RADARBANYUWANGI.ID - Musim yang penuh kekecewaan bersama Real Madrid tidak mengurangi keyakinan para pemain Timnas Inggris terhadap kualitas Jude Bellingham.
Di tengah kritik yang menghantam sang gelandang sepanjang musim lalu, rekan setimnya, Ollie Watkins, justru menilai Bellingham sebagai sosok yang siap menjadi motor utama Inggris dalam perburuan gelar Piala Dunia 2026.
Bagi Watkins, kemampuan Bellingham jauh melampaui gelandang modern pada umumnya. Pemain Aston Villa itu bahkan menyebut bintang berusia 22 tahun tersebut sebagai gelandang paling komplet yang dimiliki Inggris saat ini.
Pujian itu muncul menjelang dimulainya Piala Dunia 2026 di Amerika Utara, turnamen yang menjadi harapan baru bagi skuad The Three Lions di bawah arahan Thomas Tuchel.
Setelah gagal mengakhiri penantian panjang gelar mayor dalam beberapa dekade terakhir, Inggris kembali datang sebagai salah satu kandidat kuat juara. Dan di mata Watkins, peluang tersebut akan sangat bergantung pada performa Bellingham.
Musim Sulit di Real Madrid Tidak Menghapus Status Bintang
Bellingham menjalani musim yang tidak mudah bersama Real Madrid. Raksasa Spanyol tersebut gagal mengangkat satu pun trofi sepanjang musim.
Situasi semakin rumit karena pergantian pelatih yang terjadi dua kali dalam satu musim, sebuah kondisi yang menciptakan ketidakstabilan di ruang ganti maupun di lapangan.
Meski demikian, reputasi Bellingham sebagai salah satu pemain terbaik generasi muda dunia tetap tidak tergoyahkan.
Sejak bergabung dengan Madrid, mantan pemain Borussia Dortmund itu terus menunjukkan kemampuannya sebagai gelandang modern yang mampu memberikan kontribusi di berbagai aspek permainan, mulai dari distribusi bola, penguasaan lini tengah, hingga produktivitas dalam mencetak gol.
Kini, fokusnya beralih sepenuhnya ke Piala Dunia 2026, ajang yang berpotensi menjadi panggung terbesar dalam karier internasionalnya.
Watkins: Bellingham Bisa Melakukan Segalanya
Dalam wawancara di program Rio Ferdinand Presents, Watkins mengungkapkan alasan mengapa dirinya begitu yakin terhadap kemampuan Bellingham.
Menurut penyerang Aston Villa tersebut, keunggulan utama Bellingham terletak pada kelengkapan atribut yang dimilikinya.
“Menurut saya, kekuatan terbesar Jude adalah dia merupakan gelandang yang benar-benar komplet. Dia bisa melakukan semuanya,” ujar Watkins.
“Secara fisik dia luar biasa. Dia mampu menjelajahi seluruh area lapangan dan selalu ingin terlibat dalam permainan.”
Watkins menilai mentalitas Bellingham menjadi faktor yang membedakannya dari banyak pemain lain.
Seorang gelandang, kata dia, pasti akan kehilangan bola dalam beberapa situasi. Namun Bellingham selalu menunjukkan respons yang tepat.
“Dia tidak pernah berhenti bekerja. Saat kehilangan bola, dia akan berlari kembali untuk merebutnya. Ketika tim menyerang, dia juga akan berlari ke depan dengan kecepatan penuh.”
“Dia adalah pemain yang mampu mengendalikan jalannya pertandingan. Selain itu, rasa percaya diri dan keyakinannya terhadap kemampuan sendiri membuatnya berada pada level yang berbeda,” lanjut Watkins.
Kritik Tidak Mengubah Karakter Pemimpin Bellingham
Di balik kualitas teknisnya, Bellingham juga kerap menjadi sorotan karena ekspresi dan gesturnya di lapangan.
Sepanjang beberapa musim terakhir, ia beberapa kali dikritik karena dianggap terlalu agresif terhadap wasit. Bahasa tubuhnya saat pertandingan juga sering menimbulkan perdebatan di kalangan pengamat sepak bola.
Baca Juga: Siapa Nanik Sudaryati Deyang? Dari Wartawan hingga Dipilih Prabowo Pimpin Badan Gizi Nasional
Bahkan, sejumlah laporan media Inggris pernah menyebut bahwa sebagian pemain muda merasa terintimidasi oleh karakter dominan yang ditunjukkan Bellingham saat berada di lingkungan Timnas Inggris.
Namun Watkins memiliki pandangan berbeda. Menurutnya, apa yang dilihat publik sebagai sikap keras justru merupakan bentuk kedewasaan dan kepemimpinan yang jarang dimiliki pemain seusianya.
Baca Juga: Prabowo Copot Dadan Hindayana, Nanik Sudaryati Deyang Resmi Jadi Kepala Badan Gizi Nasional
Berusia 22 Tahun, Berjiwa Pemimpin Berpengalaman
Watkins mengaku sering lupa bahwa Bellingham sebenarnya masih sangat muda.
Menurutnya, cara Bellingham membawa diri di dalam maupun di luar lapangan membuatnya tampak seperti pemain yang telah memiliki pengalaman panjang di level tertinggi.
“Setiap kali bermain bersamanya, saya sering merasa seperti sedang bermain dengan seseorang yang berusia 28 atau bahkan 30 tahun,” kata Watkins.
“Cara dia bersikap dan membawa dirinya menunjukkan kedewasaan yang luar biasa.”
Di lapangan, Bellingham juga dikenal sebagai pemain yang aktif membakar semangat tim dan penonton.
Watkins menegaskan bahwa gerakan tangan atau ekspresi emosional yang sering diperlihatkan Bellingham bukanlah bentuk keluhan, melainkan upaya untuk membangkitkan energi tim.
“Ketika dia mengangkat tangan atau memberi isyarat kepada suporter, itu bukan karena dia mengeluh. Dia ingin membangkitkan atmosfer pertandingan.”
“Dia memberikan keyakinan kepada semua orang untuk terus percaya dan terus berjuang sampai akhir,” tambahnya.
Thomas Tuchel Butuh Versi Terbaik Jude Bellingham
Pujian Watkins semakin menegaskan betapa pentingnya peran Bellingham bagi Timnas Inggris. Di bawah kepemimpinan Thomas Tuchel, Inggris diperkirakan akan membangun permainan di sekitar kreativitas dan energi sang gelandang.
Dengan kombinasi kemampuan teknis, kekuatan fisik, kecerdasan taktis, dan mentalitas kepemimpinan, Bellingham dipandang sebagai sosok yang mampu mengangkat performa tim pada pertandingan-pertandingan besar.
Watkins bahkan meyakini bahwa Bellingham menikmati tekanan dan tanggung jawab besar yang menyertainya.
“Dia menyukai tanggung jawab itu. Dia memikulnya di pundaknya sendiri.”
“Sebagai rekan setim, sangat menyenangkan melihat ada pemain yang memiliki karakter seperti itu,” ujarnya.
Jika mampu menampilkan performa terbaiknya seperti saat Piala Dunia 2022 di Qatar, Jude Bellingham berpeluang menjadi salah satu pemain paling menentukan di Piala Dunia 2026. Dan bagi Inggris, itu bisa menjadi faktor pembeda dalam upaya mengakhiri penantian panjang meraih gelar juara dunia kedua sepanjang sejarah. (*)
Editor : Niklaas Andries