RADARBANYUWANGI.ID - Piala Dunia 2026 bisa menjadi babak terakhir perjalanan panjang Cristiano Ronaldo di panggung sepak bola internasional. Namun, menjelang turnamen terbesar dunia itu, perdebatan mengenai peran sang kapten di tim nasional Portugal kembali mengemuka.
Banyak pihak mempertanyakan apakah keberadaan Ronaldo yang kini berusia 41 tahun masih menjadi keuntungan bagi Portugal atau justru menghambat regenerasi tim. Di tengah kritik tersebut, mantan gelandang Manchester United dan tim nasional Inggris Owen Hargreaves tampil memberikan pembelaan yang kuat.
Dalam program The Breakdown yang turut menghadirkan Martin Keown, Ally McCoist, Julien Laurens, dan Darren Fletcher, diskusi mengenai kandidat juara Piala Dunia 2026 berkembang menjadi perdebatan soal pengaruh Ronaldo bagi Selecao das Quinas.
Ronaldo Masih Layak Jadi Andalan Portugal
Baca Juga: Rahasia Pintar Belanja! Waktu Ini Bikin Harga Barang Jatuh Drastis, Jangan Salah Momen!
Mantan striker Skotlandia Ally McCoist menilai Portugal merupakan salah satu kandidat kuat juara dunia tahun ini. Namun, ia mengajukan pertanyaan yang memicu perdebatan.
"Saya benar-benar percaya Portugal bisa menjuarai Piala Dunia. Tetapi apakah peluang mereka akan lebih besar tanpa Ronaldo? Menurut saya iya," ujar McCoist.
Baca Juga: Misteri Desa Tanpa Suara Azan, yang Membuat Pendatang Hilang Satu per Satu Saat Magrib
Pernyataan itu langsung mendapat bantahan dari Hargreaves.
"Semua orang selalu mengatakan hal yang sama. Tetapi siapa pencetak gol yang lebih baik daripada dia? Mudah saja mengatakan Ronaldo harus dicoret. Faktanya, Portugal belum memiliki pengganti yang jelas," tegas Hargreaves.
Menurut McCoist, Portugal mungkin bisa kehilangan gol jika Ronaldo tidak bermain, tetapi mereka berpotensi memperoleh energi yang lebih besar dari pemain lain yang lebih muda.
Statistik Ronaldo Masih Sulit Dibantah
Meski usianya telah memasuki kepala empat, Ronaldo tetap menunjukkan produktivitas yang luar biasa. Di bawah asuhan Roberto Martinez, Ronaldo mencetak 25 gol hanya dalam 30 penampilan. Rasio tersebut bahkan lebih baik dibandingkan pencapaiannya bersama sejumlah pelatih tim nasional Portugal sebelumnya.
Piala Dunia 2026 akan menjadi turnamen keenam Ronaldo secara beruntun setelah tampil di edisi 2006, 2010, 2014, 2018, dan 2022.
Baca Juga: Rahasia Pebisnis Cerdas! Lokasi Emas yang Bikin Usaha Langsung Ramai Tanpa Promosi Besar
Meski telah memenangkan hampir seluruh gelar prestisius dalam sepak bola, trofi Piala Dunia masih menjadi satu-satunya mahkota yang belum berhasil diraihnya.
Prestasi terbaik Ronaldo di ajang ini terjadi pada 2006 ketika Portugal mencapai semifinal sebelum dikalahkan Prancis.
Kritik: Portugal Bermain dengan 10 Orang Jika Ronaldo Mandul
Jurnalis sepak bola Prancis Julien Laurens mendukung pandangan McCoist. Menurutnya, ketika Ronaldo gagal mencetak gol, Portugal sering kehilangan keseimbangan permainan.
"Jika dia tidak mencetak gol, Portugal seperti bermain dengan 10 pemain. Jangan lupa, dia tidak mencetak gol dari permainan terbuka di Euro maupun Piala Dunia terakhir. Itu hampir dua turnamen besar berturut-turut tanpa kontribusi gol dari open play," kata Laurens.
Komentar serupa datang dari Darren Fletcher yang menilai Portugal masih terlalu bergantung kepada Ronaldo.
"Dia ingin permainan selalu mengalir melalui dirinya. Itu bisa berbahaya karena tongkat estafet seharusnya mulai diberikan kepada generasi berikutnya," ujar Fletcher.
Kisah Rahasia di Manchester United yang Membantah Tuduhan Egois
Namun Hargreaves memiliki pengalaman pribadi yang menurutnya membuktikan bahwa citra Ronaldo sebagai pemain egois tidak sepenuhnya benar.
Ia mengenang sebuah momen saat Manchester United bersiap menghadapi final Liga Champions melawan Chelsea pada 2008.
Menurut Hargreaves, saat latihan tendangan bebas menjelang laga puncak tersebut, ia sedang berada dalam performa terbaik dan berulang kali berhasil menaklukkan kiper Edwin van der Sar.
Baca Juga: Ruben Onsu dan Sarwendah Kian Memanas, Betrand Peto Beri Pesan Tegas
Van der Sar bahkan menyarankan agar Hargreaves menjadi eksekutor jika United mendapatkan tendangan bebas di final.
Meski demikian, Hargreaves merasa mustahil merebut tugas tersebut dari Ronaldo yang terkenal sebagai spesialis bola mati. Yang terjadi justru di luar dugaan.
"Cristiano datang menghampiri saya. Tidak ada yang mendengar. Dia berkata, 'Kalau kita mendapat tendangan bebas, itu milikmu.' Dia tahu saya mungkin berada dalam posisi lebih baik untuk membantu tim memenangkan pertandingan," ungkap Hargreaves.
Baca Juga: Pilunya Farel Prayoga Saat Wisuda! Ayah Kandung Tak Datang, Sosok Ini Justru Setia Mendampingi
"Itulah sebabnya saya selalu mengatakan orang salah menilai dirinya. Banyak yang menganggap dia egois. Faktanya tidak seperti itu. Dia hanya sangat ingin menang."
Menurut Hargreaves, hasrat besar untuk menang memang membuat Ronaldo terlihat egois di mata sebagian orang. Namun karakter itulah yang justru mengantarkannya menjadi salah satu pemain terbaik sepanjang sejarah sepak bola.
Martin Keown Soroti Palmer dan Maguire
Diskusi kemudian bergeser ke skuad Inggris pilihan Thomas Tuchel yang menuai kontroversi karena mencoret sejumlah nama besar seperti Cole Palmer, Phil Foden, dan Harry Maguire.
Martin Keown mengaku masih akan memasukkan Palmer ke dalam skuad karena kemampuannya menciptakan momen magis dalam pertandingan besar.
"Piala Dunia membutuhkan pemain-pemain unik. Dulu ada Pele, Johan Cruyff, Lionel Messi, hingga Cristiano Ronaldo. Saya akan menemukan tempat untuk Palmer dalam tim ini," kata Keown. (*)
Ia juga mempertanyakan keputusan memasukkan John Stones yang minim menit bermain di Manchester City, sementara Harry Maguire justru ditinggalkan.
Inggris Dinilai Meniru Formula Arsenal
Hargreaves melihat pola menarik dalam pilihan pemain Tuchel. Menurutnya, sebagian besar pemain yang dibawa memiliki postur tinggi dan kemampuan fisik kuat, mirip dengan pendekatan yang digunakan Arsenal saat menjuarai Premier League.
"Saya pikir Tuchel menginginkan ukuran tubuh dan kekuatan fisik. Hampir semua pemainnya memiliki tinggi di atas enam kaki."
"Dia tahu Inggris tidak bisa mengalahkan Spanyol hanya dengan permainan bola. Jika ingin juara, Inggris kemungkinan akan mengandalkan transisi cepat dan kekuatan fisik. Saya melihat ada pengaruh pendekatan Arsenal di sana," jelasnya. (*)
Editor : Niklaas Andries