RADARBANYUWANGI.ID - Keputusan pelatih tim nasional Inggris, Thomas Tuchel, mencoret Cole Palmer dari skuad Piala Dunia 2026 menjadi salah satu kejutan terbesar dalam daftar 26 pemain The Three Lions musim panas ini.
Di tengah ekspektasi besar terhadap Palmer sebagai calon bintang utama Inggris di panggung dunia, gelandang serang Chelsea itu justru harus menerima kenyataan pahit tersingkir dari persaingan.
Nama Palmer menyusul sederet pemain tenar lain yang juga dicoret, seperti Phil Foden, Harry Maguire, dan Trent Alexander-Arnold.
Baca Juga: Meski Efisiensi Anggaran, Pemkab Banyuwangi Rehab 134 Sekolah dan Gandeng CSR Swasta
Namun, absennya Palmer terasa lebih mengejutkan karena dalam beberapa musim terakhir ia dianggap sebagai salah satu talenta paling menjanjikan di sepak bola Inggris.
Tuchel Sebut Palmer Kehilangan Pengaruh
Tuchel mengakui bahwa keputusan mencoret Palmer merupakan salah satu momen paling sulit dalam proses pemilihan skuad.
Baca Juga: Tower XL di Jalan Brawijaya Banyuwangi Disegel Satpol PP, Diduga Belum Kantongi Izin Lengkap
Akan tetapi, pelatih asal Jerman tersebut menegaskan bahwa performa terkini tetap menjadi faktor utama dalam menentukan pemain yang dibawa ke Amerika Utara.
“Saya pikir dia mengalami penurunan performa individu di level klub,” ujar Tuchel.
“Dia tidak lagi menentukan permainan atau memberi pengaruh sebesar musim-musim sebelumnya. Bersama tim nasional juga kontribusinya belum cukup menonjol.”
Menurut Tuchel, Palmer beberapa kali mengalami cedera ketika bergabung bersama tim nasional sehingga gagal menunjukkan dampak signifikan yang diharapkan staf pelatih.
Pernyataan itu memang terdengar keras, tetapi dianggap mencerminkan kondisi nyata yang dialami Palmer sepanjang musim 2025-2026.
Dari Calon Bintang Dunia Menjadi Korban Penurunan Performa
Sejak meninggalkan Manchester City dan bergabung dengan Chelsea, Palmer berkembang menjadi salah satu pemain muda paling menarik di Liga Inggris.
Baca Juga: Jemaah Haji Kloter 85 Banyuwangi Dapat Pembekalan Konsumsi Armuzna, Siap Hadapi Puncak Haji
Gaya bermainnya yang tenang, kreativitas tinggi, serta kemampuan mencetak gol dari berbagai situasi membuatnya sempat diproyeksikan sebagai masa depan lini serang Inggris.
Pada musim pertamanya bersama Chelsea, Palmer mencetak 25 gol dan meraih penghargaan Pemain Muda Terbaik Liga Inggris 2023-2024.
Ia juga mencetak gol di final UEFA Euro 2024 serta memberi assist penting untuk gol kemenangan Ollie Watkins pada semifinal.
Baca Juga: Bus Shalawat Disterilkan Jelang Armuzna, Jemaah Haji Banyuwangi Fokus Jaga Stamina di Hotel
Musim lalu, meski Chelsea tampil inkonsisten, Palmer masih mampu mencatatkan 18 gol dan 14 assist di semua kompetisi sekaligus membantu klub menjuarai Liga Konferensi UEFA dan Piala Dunia Antarklub.
Namun, performanya perlahan menurun drastis.
Statistik Palmer Mulai Mengkhawatirkan
Di Liga Inggris musim ini, Palmer memang masih mencetak sembilan gol. Akan tetapi, pengaruhnya dalam permainan dinilai jauh berkurang dibanding musim sebelumnya.
Ia beberapa kali dimainkan melebar di sisi kanan maupun kiri, bukan di posisi favoritnya sebagai playmaker di belakang striker.
Perubahan peran tersebut membuat efektivitas Palmer menurun tajam.
Dalam 17 penampilan terakhirnya, ia hanya mampu mencetak satu gol. Situasi itu membuat Tuchel akhirnya lebih memilih pemain lain yang sedang berada dalam performa lebih stabil.
Baca Juga: Pemdes Tegalharjo Banyuwangi Bangun Jalan Dusun Terpencil Lewat Kolaborasi dengan Perkebunan
Nama seperti Morgan Rogers dan Eberechi Eze dinilai memberikan kontribusi lebih konsisten menjelang turnamen.
Masalah Besar Palmer Bukan Sekadar Satu Musim Buruk
Absennya Palmer dari Piala Dunia juga memunculkan kekhawatiran lain.
Banyak pihak menilai penurunan performa pemain berusia 24 tahun itu bukan sekadar fase singkat, melainkan pola inkonsistensi yang mulai terlihat dalam beberapa periode terakhir.
Baca Juga: Pemdes Tegalharjo Banyuwangi Bangun Jalan Dusun Terpencil Lewat Kolaborasi dengan Perkebunan
Palmer memang kerap tampil luar biasa dalam rentang tertentu, tetapi kesulitan menjaga level performanya sepanjang musim.
Ia sempat tampil sensasional pada Desember hingga Januari dengan mencetak tujuh gol dalam sembilan pertandingan. Namun setelah itu produktivitasnya anjlok drastis.
Dalam 23 laga berikutnya bersama Chelsea, Palmer hanya mampu mencetak satu gol.
Faktor kelelahan fisik maupun mental disebut menjadi salah satu penyebab utama. Sebagai pusat kreativitas tim, Palmer memikul tekanan besar hampir sepanjang musim.
Selain itu, situasi internal Chelsea yang terus berubah juga dianggap memengaruhi ritme permainannya.
Xabi Alonso Punya Tugas Besar Selamatkan Karier Palmer
Kini perhatian tertuju pada pelatih baru Chelsea, Xabi Alonso, yang diyakini memiliki peran penting mengembalikan performa Palmer.
Alonso diharapkan mampu memberi kejelasan posisi bermain, membangun kembali kepercayaan diri sang pemain, serta menjaga kreativitas alami Palmer agar tidak hilang karena tekanan besar.
Baca Juga: Harga Sapi Kurban di Pasar Hewan Glenmore Banyuwangi Meroket, Tembus Rp 50 Juta per Ekor
Meski gagal tampil di Piala Dunia 2026, karier Palmer diyakini belum berakhir.
Usianya masih muda dan kualitasnya tetap diakui sebagai salah satu talenta terbaik Inggris saat ini.
Sepak bola memang bisa sangat kejam, tetapi dunia sepak bola juga selalu memberi kesempatan kedua bagi pemain berbakat yang mampu bangkit dari keterpurukan. (*)
Editor : Niklaas Andries