ini, nasib Three Lions justru dipercayakan kepada sosok yang berasal dari negara rival terbesar mereka, Jerman.

Penunjukan Thomas Tuchel sebagai pelatih kepala tim nasional Inggris pada 2024 sempat memicu gelombang perdebatan. Bukan karena rekam jejaknya yang diragukan, melainkan karena paspor Jerman yang dimilikinya.

Tuchel datang dengan reputasi sebagai salah satu pelatih terbaik Eropa. Ia pernah menjuarai Liga Champions bersama Chelsea, meraih gelar liga bersama Paris Saint-Germain dan Bayern Munchen, serta dikenal sebagai ahli strategi yang sukses di berbagai kompetisi elite.

Namun, bagi sebagian kalangan di Inggris, fakta bahwa ia berasal dari Jerman sempat menjadi isu sensitif. Saat diperkenalkan secara resmi sebagai pelatih Inggris, Tuchel bahkan menyindir kritik yang diterimanya.

Baca Juga: Rahasia Pintar Belanja! Waktu Ini Bikin Harga Barang Jatuh Drastis, Jangan Salah Momen!

“Saya minta maaf karena memiliki paspor Jerman,” ujarnya dengan nada bercanda.

Pernyataan itu muncul setelah sejumlah media Inggris menyoroti penunjukannya secara negatif. Salah satu tabloid nasional bahkan menyebut hari pengangkatannya sebagai “hari kelam bagi Inggris”, sementara beberapa tokoh politik mempertanyakan mengapa federasi tidak memilih pelatih lokal.

Baca Juga: Misteri Desa Tanpa Suara Azan, yang Membuat Pendatang Hilang Satu per Satu Saat Magrib

Padahal, Inggris bukan kali pertama menggunakan pelatih asing. Sebelumnya mereka pernah ditangani Sven-Goran Eriksson dari Swedia dan Fabio Capello dari Italia. Bahkan sebelum Tuchel ditunjuk, nama Pep Guardiola juga sempat masuk dalam daftar kandidat utama.

Rivalitas Inggris dan Jerman Jadi Sumber Kontroversi

Alasan utama munculnya penolakan tidak lepas dari sejarah rivalitas panjang Inggris dan Jerman dalam sepak bola.

Sejak mengalahkan Jerman Barat pada final Piala Dunia 1966, Inggris justru lebih sering mengalami kekecewaan saat bertemu Jerman di turnamen besar. Sejumlah generasi suporter Inggris masih mengingat kekalahan menyakitkan melalui adu penalti maupun duel-duel dramatis yang berakhir pahit.

Dalam beberapa dekade terakhir, rivalitas itu bahkan kerap dibumbui sentimen sejarah di luar sepak bola.

Namun menurut Profesor Jan Rüger, sejarawan hubungan Inggris-Jerman sekaligus penulis buku Great Powers: A History of Britain and Germany, reaksi terhadap penunjukan Tuchel menunjukkan perubahan besar dalam cara masyarakat Inggris memandang Jerman.

Baca Juga: Rahasia Pebisnis Cerdas! Lokasi Emas yang Bikin Usaha Langsung Ramai Tanpa Promosi Besar

“Pertanyaan memang muncul, tetapi tidak berkembang menjadi kontroversi berkepanjangan seperti yang mungkin terjadi pada 1990-an atau awal 2000-an,” ujar Rüger.

“Dulu hampir mustahil membayangkan pelatih Jerman menangani Inggris. Kini situasinya berbeda. Jerman tidak lagi dipandang sebagai sosok antagonis seperti masa lalu,” tambahnya.

Rekor Sempurna di Kualifikasi Meredam Kritik

Baca Juga: Pilunya Farel Prayoga Saat Wisuda! Ayah Kandung Tak Datang, Sosok Ini Justru Setia Mendampingi

Perdebatan mengenai kewarganegaraan Tuchel perlahan mereda setelah Inggris menunjukkan performa meyakinkan sepanjang fase kualifikasi Piala Dunia 2026.

Pelatih berusia 52 tahun itu berhasil menjaga rekor kemenangan sempurna dan menunjukkan pendekatan yang tegas dalam membangun skuad.

Sikap komunikatifnya saat menghadapi media juga membantu meredam kritik. Berbeda dengan sejumlah pendahulunya yang kerap menjadi sasaran serangan publik, Tuchel relatif berhasil menciptakan suasana positif di sekitar tim nasional.

Meski demikian, tekanan sesungguhnya baru akan dimulai ketika Piala Dunia bergulir. Jika Inggris gagal memenuhi ekspektasi, status Tuchel sebagai pelatih asing hampir pasti kembali menjadi bahan perdebatan.

Bayang-Bayang Gareth Southgate

Tuchel mewarisi tim yang dibangun Gareth Southgate selama delapan tahun. Southgate berhasil membawa Inggris mencapai semifinal Piala Dunia 2018 serta dua final Euro secara beruntun.

Meski tidak berhasil meraih trofi, banyak pihak menilai ia sukses membangun kembali hubungan emosional antara tim nasional dan para pendukung.

Baca Juga: Ruben Onsu dan Sarwendah Kian Memanas, Betrand Peto Beri Pesan Tegas

Namun pencapaian itu tetap tidak membuat Southgate kebal kritik. Pada Euro 2024, ia bahkan sempat menjadi sasaran kemarahan sebagian suporter setelah hasil buruk Inggris. Gelas plastik dilemparkan ke arahnya seusai salah satu pertandingan.

Meski demikian, Southgate tetap dikenang sebagai pelatih tersukses kedua dalam sejarah Inggris setelah Sir Alf Ramsey, sosok yang mempersembahkan gelar Piala Dunia 1966.

Karena itu, ekspektasi terhadap Tuchel sangat tinggi. Apabila berhasil membawa Inggris menjadi juara dunia, ia hampir pasti akan dikenang sebagai salah satu tokoh terbesar dalam sejarah sepak bola Inggris.

Berani Coret Nama-Nama Besar

Baca Juga: Mahalini Lepas High Heels dan Lari Demi Tampil Tepat Waktu, Aksinya Banjir Pujian

Salah satu keputusan paling kontroversial Tuchel menjelang Piala Dunia 2026 adalah keberaniannya mencoret sejumlah pemain bintang. Nama-nama seperti Phil Foden, Cole Palmer, dan Trent Alexander-Arnold tidak masuk dalam skuad akhir yang dibawanya ke Amerika Utara.

Keputusan tersebut mengejutkan banyak pihak karena ketiganya merupakan pemain dengan reputasi besar di level klub maupun internasional. Namun Tuchel menegaskan bahwa turnamen besar tidak dimenangkan oleh kumpulan individu terbaik, melainkan oleh tim yang paling solid.

“Semua yang saya ketahui tentang sepak bola internasional menunjukkan bahwa turnamen dimenangkan oleh tim, bukan individu,” kata Tuchel.

“Apa yang ingin kami capai musim panas ini hanya bisa diraih sebagai sebuah tim.”

Keputusan lain yang juga memancing perhatian adalah pemanggilan Jordan Henderson yang kini berusia 35 tahun.

Meski usianya tidak lagi muda, Henderson dianggap masih memiliki kualitas kepemimpinan yang dibutuhkan di ruang ganti.

“Banyak pemain hebat yang tidak masuk skuad, tetapi itu selalu terjadi di setiap pemanggilan Inggris,” kata Henderson.

Baca Juga: Raffi Ahmad Mendadak Jalani Operasi! Benjolan di Bahu Membesar hingga 6 Cm

“Kami berada di sini karena suatu alasan. Sekarang fokus kami adalah menjadi versi terbaik dari diri kami sendiri dan bekerja bersama untuk mewujudkan mimpi kami.”

Harry Kane, Jude Bellingham, dan Declan Rice Jadi Andalan

Baca Juga: Nyaru Pembeli, Pria Berpenampilan Rapi Tipu Nenek Pemilik Toko di Banyuwangi dengan Uang Mainan

Dalam upaya mengakhiri puasa gelar selama enam dekade, Tuchel masih memiliki fondasi skuad yang sangat kuat.

Kapten Harry Kane tetap menjadi ujung tombak utama. Selain itu, Inggris juga diperkuat gelandang-gelandang elite seperti Jude Bellingham dan Declan Rice yang menjadi pilar di klub masing-masing.

Kedalaman skuad yang dimiliki Inggris membuat Tuchel berani mengambil keputusan sulit, termasuk mencoret beberapa nama besar.

Menurutnya, membangun kelompok pemain yang tepat jauh lebih penting daripada sekadar mengumpulkan talenta terbaik.

“Saya menyukai keputusan sulit karena pada akhirnya keputusan itu menciptakan kejelasan,” ujar Tuchel.

“Sejak hari pertama kami mengatakan bahwa kami akan membangun kelompok terbaik, bukan hanya mengumpulkan pemain paling berbakat.”

Kesempatan Emas Akhiri Penantian

Piala Dunia 2026 menjadi kesempatan terbesar Inggris untuk menghapus kutukan 60 tahun tanpa gelar dunia.

Dengan skuad yang matang, kombinasi pemain berpengalaman dan talenta muda, serta pelatih yang memiliki rekam jejak juara di level tertinggi, optimisme mulai tumbuh di kalangan pendukung Three Lions. (*)

Gelandang muda Kobbie Mainoo bahkan menegaskan keyakinan seluruh anggota tim.

“Semua orang di dalam skuad, staf pelatih, semuanya percaya bahwa kami bisa memenangkannya,” tegas Mainoo.

Kini, seluruh perhatian tertuju kepada Thomas Tuchel. Pelatih asal Jerman itu datang dengan satu tugas besar, membawa Inggris kembali ke puncak dunia dan mengakhiri penantian yang telah berlangsung selama enam dekade.

Jika berhasil, status kewarganegaraannya tidak lagi penting. Yang akan diingat publik hanyalah satu hal: pria yang akhirnya membawa pulang trofi Piala Dunia ke Inggris. (*)

Editor : Niklaas Andries
#gareth southgate #piala dunia 2026 #harry kane #thomas tuchel #Timnas Inggris