RADARBANYUWANGI.ID - Bayang-bayang kegagalan dalam dua edisi Piala Dunia terakhir masih menghantui Tim Nasional Jerman. Setelah tersingkir secara mengejutkan pada fase grup di Rusia 2018 dan Qatar 2022, Der Panzer kini kembali mengusung misi besar: mengembalikan kehormatan sebagai salah satu kekuatan utama sepak bola dunia.
Sebagai juara dunia empat kali, Jerman memasuki Piala Dunia 2026 dengan tekad kuat untuk menebus serangkaian hasil mengecewakan yang sempat mengguncang fondasi sepak bola nasional mereka.
Kegagalan di Qatar empat tahun lalu menjadi titik terendah baru bagi tim berjuluk Der Panzer. Saat itu, pelatih Hansi Flick masih bertahan selama enam pertandingan sebelum akhirnya meninggalkan kursi kepelatihan setelah rentetan tiga kekalahan beruntun.
Posisinya kemudian digantikan oleh Julian Nagelsmann yang datang menjelang Piala Eropa 2024. Kehadirannya membawa semangat baru melalui regenerasi skuad dan kepercayaan kepada sejumlah pemain muda berbakat.
Meski langkah Jerman di Euro 2024 terhenti pada babak perempat final setelah dikalahkan Spanyol yang kemudian keluar sebagai juara, Nagelsmann melihat banyak sisi positif dari performa timnya.
Ia bahkan secara optimistis menyatakan bahwa Jerman memiliki kapasitas untuk kembali menjadi juara dunia dalam waktu dekat.
Baca Juga: Era Baru Jepang Dimulai, Tokyo Perkuat Militer dan Industri Senjata untuk Hadapi China
Manuel Neuer Kembali dari Pensiun Internasional
Salah satu keputusan paling mengejutkan menjelang Piala Dunia 2026 adalah pemanggilan kembali kiper veteran Manuel Neuer setelah dua tahun pensiun dari tim nasional.
Langkah tersebut menimbulkan tanda tanya karena sebelumnya Nagelsmann memberi sinyal bahwa Oliver Baumann akan menjadi penjaga gawang utama berkat penampilan konsistennya selama fase kualifikasi.
Meski demikian, pelatih berusia 38 tahun itu menilai pengalaman Neuer masih sangat dibutuhkan.
"Semua orang tahu aura yang dimilikinya dan kualitas yang bisa ia bawa ke dalam tim. Kami tidak memiliki masalah di posisi penjaga gawang," ujar Nagelsmann.
Neuer kini menjadi satu-satunya anggota skuad juara dunia 2014 yang masih bertahan dalam tim nasional Jerman. Dengan 124 penampilan internasional, kehadirannya diharapkan memberi ketenangan sekaligus kepemimpinan bagi generasi muda.
Namun, keputusan tersebut juga mengandung risiko. Kiper berusia 40 tahun itu masih kerap dibayangi masalah cedera, termasuk gangguan pada betis yang membuatnya absen dalam final Piala Jerman bersama Bayern Munchen.
Trauma Fase Grup Tidak Ingin Terulang
Kegagalan Jerman pada dua Piala Dunia terakhir berawal dari kekalahan mengejutkan pada laga pembuka.
Di Rusia 2018 mereka tumbang dari Meksiko, sedangkan di Qatar 2022 mereka dipermalukan Jepang.
Karena itu, pertandingan pertama Grup E melawan Curacao pada 14 Juni mendatang menjadi sangat krusial. Secara kualitas, Jerman jauh lebih unggul dan diprediksi mampu meraih kemenangan.
Setelah itu, mereka akan menghadapi Pantai Gading dan Ekuador, dua lawan yang dinilai lebih menantang.
Meski demikian, format baru Piala Dunia yang meloloskan 32 dari 48 peserta ke fase gugur membuat peluang Jerman untuk lolos relatif lebih besar dibanding edisi-edisi sebelumnya.
Kekuatan Serangan Jadi Andalan
Sepanjang kualifikasi, Jerman menunjukkan produktivitas yang cukup baik. Namun, performa mereka melawan negara-negara elite Eropa seperti Prancis, Portugal, dan Spanyol menunjukkan bahwa masih ada pekerjaan rumah yang harus diselesaikan.
Sektor pertahanan menjadi perhatian utama Nagelsmann setelah timnya kebobolan empat gol dalam dua laga uji coba melawan Swiss dan Ghana pada Maret lalu.
Duet Jonathan Tah dan Nico Schlotterbeck masih menjadi pilihan utama di jantung pertahanan, sementara Joshua Kimmich dipercaya mengisi posisi bek kanan meskipun sehari-hari bermain sebagai gelandang di Bayern Munchen.
Baca Juga: Pemprov DKI Hapus Denda Pajak Kendaraan hingga 31 Agustus 2026, Warga Cukup Bayar Pokok Pajak
Di sisi lain, lini depan justru menjadi sumber optimisme.
Absennya Serge Gnabry akibat cedera memang menjadi kerugian, tetapi Jerman masih memiliki sederet pemain kreatif dan eksplosif seperti Jamal Musiala dan Florian Wirtz.
Selain itu, Nagelsmann juga membawa talenta muda berusia 18 tahun, Lennart Karl, yang disebut sebagai kartu truf rahasia setelah pulih dari cedera hamstring.
Baca Juga: Saat Kesepakatan Hampir Jadi, Trump Justru Kirim Proposal Lebih Keras ke Iran
Perpaduan Pengalaman dan Darah Muda
Piala Dunia 2026 menjadi ujian terbesar bagi Nagelsmann sejak menangani tim nasional. Ia berusaha membangun keseimbangan antara pengalaman para pemain senior dan energi generasi baru.
Dengan Neuer sebagai sosok pemimpin di ruang ganti serta Musiala dan Wirtz sebagai motor kreativitas di lapangan, Jerman berharap dapat mengakhiri periode suram yang membayangi mereka selama hampir satu dekade.
Kini, pertanyaan besarnya adalah apakah Der Panzer mampu bangkit dan kembali bersaing memperebutkan trofi dunia, atau justru kembali terjebak dalam kekecewaan seperti dua edisi sebelumnya.
Yang jelas, bagi publik sepak bola Jerman, kegagalan di fase grup untuk ketiga kalinya secara beruntun adalah skenario yang nyaris tak dapat diterima. (*)
Editor : Niklaas Andries